Konten dari Pengguna

Hikayat Abu Nawas : Meningkatkan Literasi Membaca Anak

nurihandayani24

nurihandayani24

Masih belajar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nurihandayani24 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Nuri Handayani

Hikayat merupakan bentuk karya sastra prosa, terutama pada Bahasa Melayu yang berisikan suatu kisah atau dongeng. Biasanya di dalam kisahnya menceritakan tentang kesaktian, keanehan, dan berbagai mukjizat yang diterima oleh para tokoh. Hikayat dibacakan sebagai bentuk pembelajaran hidup, lelucon, dan untuk membangkitkan semangat.

Kisah Abu Nawas sangat populer oleh negeri Arab dan Persia melalui cerita- cerita dalam hikayat seribu satu malam. Selain itu, kisah ini juga tercatat pada manuskrip Nusantara. Salah satunya adalah Hikayat Abu Nawas koleksi Perpustakaan Nasional RI.

Sejarah Hikayat Abu Nawas

Hikayat Abu Nawas termasuk dalam genre sastra Islam yang serumpun dengan Hikayat Zulkarnain dan Hikayat Amir Hamzah. Menurut Branginsky (1998 : 242), karya zaman Islam awal yang berasal dari sastra Parsi atau Indo-Parsi, yang merupakan satu komponen yang sangat penting dalam sastra Melayu pada periode klasik.

Tokoh Abu Nawas dikisahkan hidup pada masa pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid. Dalam sejarah Islam, diceritakan pada masa Harun Al Rasyid inilah ilmu pengetahuan sangat berkembang pesat.Karena melahirkan banyak ilmuwan besar, serta nama pujangga dan penyair dengan karyanya yang populer hingga kini.

Naskah Hikayat Abu Nawas tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Pendataan naskah Hikayat Abu Nawas di Indonesia pertama kali dilaksanakan pada tahun 1909 oleh van Ronkel, pendataan kedua pada tahun 1966 oleh Howard, pendataan ketiga pada tahun 1972 oleh Sutaarga, dan terkahir pendataan keempat pada tahun 1998 oleh Behrend.

Aksara yang digunakan dalam naskah hikayat Abu Nawas adalah aksara Jawi. Sampul naskah yang digunakan berwarna coklat dengan bahan karton tebal coklat disertai bintik- bintik merah, lalu tepi naskahnya juga diberi lakban. Kertas yang digunakan dalam naskahnya berbahan kertas, naskah saat ini juga masih bagus dan tidak banyak mengalami kerusakan karena disimpan dengan baik. Naskah kuno ini berbahasa Melayu dengan aksara Jawi. Aksara Jawi atau Arab gundul adalah aksara Melayu yang mengadopsi sistem aksara Arab dengan tambahan aksara rekaan untuk menulis fonologi bahasa Melayu.

Hikayat Abu Nawas Meningkatkan Literasi Membaca Anak

Di dalam Hikayat Abu Nawas mengisahkan tentang kecerdikan Abu Nawas dalam menghindari berbagai masalah serta menyelipkan kelucuan di dalam ceritanya. Selain itu, terdapat pula beberapa sindiran yang terdapat di naskahnya. Naskah Hikayat Abu Nawas ini memerlukan adanya penelitian yang bersifat filologis. Studi filologi di Indonesia adalah studi yang berupaya mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung pada masyarakat masa lalu melalui karya-karya sastranya. Biasanya dalam suatu naskah juga akan mengandung pesan tertentu di dalamnya, dimana akan berhubungan dengan filsafat hidup. Dengan adanya naskah yang diteliti dalam filologi ini, kemudian menjadikan kehidupan masa lampau dapat dipelajari di masa kini, dan juga sebagai literasi membaca yang menarik bagi anak. Oleh karena itu, penelitian terhadap naskah Hikayat Abu Nawas perlu dilakukan lebih mendalam seperti menerjemahkan naskahnya lalu dijadikan sebuah buku, dengan tujuan agar masyarakat terutama anak-anak dapat lebih mengenal naskah ini melalui edisi teks serta ilustrasi, karena literasi merupakan hal yang sangat penting dilakukan sejak dini karena dinilai mampu membuat anak menjadi cerdas secara akademik, serta ilustrasi yang disediakan dalam cerita dapat membuat anak memiliki pola pikir yang kritis. Hikayat Abu Nawas inilah yang sangat tepat untuk dijadikan sebagai bahan literasi cerita dongeng bagi anak, karena terdapat banyak pesan moral serta terselip hiburan, jadi perlu sekali untuk lebih dikembangkan sebagai bahan literasi melalui buku yang hanya berupa cerita yang khusus diambil dari naskah hikayat Abu Nawas, yang dibentuk dalam sebuah buku dongeng bagi anak, dengan judul buku cerita “kumpulan cerita Abu Nawas.”

