Konten dari Pengguna

Ketika Banjir Datang Lagi: Bencana Alam atau Alarm yang Diabaikan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurhalimah Putri Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Musim hujan kembali membawa cerita lama, banjir di mana-mana. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Semarang, hingga daerah pedesaan pun tak luput dari genangan air yang melumpuhkan aktivitas warga.

Pertanyaannya bukan lagi "kenapa banjir?", tapi "kenapa selalu terulang?". Seolah banjir sudah jadi agenda tahunan yang hanya ditanggapi dengan keluhan dan rutinitas pengungsian.

Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi

Bencana Alam atau Kesalahan Manusia?

Memang, curah hujan tinggi bisa jadi penyebab utama. Tapi faktanya, hujan deras tak selalu berarti banjir jika tata kelola lingkungannya baik.

Alih fungsi lahan, pembangunan tanpa henti, minimnya daerah resapan, hingga sungai yang dipenuhi sampah adalah rangkaian kesalahan manusia yang memperparah situasi. Banjir bukan hanya soal alam, tapi juga hasil dari kebijakan yang lalai dan perilaku masyarakat yang abai.

Rakyat Jadi Korban, Pemerintah Kemana?

Di media sosial, video warga yang terdampak banjir terus bermunculan. Rumah tergenang, barang hanyut, bahkan ada yang kehilangan nyawa. Sayangnya, penanganan dari pihak berwenang sering kali datang telat atau setengah hati.

Yang menyedihkan, banyak masyarakat seakan sudah "ikhlas" hidup dengan bencana tahunan ini. Padahal, tugas negara adalah melindungi rakyat termasuk dari bencana yang bisa dicegah dengan perencanaan yang matang.

Alam Sedang Bicara, Kita Mau Dengar?

Setiap bencana adalah alarm. Banjir bukan hanya genangan air, tapi pesan yang jelas: "Ada yang tidak beres dengan cara kita hidup". Alarm memberi sinyal lewat banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem lainnya. Tapi jika kita terus membungkam suara itu dengan dalih "sudah biasa", maka bersiaplah untuk bencana yang lebih besar.

Butuh Tindakan, Bukan Sekedar Simpati

Saatnya semua pihak bergerak: pemerintah, pengembang, hingga masyarakat. Tata ruang harus dievaluasi, penghijauan diperluas, sistem drainase dibenahi, dan yang tak kalah penting yaitu edukasi soal lingkungan harus ditanamkan sejak dini.

Simpati dan doa penting. Tapi tak cukup. Yang dibutuhkan adalah sistem yang kuat dan kesadaran kolektif bahwa bumi ini harus dirawat, bukan dieksploitasi terus-menerus.

Banjir Bukan Takdir

Banjir memang tak selalu bisa dihindari, tapi kerusakan dan korban jiwa bisa dicegah jika kita serius. Jangan tunggu sampai rumahmu kebanjiran, barulah peduli. Karena kalau kita diam saja, mungkin tahun depan dan tahun-tahun setelahnya kita akan menulis artikel yang sama lagi.