Konten dari Pengguna

Menyiarkan Budaya Indonesia di Medsos

Nurfaizah PN

Nurfaizah PN

Mahasiswi Antropologi Sosial Universitas Diponegoro Semarang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurfaizah PN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tari Cendrawasih pada pertunjukan budaya Indonesia dalam rangka Indonesian Day di Kazan Federal University (29/11/2019).
 Foto: Dok: KBRI Moskow.
zoom-in-whitePerbesar
Tari Cendrawasih pada pertunjukan budaya Indonesia dalam rangka Indonesian Day di Kazan Federal University (29/11/2019). Foto: Dok: KBRI Moskow.

Membahas perihal perkembangan media khususnya televisi tentu membuat saya terpantik untuk mengeluarkan keresahan mengenai hal ini. Televisi adalah media besar untuk mendapatkan informasi dan bisa juga difungsikan untuk melihat bagaimana keadaan suatu bangsa, karena saya rasa tontonan itu mencerminkan keadaan orang-orang yang menontonnya.

Seperti yang kita ketahui bersama televisi Indonesia saat ini tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka sajikan. Tontonan yang ada di televisi hanya berisi berita gosip, sinetron bertema romansa, atau mungkin ada beberapa stasiun televisi yang masih menyajikan program yang apik untuk perkembangan bangsa.

Hal yang menjadi dasar mereka untuk menyajikan sebuah program pun bukan lagi tujuan yang jelas tapi hanyalah rating. Nah, oleh karena pihak dari televisi banyak menganggap bahwa informasi gosip selebriti serta sinetron romansa remeh temeh amat disukai oleh para penonton Indonesia, berangkatlah mereka untuk terus membuat program semacam itu. Padahal saya rasa, para penonton menyukai tontonan seperti itu karena televisi terlebih dahulu yang menyajikan tontonan itu. Andai saja dari pihak televisi kompak untuk menyajikan program yang berkualitas pasti para penonton pun lama-kelamaan akan menyukai pula tontonan seperti itu dan rating pun tidak lagi menjadi masalah.

Foto: Arsip pribadi

Namun, karena memang bagi pihak televisi kondisinya sudah amat nyaman bagi dompet-dompet mereka, jadi agak susah untuk muncul suatu gebrakan revolusi industri per-televisian. Tetapi, perlu diketahui pula bahwa televisi pun mulai mendapatkan persaingan dari media indie yakni youtube. Mungkin, karena posisinya di platform youtube orang-orang bebas menunjukkan hasil karya mereka sehingga menjadi daya tarik lebih bagi masyarakat untuk meninggalkan televisi dan beralih ke youtube.

Mirisnya, dalam beberapa program di televisi pun ada yang menyajikan program yang berisi cuplikan-cuplikan yang ada di youtube dan sosial media. Sebenarnya ini menarik jika kita ingin melihat ke depan, bahwa televisi dapat kehilangan perannya sebagai pusat tontonan dan informasi jika mereka sendiri tidak mau berusaha keras serta mengevaluasi tontonan yang mereka sajikan. Saya rasa perlu adanya dialog interaktif bagi para pemilik televisi untuk mengumpulkan power dan mengembalikan fungsi televisi seperti sediakala dan mempertimbangkan skema tontonan yang mereka sajikan nantinya akan seperti apa.

Hal ini sangat penting karena jika televisi dibiarkan seperti saat ini maka seolah-olah mereka sepakat untuk mengarahkan bangsa Indonesia yang berperan sebagai penonton menjadi generasi yang ‘lembek’ dan tumpul kekritisan cara berpikirnya.

Selain itu, banyak pula cerita webtoon dan wattpad yang diangkat menjadi film layar lebar maupun series yang kemudian ditayangkan di televisi. Sayangnya, cerita yang diangkat adalah romansa anak muda menye-menye yang tidak ada unsur budaya Indonesia. Padahal sudah jarang, ada film atau series yang mengisahkan budaya Indonesia yang kian makin hari makin tergusur eksistensinya.

Foto: Arsip pribadi

Sebenarnya bisa saja para penulis webtoon dan wattpad mengkolaborasikan ciptaan tulisan mereka dengan budaya Indonesia. Misalnya, kisah Bima yang memperjuangkan cinta nya pada Arimbi dengan segala liku yang ia tempuh, hingga Arimbi yang meninggal demi berkorban untuk menyelamatkan anak mereka. Old but gold, begitulah istilah yang cocok untuk cerita lama namun menarik jika di ingat.

Perlu adanya gebrakan baru agar budaya Indonesia tak terkikis oleh cerita-cerita webtoon dan wattpad yang selalu bertemakan romansa picisan. Yaitu dengan mewajibkannya para penulis webtoon dan series untuk membumbui cerita yang mereka buat dengan budaya Indonesia. Sebetulnya tak mesti hanya budaya Indonesia, namun sesuatu yang sangat relatable dengan sejarah Indonesia. Dengan begitu, masyarakat yang menikmati film atau series yang diangkat dari webtoon dan wattpad akan mulai melek dengan budaya Indonesia disajikan.

Setiap hal baru pasti akan selalu terasa sulit, namun tak ada salahnya jika dicoba. Dengan gebrakan itu, pelan-pelan akan mengubah sesuatu yang sudah lama luntur menjadi hidup kembali. Dimulai dari cerita, lalu dijadikan film atau series, kemudian backsound yang menghiasi bernadakan atau bercirikan budaya Indonesia (sebagai contoh, Lathi), makanan dan minuman yang disajikan juga harus bercirikan Indonesia, misalnya ale-ale atau dukuh (buah yang hanya di Indonesia) dan juga pakaian yang dikenakan oleh aktor bisa menginsprasi para designer atau pembuat baju untuk merancang kostum yang mengidentitaskan Indonesia. Itu semua bisa menjadi kolaborasi yang baik jika kita mau mewujudkannya bersama-sama.

Agak sulit mungkin untuk menarik minat penulis, namun bisa di atasi dengan diadakannya award dan reward seperti layaknya “Indonesia Movie Award” dan hadiah menarik oleh bidang pemerintahan yang berkaitan dengan seni dan budaya, maupun industry perfilm-an Indonesia.