Di bawah ini merupakan salah satu cerita Abu Nawas yang dapat kita ambil pesan-pesan dari cerita tersebut, yang berjudul “Abu Nawas dan Rumah sempit,”

Pada suatu hari, ada seorang laki-laki datang ke rumah Abu Nawas. Lelaki itu hendak mengeluh kepadanya mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Dia sedih karena rumahnya terasa sempit ditinggali banyak orang. "Abu Nawas, aku memiliki seorang istri dan delapan anak, tapi rumahku begitu sempit. Setiap hari, mereka mengeluh dan merasa tak nyaman tinggal di rumah. Kami ingin pindah dari rumah tersebut, tapi tidak mempunyai uang. Tolonglah katakan padaku apa yang harus kulakukan," kata lelaki itu. Mendengar hal itu, Abu Nawas kemudian berpikir sejak. Tak berapa lama, sebuah ide terlintas di kepalanya. "Kamu mempunyai domba di rumah?" tanya Abu Nawas padanya. "Aku tak menaiki domba, jadi aku tak memilikinya," jawabnya. Setelah mendengar jawabannya, dia meminta lelaki tersebut untuk membeli sebuah domba dan menyuruhnya untuk menaruh di rumah. Pria itu kemudian menuruti usul Abu Nawas dan kemudian pergi membeli seekor domba. Keesokan harinya, dia datang lagi ke rumah Abu Nawas. "Bagaimana ini? Setelah aku mengikuti usulmu, nyatanya rumahku menjadi tambah sempit dan berantakan," keluhnya. "Kalau begitu, cobalah beli dua ekor domba lagi dan peliharalah di dalam rumahmu," jawab Abu Nawas. Kemudian, pria itu bergegas pergi ke pasar dan membeli dua ekor domba lagi. Namun, bukannya seperti yang diharapkan, rumahnya justru semakin terasa sempit. Dengan perasaan jengkel, dia pergi ke rumah Abu Nawas untuk mengadu yang ketiga kalinya. Dia menceritakan semua apa yang terjadi, termasuk mengenai istrinya yang menjadi sering marah-marah karena domba tersebut. Akhirnya, Abu Nawas menyarankannya untuk menjual semua domba yang dimiliki. Keesokan harinya, kedua orang tersebut bertemu kembali. Abu Nawas kemudian bertanya, "Bagaimana keadaan rumahmu sekarang, apakah sudah lebih lega?" "Setelah aku menjual domba-domba tersebut, rumahku menjadi nyaman untuk ditinggali. Istriku pun tidak lagi marah-marah," jawab pria tersebut sambil tersenyum. Akhirnya, Abu Nawas dapat menyelesaikan masalah pria dan rumah sempitnya itu.

Pesan moral yang dapat diambil dari cerita Abu Nawas adalah hidup itu selalu disyukuri bagaimanapun sulitnya hidup yang kita jalani. Dengan menjalani hidup penuh semangat dan tidak banyak mengeluh, maka hidup akan berjalan dengan nikmat dan penuh kesejahteraan. Cerita di atas merupakan salah satu contoh dari banyaknya hikayat Abu Nawas.

Cerita 1001 malam adalah kisah terpopuler di dunia saat ini, berbagai kumpulan cerita dari berbagai tokoh banyak sekali diceritakan, terutama kisah Abu Nawas, jika kisah Abu Nawas ini dibuat secara khusus dengan diterjemahkan naskah kunonya lalu dibentuk berupa teks dan ilustrasi, serta dibuatkan buku khusus hikayat Abu Nawas. Hal ini dapat terciptanya bacaan dengan cerita yang menarik untuk dibaca dan dipelajari. Dengan menerapkan literasi bacaan ini, maka kita dapat mengembangkan dan menumbuhkan budi pekerti dan pola pikir yang baik terhadap anak sejak dini.