Konten dari Pengguna

Soft Skill Mahasiswa di Era Industry 4.0 dan Society 5.0

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Laili Nur Ika Fatimah - Mahasiswa Universitas Siber Asia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Ilustrasi mahasiswa di era Industry 4.0 dan Society 5.0 (ilustrasi AI)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ilustrasi mahasiswa di era Industry 4.0 dan Society 5.0 (ilustrasi AI)

Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Memasuki era Industry 4.0 dan Society 5.0, mahasiswa tidak hanya dihadapkan pada kemajuan digital yang semakin pesat, tetapi juga pada tuntutan untuk mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Teknologi memang memudahkan banyak hal, namun kesiapan mahasiswa dalam menghadapi era ini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai perangkat digital, melainkan juga oleh soft skill yang mendukung cara berpikir, berkomunikasi, dan beradaptasi.

Keberhasilan mahasiswa di era Industry 4.0 dan Society 5.0 tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menguasai teknologi, tetapi juga oleh soft skill seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, etika, dan kemampuan beradaptasi. Bagi saya, mahasiswa yang unggul bukanlah mahasiswa yang sekadar cepat memakai aplikasi atau cakap menggunakan AI, melainkan mahasiswa yang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, manusiawi, dan bertanggung jawab.

Ilustrasi Sisterhood di Tempat Kerja. Foto: Mongta Studio/Shutterstock

Alasan saya sederhana, dunia yang serba digital memang menuntut kemampuan teknis, tetapi tidak berhenti di sana. Estiana dkk. menunjukkan bahwa pada era Industry 4.0 dan Society 5.0, dunia kerja membutuhkan keseimbangan hard skill dan soft skill, sementara dunia pendidikan masih sering terlalu berfokus pada kemampuan teknis. Hal ini berarti mahasiswa perlu dibentuk bukan hanya agar pandai mengerjakan tugas, tetapi juga agar mampu berinteraksi, memimpin, dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Saya juga melihat bahwa soft skill adalah pembeda utama antara mahasiswa yang hanya “bisa” dan mahasiswa yang benar-benar “siap”. Suherman dkk. menegaskan bahwa untuk menghadapi era 4.0, mahasiswa perlu memiliki kemampuan problem solving, critical thinking, creativity, koordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, pengambilan keputusan, orientasi pelayanan, negosiasi, dan cognitive flexibility. Dalam pandangan saya, kemampuan-kemampuan seperti ini justru menjadi pondasi ketika teknologi terus berubah dengan cepat. Tanpa soft skill, mahasiswa mungkin mampu mengikuti arus, tetapi sulit menjadi individu yang benar-benar relevan.

Selain itu, Mursyidah dan Muhammad menjelaskan bahwa Society 5.0 menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Putranto dkk. juga menekankan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, melainkan juga kemampuan menilai, mengevaluasi, dan memproduksi informasi secara bertanggung jawab. Bagi saya, ini sangat penting karena kemudahan teknologi tidak selalu sejalan dengan kedewasaan dalam menggunakannya. Mahasiswa bisa saja cepat mencari jawaban, tetapi belum tentu mampu menilai apakah jawaban itu tepat, etis, dan sesuai konteks.

Saya juga menilai bahwa etika dan karakter tidak boleh ditinggalkan. Aminu dkk. menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter agar mahasiswa menjadi teladan yang baik dan terhindar dari degradasi moral di tengah kemajuan teknologi. Septiliana dkk. pun menambahkan bahwa mahasiswa membutuhkan landasan etika yang kuat, seperti integritas, tanggung jawab, keterampilan sosial, adaptabilitas, dan kesadaran teknologi. Menurut saya, soft skill tanpa etika akan kehilangan arah, sedangkan teknologi tanpa karakter hanya akan mempercepat tindakan yang belum tentu benar.

Contoh nyatanya cukup mudah dilihat dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari. Misalnya, ada mahasiswa yang sangat mahir memakai teknologi, cepat mencari bahan tugas, dan terbiasa memakai AI untuk membantu pekerjaan akademik. Namun, ketika diminta menjelaskan isi tugasnya sendiri, ia kesulitan karena belum benar-benar memahami materi. Dalam situasi seperti ini, teknologi memang membantu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi tidak otomatis membuat mahasiswa lebih paham, lebih matang, atau lebih siap menghadapi dunia kerja. Justru yang menentukan adalah apakah mahasiswa mampu berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, bekerja sama dalam kelompok, dan menjelaskan hasil pikirannya sendiri dengan logis. Gambaran seperti ini sejalan dengan pandangan bahwa mahasiswa di era ini perlu memiliki kemampuan yang lebih luas daripada sekadar kemampuan teknis.

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa teknologi memang penting, tetapi teknologi tidak cukup untuk menjamin keberhasilan mahasiswa. Di era Industry 4.0 dan Society 5.0, mahasiswa yang benar-benar unggul adalah mahasiswa yang mampu mengimbangi penguasaan teknologi dengan soft skill yang matang. Berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, etika, dan kemampuan beradaptasi membuat teknologi menjadi bermakna. Tanpa soft skill, teknologi hanya menjadi alat yang cepat; dengan soft skill, teknologi menjadi sarana untuk berkembang secara cerdas, bijak, dan tetap memanusiakan manusia.

Daftar Pustaka

Aminu, N., Manaf, A., Manan, & Wati, S. (2023). Penguatan pendidikan karakter dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Jurnal Abdidas, 4(2), 162–166.

Estiana, R., Ismail, D. H., Damiyana, D., & Sugiyanto, E. (2023). Kepemimpinan transformasional dan kompetensi dosen terhadap kualitas softskill mahasiswa di era industri 4.0 dan society 5.0. Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi Bisnis Digital, Ekonomi Kreatif, dan Entrepreneur, 3(2), 318–324.

Mursyidah, N., & Muhammad. (2023). Arah baru pembelajaran pada mahasiswa di era Society 5.0. Jurnal Pembelajaran dan Matematika Sigma (JPMS), 9(1), 5–11.

Putranto, A., Haryati, Gandariani, T., Mitrayati, Siregar, Y. A., & Khaerudin, R. B. (2025). Keterkaitan tingkat literasi digital dan kemampuan berpikir kritis di kalangan mahasiswa era Society 5.0. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(1), 2532–2539.

Septiliana, L., Shaleh, & Hidayati, F. H. (2024). Landasan etika mahasiswa dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0. Jurnal Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Borneo, 5(2), 147–158.

Suherman, A., Lawelai, H., Nurtang, Salam, N., & Hadmare, A. M. (2022). Pengembangan kapasitas mahasiswa menuju generasi unggul di era 4.0. Society: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(2), 74–78.