Haribaan Pahlawan Menuju Indonesia Emas 2045

Sarjana Pendidikan dan Analis sosiokultural yang menulis tentang pendidikan, literasi, budaya, parenting, dan isu-isu sosial.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nuril Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia Emas 2045 adalah estafet perjuangan yang harus dilanjutkan generasi hari ini.
Ada malam ketika sebuah bangsa tidak perlu banyak bicara. Cukup menundukkan kepala, mengheningkan cipta, lalu mengingat kembali mereka yang telah memberikan hidupnya untuk Indonesia. Dari penghormatan kepada para pahlawan, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 kembali mengingatkan kita bahwa kemerdekaan bukan sekadar warisan, melainkan tanggung jawab untuk membangun masa depan bangsa.
Prabowo tiba sekitar pukul 23.45 WIB. Ia kemudian meletakkan karangan bunga dan memimpin mengheningkan cipta untuk mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga bagi kemerdekaan serta kehormatan bangsa. Upacara diikuti pimpinan lembaga negara, para menteri, unsur TNI dan Polri, serta keluarga pahlawan.
Di kompleks seluas sekitar 23 hektare itu, lebih dari 10.000 pahlawan bangsa beristirahat untuk selamanya.
Ada sesuatu yang dalam dari pemandangan tersebut.
Generasi yang telah memperjuangkan kemerdekaan kini berada di belakang kita. Sementara generasi yang akan menentukan wajah Indonesia berikutnya sedang tumbuh di depan mata.
Di antara keduanya terdapat satu tugas besar: meneruskan Indonesia.
Pahlawan dan Estafet Sebuah Bangsa
Kemerdekaan tidak pernah benar-benar selesai.
Proklamasi 17 Agustus 1945 memang menandai lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka. Namun setelah itu, muncul perjuangan yang berbeda: mempertahankan kedaulatan, membangun institusi negara, meningkatkan kesejahteraan, mengurangi kemiskinan, memperluas pendidikan, membangun infrastruktur, dan membawa Indonesia menjadi negara yang semakin diperhitungkan.
Karena itu, ziarah kepada pahlawan seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan.
Ia adalah pengingat bahwa setiap generasi mendapatkan sebuah Indonesia dari generasi sebelumnya.
Dan setiap generasi mempunyai kewajiban untuk menyerahkannya dalam keadaan yang lebih baik.
Di sinilah makna Indonesia Emas 2045 menjadi relevan.
Indonesia Emas bukan sekadar target ekonomi atau jargon pembangunan. Dalam RPJPN 2025–2045, visi tersebut diarahkan untuk membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan. Kerangka itu juga mencakup transformasi sosial, ekonomi, tata kelola, supremasi hukum, stabilitas, kepemimpinan Indonesia, serta ketahanan sosial budaya dan ekologi.
Dengan kata lain, menuju 2045 adalah proyek lintas generasi.
Membangun Masa Depan dari Fondasi yang Ada
Tidak ada pembangunan yang dimulai dari ruang kosong.
Indonesia memasuki fase menuju 2045 dengan fondasi yang telah dibangun melalui proses panjang. Infrastruktur berkembang, konektivitas semakin luas, transformasi ekonomi terus berjalan, dan pembangunan sumber daya manusia menjadi perhatian penting dalam agenda nasional.
Bappenas mencatat bahwa pembangunan satu dekade sebelumnya telah menghasilkan sejumlah capaian, antara lain pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia menjadi 75,59, penurunan tingkat pengangguran menjadi 5,11 persen, serta pembangunan ribuan kilometer jalan tol.
Angka-angka tersebut tentu bukan akhir perjalanan.
Justru sebaliknya, ia menjadi modal untuk pekerjaan yang lebih besar.
Pembangunan tidak boleh berhenti karena sebuah pemerintahan berganti. Sebab usia sebuah negara jauh lebih panjang daripada usia sebuah pemerintahan.
Inilah mengapa kesinambungan pembangunan menjadi penting.
RPJMN 2025–2029 ditempatkan sebagai tahap awal pelaksanaan RPJPN 2025–2045. Pemerintahan Prabowo kemudian membawa agenda pembangunan lima tahunan yang diarahkan untuk memperkuat fondasi menuju visi Indonesia Emas, dengan sasaran antara lain pengurangan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pertumbuhan ekonomi.
Ada pesan penting di sana: pembangunan Indonesia harus dipandang sebagai estafet.
Bukan perlombaan siapa yang paling cepat mendapatkan kredit politik, tetapi siapa yang mampu meninggalkan fondasi lebih kuat bagi generasi berikutnya.
Pahlawan Masa Kini Tidak Selalu Mengangkat Senjata
Tantangan Indonesia hari ini tentu berbeda dengan tantangan para pahlawan.
