Konten dari Pengguna

Gunung Lawu yang Indah Bagaikan Candu

Nuri Anjani

Nuri Anjani

Bachelor of Arabic Literature

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nuri Anjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Lawu terletak di perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ketinggian 3265 mdpl. Gunung Lawu memiliki empat jalur pendakian, yaitu: via Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Singolangu, Tambak, dan Candi Cetho.

Bagi kamu yang ingin melihat indahnya sabana Gunung Lawu, maka saya sarankan untuk mendaki Gunung Lawu via Candi Cetho, Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah.

Meskipun terdiri dari delapan pos dengan jalur yang menantang, tetapi itu semua akan terbayarkan dengan indahnya pemandangan.

Langkah demi langkah, tantangan demi tantangan, dan pelajaran demi pelajaran memiliki kesan tersendiri yang akan membekas dalam ingatan!

Tips sebelum mendaki

Minimal seminggu sebelum mendaki, saya sarankan kamu untuk persiapan fisik, menyiapkan perlengkapan outdoor, logistik, dan lain-lain. Segala ikhtiar persiapan fisik bisa kamu lakukan, seperti lari pagi setiap hari, senam aerobik setiap sore, istirahat yang cukup, dan jangan lupa makan makanan yang bergizi.

Sedikit tips dari saya, cobalah untuk menahan diri dari makanan pedas dan minuman dingin demi kesehatan fisik sebelum, saat, dan sesudah pendakian.

Kemudian, tentukan waktu pendakian dan manajemen waktu yang tepat. Kapan pun waktu yang kamu pilih, jangan lupa membuat planning sebelum pendakian. Misalnya, akan mendirikan tenda di pos berapa, summit attack yang berapa, turun dari puncak jam berapa, dan lain-lain. Yang terpenting, jangan lupa menyelesaikan administrasi sesuai ketentuan dari basecamp demi keselamatan dan keamanan semua pihak.

Saya memulai pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho pada pagi hari. Bagi kamu yang menghindari pendakian malam hari, kamu wajib membaca tulisan ini sampai akhir. Siapa tahu, ini akan menjadi acuan atau alternatifmu saat mendaki Gunung Lawu via Candi Cetho.

Petualangan dimulai!

Menuju pos 1 Gunung Lawu via Candi Cetho. (dok.pribadi/Nuri Anjani)

Langkah kaki dimulai dari Candi Kethek menuju pos 1 atau pos Mbah Branti. Ketika perjalanan menuju pos 1, kamu akan diberi fasilitas oleh alam berupa shetler di sebelah kiri jalur pendakian. Vegetasi alam didominasi oleh pohon pinus yang menjulang tinggi dengan medan landai beralas tanah yang sedikit terjal. Sesekali kamu bisa berhenti melangkah, beristirahat, dan menyempatkan minum untuk menghilangkan haus dahaga. Untuk menuju pos 1 pada ketinggian 1702 mdpl, membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 45 menit.

Melangkah menuju pos 2

Medan menuju pos 2 sudah mulai terjal. Jalur pendakian yang sempit dan shetler yang lebih tertutup mungkin membuatmu kebingungan untuk mencari tempat beristirahat. Akan tetapi, jangan khawatir! Saya rasa itu tidak akan menjadi masalah. Alihkan perhatian ke sekeliling pos 2 yang didominasi oleh pohon damar dan puspa. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 55 menit, kamu akan sampai di pos 2 atau pos Brak Seng di ketinggian 1906 mdpl. Di sana, banyak pepohonan dan tempat beristirahat yang lumayan luas. Kamu akan disuguhi angin sumilir yang membuat rasa lelahmu hilang.

Tips dari saya, kamu harus memanfaatkan waktu istirahat dengan baik. Kamu bisa menyempatkan untuk mengisi energi (makan dan minum), meluruskan kaki jika mulai pegal, atau sekadar membersihkan wajah dari debu.

Sumber air di pos 3

Tantangan muncul ketika menuju pos 3, karena rata-rata medan pendakian yang terjal. Kebetulan saya mendaki pada musim kemarau, alas tanah yang kering dan berdebu membuat mata saya kelilipan setiap pendaki lain menghentakkan kaki ketika melangkah. Waktu tempuh menuju pos 3 kurang lebih 1 jam 20 menit. Setelah melewati medan pendakian dengan alas tanah yang kering dan berdebu, mungkin kamu akan merasakan keanehan karena tiba-tiba tanah di jalur pendakian menjadi licin. Ternyata, itu sebagai tanda bahwa pendaki sudah mendekati pos 3 atau pos Cemoro Dowo di ketinggian 2251 mpdl yang terdapat sumber air yang jernih dan alami.

Pastikan kamu antusias untuk memanfaatkan sumber air tersebut dengan baik, ya!

Sunset yang mempesona

Sunset menuju pos 5 Gunung Lawu via Candi Cetho. (dok.pribadi/Nuri Anjani)

Kamu akan melewati medan yang sedikit terjal menuju pos 4. Jalur pendakian terbuka dan kamu dapat melihat cahaya matahari mulai terbenam. Pemandangan menuju pos 4 sangat indah, cahaya matahari menyinari bukit-bukit berisi pohon pinus dipadukan langit biru nan cantik. Kamu membutuhkan waktu tempuh kurang lebih satu setengah jam untuk sampai di pos 4 atau pos Penggik di ketinggian 2550 mdpl.

