Konten dari Pengguna

Ironi Fatherless Country Indonesia, Bangsa yang Mencari Sosok Ayah

Nurhaliza Fariz Santi

Nurhaliza Fariz Santi

Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurhaliza Fariz Santi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ayah main lempar anak ke udara. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ayah main lempar anak ke udara. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock

Akhir-akhir ini ramai terkait isu bahwa Indonesia memperoleh predikat sebagai negara fatherless ketiga di dunia. Hal ini tentu bukanlah sebuah prestasi yang patut dibanggakan, melainkan sesuatu yang harus dibenahi oleh bangsa ini.

Indonesia Negara Fatherless Ketiga di Dunia

Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara fatherless atau father hunger terbanyak di dunia. Fenomena fatherless ini merupakan akibat dari hilangnya peran sosok ayah dalam kehidupan anak. Ketiadaan peran ayah tersebut dapat berupa ketidakhadiran secara fisik maupun psikologis dalam kehidupan anak.

Fenomena fatherless ini muncul sebagai akibat dari perceraian, pernikahan jarak jauh, kesibukan orang tua, serta kematian ayah. Kurangnya keterlibatan peran ayah dalam pengasuhan anak menyebabkan anak-anak di Indonesia mengalami father hunger atau “lapar akan sosok ayah”. Kondisi ini menjadikan anak-anak di Indonesia tumbuh dengan mengalami kerusakan psikologis.

Bahaya Fatherless Terhadap Psikologis Anak

Peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dalam mendukung dan mendampingi proses tumbuh kembang anak. Kehilangan salah satu sosok orang tua dalam proses pertumbuhan anak dapat berdampak buruk bagi kondisi psikologis anak.

Berikut beberapa dampak fatherless bagi kondisi psikologis anak:

  1. Mengalami kondisi psikologis yang tidak matang (kekanak-kanakan/childish).

  2. Tidak mandiri (dependent).

  3. Memiliki masalah mental.

  4. Kesulitan menetapkan identitas seksual (cenderung feminim atau hypermasculine).

  5. Kesulitan dalam belajar.

  6. Sulit berkomunikasi dan memecahkan masalah.

  7. Berpotensi memiliki hubungan yang rumit dengan pasangannya kelak.

Satu hal yang menghalangi pria menjadi seorang ayah yang baik yaitu dia belum selesai menjadi anak laki-laki.” -Iyanla Vanzant.

Ilustrasi anak yang mengalami fatherless. Sumber: Shutterstock.com

Lantas, Bagaimana Seorang Ayah Dapat Menunjukkan Perannya dalam Mendampingi Tumbuh Kembang Anak?

Tak dapat dimungkiri bahwa kesibukan seorang ayah untuk mencari nafkah merupakan prioritasnya sebagai kepala keluarga. Namun, perlu diingat bahwa peristiwa tumbuh kembang anak merupakan hal yang tidak dapat terulang untuk kedua kalinya.

Untuk itu, seorang ayah perlu meluangkan waktunya untuk menemani setiap fase kehidupan anak. Nah, berikut merupakan hal yang perlu dilakukan oleh seorang ayah agar dapat meningkatkan kedekatan (bonding) dengan anak.

1. Bermain dengan Anak

Salah satu cara terbaik untuk menjalin ikatan dengan anak adalah dengan bersenang-senang bersama. Selain meningkatkan bonding dengan, bermain bersama juga dapat melatih keterampilan sosial anak seperti menyikapi dirinya saat menjadi pemenang dan bagaimana menerima kekalahan.

2. Terlibat dalam Kegiatan Sekolah Anak

Ayah dapat berinteraksi dan terlibat dalam kegiatan sekolah anak entah dengan hadir di acara yang diikuti anak di sekolah atau sekadar membantu mengerjakan pekerjaan rumah anak.

3. Membiarkan Anak untuk Membantu

Anak-anak secara alami akan senang membantu karena memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ayah dapat memberi tugas dan tanggung jawab agar dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka.

4. Menemani Menjelang Waktu Tidur

Ilustrasi anak manja dengan ayah. Foto: Shutter Stock

Waktu tidur merupakan kesempatan bagus untuk mengobrol dengan anak tentang segala hal yang terjadi di hari tersebut. Dengan berbagi cerita membuat anak merasa dihargai dan dicintai serta membuat anak menjadi pribadi yang lebih terbuka (open minded).

5. Tunjukkan Rasa Sayang kepada Anak Setiap Hari

Lakukan hal-hal kecil yang menunjukkan rasa sayang kepada anak seperti menanyakan kabar, memberi pelukan, merencanakan hal di akhir pekan, dan memperhatikan ketika anak berbicara.

Menjadi negara fatherless peringkat ketiga di dunia bukanlah hal yang patut dibanggakan oleh bangsa Indonesia. Melalui fenomena tersebut, kita menjadi sadar bahwa peran ayah juga tak kalah penting dengan peran ibu.

Kehilangan peran ayah dapat berdampak pada kerusakan psikologis anak. Itulah sebabnya para ayah jangan sampai melewatkan momen tumbuh kembang sang buah hati.