Islam dan Lingkungan: Berdamai dengan Bumi, Berdamai dengan Langit

Mahasiswa program studi Perbandingan Madzhab dan anggota KPA Arkadia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nur Muhammad Fadhil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isu-isu lingkungan masih menjadi pembahasan hangat, baik di lingkup nasional maupun internasional. Perubahan iklim, deforestasi, polusi udara dan air, hingga krisis sampah plastik adalah realitas global yang memerlukan perhatian serius. Berbagai pihak, mulai dari ilmuwan, aktivis, hingga tokoh agama, menjadikan masalah lingkungan sebagai topik prioritas dalam berbagai forum strategis.
Dalam berbagai aspek kehidupan, isu lingkungan hidup tidak hanya menjadi perhatian, namun juga menjadi tantangan besar. Dalam konteks ekonomi, kerusakan lingkungan dapat menghancurkan sumber penghidupan, merusak ekosistem lokal, dan menggoyahkan stabilitas sosial masyarakat. Ketika sungai tercemar, tanah kehilangan kesuburannya, dan udara tak lagi layak dihirup, yang terdampak bukan hanya makhluk hidup lainnya—tetapi juga manusia itu sendiri.
Islam dan Komitmen Etika Lingkungan
Islam, sebagai agama yang sempurna dan menyeluruh, memberikan perhatian besar terhadap keberlangsungan dan keseimbangan alam semesta. Ajarannya tidak hanya mengatur urusan ibadah individual, tetapi juga mencakup hubungan sosial, ekonomi, dan hubungan manusia dengan alam.
Pembahasan mengenai Islam dan lingkungan hidup sesungguhnya bukanlah wacana baru. Para ilmuwan dan ulama terdahulu telah mengkaji keterkaitan antara nilai-nilai Islam dengan etika ekologis. Dalam Al-Qur’an dan Hadis, terdapat banyak ayat dan perintah yang menegaskan pentingnya menjaga alam, yang tidak hanya dilihat sebagai ciptaan Allah, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi adalah: mereka dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kaki mereka secara bersilang, atau dibuang dari negeri mereka. Itulah kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar." (QS Al-Ma’idah: 33)
Ayat tersebut menunjukkan betapa seriusnya Islam mengecam perusakan bumi. Kerusakan alam bukanlah hal sepele, melainkan bentuk kezaliman dan pengkhianatan terhadap amanah Tuhan.
Konsep Khalifah dan Ekoteologi Islam
Islam memposisikan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi, yang artinya manusia diberi tanggung jawab, bukan kebebasan tak terbatas. Tugas manusia adalah menjaga tatanan alam, bukan mengeksploitasinya tanpa batas. Dalam surah Ar-Rahman, Allah menggambarkan penciptaan alam dengan "timbangan" (mīzān), yang artinya keseimbangan. Maka tugas manusia adalah menjaga mīzān itu tetap stabil.
Dalam Islam, semua makhluk hidup adalah bagian dari komunitas yang sama. Al-Qur’an menyebutkan:
"Dan tidak ada seekor binatang pun di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka adalah umat-umat (makhluk) seperti kamu juga." (QS Al-An’am: 38)
Ini menegaskan bahwa hewan dan makhluk lain memiliki nilai dan hak hidup, sebagaimana manusia.
Etika Islam juga mengajarkan prinsip tidak berlebih-lebihan (israf) dan larangan merusak (fasad). Bahkan dalam hal ibadah seperti wudhu, Rasulullah SAW mengajarkan agar kita tidak boros air, meskipun berwudhu di sungai yang mengalir deras. Artinya, kesadaran ekologis tertanam bahkan dalam praktik keagamaan sehari-hari.
Kisah Inspiratif: Mbah Amin dan Filosofi Tanah
Sebagai contoh nyata dari penerapan nilai-nilai Islam dalam menjaga lingkungan, kita dapat belajar dari kisah Mbah Amin, seorang petani tua di lereng Gunung Lawu. Setiap hari ia mengawali aktivitas dengan berdoa di depan kebunnya yang asri. Ia memperlakukan tanah seperti sahabat, bahkan seperti seorang ibu. "Kalau tanah ini disakiti, dia akan murka. Tapi kalau kita rawat, dia akan memberi lebih dari yang kita tanam," tuturnya.
Mbah Amin menolak menggunakan pupuk kimia dan pestisida berbahaya. Ia membiarkan ayam-ayam dan bebek-bebek membantu membersihkan hama, dan menanam pohon perdu untuk menjaga kelembaban tanah. Hasil panennya tidak melimpah, namun cukup, dan yang terpenting: berkah.
Apa yang dilakukan Mbah Amin sesungguhnya adalah praktik ekoteologi Islam. Ia tidak hanya menanam benih di tanah, tetapi juga menanam cinta, kesadaran, dan amanah kepada Tuhannya.
Menjadi Khalifah yang Bertanggung Jawab
Untuk berdamai dengan bumi, manusia terlebih dahulu harus berdamai dengan langit. Maksudnya, kehidupan yang berkelanjutan hanya bisa terwujud jika manusia kembali pada nilai-nilai spiritual yang luhur—nilai-nilai Islam yang mengajarkan keseimbangan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama makhluk.
Kini saatnya kita merenung: Sudahkah kita menjaga bumi ini sebagaimana mestinya? Sudahkah kita menjadi khalifah yang bertanggung jawab, atau justru menjadi perusak yang menanggalkan amanah?
Bumi ini bukanlah milik kita semata, melainkan titipan yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dan kelak, atas titipan itu, kita akan diminta pertanggungjawaban.