Ketika saya mendaki, waktu menunjukan pukul 17:11 WIB. Mentari mulai terbenam, saya terpesona dengan lukisan Tuhan yang sangat indah. Saya yakin kamu akan terpesona ketika melihatnya. Sunset di perjalanan menuju pos 5 akan membuatmu berhenti sejenak untuk menikmatinya dan mengabadikan dengan mengambil gambar yang sempurna. Waktu tempuh dari pos 4 menuju pos 5 kurang lebih satu jam.

Ketika hari mulai gelap, kamu harus menyiapkan senter. Mulailah berjalan dengan hati-hati dan jangan sampai terpisah dari rombongan.

Kala itu, saya memutuskan untuk mendirikan tenda di area camp pos 5 atau Bulak Peperangan. Karena berada di ketinggian 2861 mdpl, suhu dingin sangat terasa. Bagi kamu yang tidak kuat menahan rasa dingin yang luar biasa, jangan lupa mengganti pakaianmu, membuat makanan dan minuman hangat, serta tidur lebih awal.

Menyambut fajar di sabana

Gupak Menjangan. (dok.pribadi/Nuri Anjani)

Hari sudah berganti. Biasanya, beberapa pendaki rela bangun dini hari untuk menyambut fajar atau menikmati hangatnya sunrise di puncak. Akan tetapi, ada juga beberapa pendaki yang memilih menikmati sunrise di perjalanan menuju puncak.

Jika kamu memutuskan untuk kembali melanjutkan pendakian bakda subuh, kamu akan sampai di Gupak Menjangan kurang lebih pukul 06:00 WIB. Gupak Menjangan berada pada ketinggian 2952 mdpl. Waktu tempuh dari pos 5 menuju Gupak Menjangan kurang lebih 40 menit. Sampai di sana, cobalah memandang sekelilingmu, kamu akan melihat pepohonan pinus dan sabana yang luas. Gupak Menjangan dapat menjadi spot fotografi yang menarik dengan background sabana yang indah. Jujur, saya belum melihat sabana seindah itu.

Pemandangan yang sempurna terbentuk secara alami: perpaduan warna hijau dari sabana, biru dari langit, dan emas dari sinar mentari.

Negeri di atas awan

Lanjut ke pos Pasar Dieng yang berada di ketinggian 3104 mdpl. Vegetasinya didominasi oleh bebatuan yang tersusun rapi dan beberapa tempat ditumbuhi pohon cantigi. Waktu tempuh dari Gupak Menjangan kurang lebih 25 menit. Kemudian, menuju ke Hargo Dalem pada ketinggian 3142 mdpl. Waktu tempuh dari Pasar Dieng menuju Hargo Dalem kurang lebih 25 menit. Medannya beralas batu campur tanah dan sedikit terjal. Di Hargo Dalem, terdapat banyak pondok yang biasa digunakan untuk ritual. Selain itu, Hargo Dalem terkenal dengan adanya warung Mbok Yem sebagai warung tertinggi di Indonesia.

Ketika itu, kamu akan menyadari bahwa kamu berada di negeri di atas awan. Sangat menakjubkan!

Selangkah menuju puncak

Bunga Edelweis. (dok.pribadi/Nuri Anjani)

Waktu menuju puncak kurang lebih 15 menit. Medan menuju puncak sangat terjal dan berdebu. Selain itu, terdapat batu yang tidak beraturan di jalur pendakian sehingga harus berhati-hati memilih jalan. Kala itu, tepat pukul 08:21 WIB, saya berhasil memijakkan kaki di Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu. Saya yakin, di ketinggian 3265 mdpl, lelahmu akan terbayarkan oleh pemandangan yang sangat indah. Kamu juga akan menemukan bunga edelweis yang cantik tumbuh di sekitar puncak. Melihat semua keindahan yang ada, untuk itu jangan lupa untuk mengabadikannya.

Pulang membawa rekam jejak

Perjalanan turun dari puncak menuju basecamp akan terasa cepat. Langkah demi langkah sudah terlewati. Delapan pos pendakian dilewati dengan penuh suka cita dan duka lara. Kelelahan, kedinginan, dan kepanasan terbayarkan oleh keindahan di seluruh sudut Gunung Lawu. Saya pribadi merasa terharu karena berhasil berdiri di puncak Hargo Dumilah 3265 mdpl dan berhasil turun dengan selamat. Keindahan Lawu yang sering saya lihat di media sosial, berhasil saya buktikan sendiri. Ternyata lebih indah dan menawan!

Setiap perjalanan akan selalu bermakna. Seperti halnya pendakian, setiap tantangan ada kesabaran dan setiap keindahan muncul rasa syukur akan ciptaan Tuhan.

Saya berharap kamu merekam keseluruhan perjalanan yang berkesan dan istimewa di memorimu. Baik itu orang-orangnya, pemandangannya, suasananya, maupun moment yang tercipta.

Pada akhirnya, hingga kini saya menyadari sangat disayangkan jika pensiun dari dunia pendakian. Masih banyak keindahan gunung-gunung di Indonesia yang akan membuat diri ini kecanduan akan keindahannya. Selamat bertadabur alam!