Tidak semua perjuangan harus dilakukan di medan perang.
Guru yang meningkatkan kualitas muridnya sedang berjuang.
Petani yang meningkatkan produktivitas pangan sedang berjuang.
Peneliti yang menciptakan teknologi baru sedang berjuang.
Pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan sedang berjuang.
Aparatur negara yang bekerja dengan integritas juga sedang berjuang.
Begitu pula anak muda yang belajar dengan sungguh-sungguh agar suatu hari mampu membawa Indonesia bersaing dengan bangsa lain.
Medannya berubah, tetapi semangatnya sama.
Membangun Indonesia.
Karena itu, penghormatan terbaik kepada pahlawan bukan hanya dengan mengingat nama mereka, tetapi dengan memastikan bahwa cita-cita yang mereka perjuangkan tidak berhenti pada generasi kita.
2045 Adalah Ujian Generasi Sekarang
Tahun 2045 mungkin masih terasa jauh.
Namun seorang anak yang hari ini duduk di bangku sekolah dasar akan berada pada usia produktif ketika Indonesia merayakan satu abad kemerdekaan.
Artinya, Indonesia 2045 sebenarnya sedang berada di sekitar kita.
Ia ada di ruang kelas.
Ia ada di kampus.
Ia ada di pusat riset.
Ia ada di pabrik.
Ia ada di sawah.
Ia ada di kantor pemerintahan.
Ia ada di perusahaan rintisan.
Dan ia ada di rumah-rumah keluarga Indonesia.
Karena itulah pembangunan manusia menjadi salah satu kunci.
Sejak penyusunan visi Indonesia Emas 2045, Bappenas menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia harus menjadi perhatian utama, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kemampuan, karakter produktif, disiplin, dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Negara yang ingin maju tidak cukup memiliki penduduk yang banyak.
Negara harus memiliki manusia yang mampu menciptakan nilai.
Indonesia tidak cukup menjadi pasar.
Indonesia harus menjadi produsen.
Tidak cukup menjadi pengguna teknologi.
Indonesia harus semakin mampu menciptakan teknologi.
Tidak cukup mengekspor komoditas.
Indonesia harus memperbesar nilai tambah di dalam negeri.
Semua itu membutuhkan konsistensi.
Dan konsistensi membutuhkan kesinambungan.
Haribaan Pahlawan, Harapan Masa Depan
Mungkin inilah makna terdalam dari sebuah renungan suci.
Di hadapan makam para pahlawan, kita menyadari bahwa sejarah tidak pernah benar-benar berhenti.
Mereka telah memberikan bagian terbaik dari hidupnya untuk Indonesia.
Kini giliran kita.
Bukan untuk mengulang perjuangan mereka, tetapi untuk meneruskan cita-citanya dengan cara yang sesuai dengan zaman.
Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan keberanian menghadapi penjajahan, hari ini kemerdekaan harus diisi dengan keberanian menghadapi ketertinggalan.
Jika dahulu musuhnya adalah kolonialisme, hari ini tantangannya adalah kemiskinan, ketimpangan, rendahnya produktivitas, perubahan teknologi, persaingan ekonomi global, krisis pangan dan energi, serta perubahan iklim.
Karena itu, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan kesabaran sekaligus keberanian.
Kita membutuhkan pembangunan yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan.
Kita membutuhkan kebijakan yang tidak hanya populer hari ini, tetapi bermanfaat bagi generasi berikutnya.
Kita membutuhkan pemerintahan yang mampu menjaga kesinambungan agenda pembangunan, sekaligus terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan.
Dan yang tidak kalah penting, kita membutuhkan masyarakat yang percaya bahwa masa depan Indonesia layak diperjuangkan.
Pada akhirnya, para pahlawan tidak meninggalkan Indonesia untuk kita nikmati begitu saja.
Mereka meninggalkan Indonesia untuk kita lanjutkan.
Dari Kalibata, kita menundukkan kepala untuk mengenang mereka yang telah pergi.
Dari sana pula, seharusnya kita mengangkat kepala untuk melihat masa depan.
Sebab ketika Indonesia memasuki usia satu abad pada 2045 nanti, generasi yang hidup hari ini akan menjadi bagian dari sejarah yang dibaca oleh anak cucu kita.
Mereka akan bertanya:
Apa yang dilakukan generasi kita setelah menerima kemerdekaan dari para pahlawan?
Jawabannya tidak akan ditemukan dalam upacara.
Jawabannya akan terlihat pada Indonesia yang kita wariskan.
Jika hari ini kita mampu menjaga persatuan, melanjutkan pembangunan, memperkuat manusia Indonesia, meningkatkan produktivitas, dan membangun ekonomi yang semakin mandiri, maka kita sedang menyambung estafet sejarah.
Dari haribaan para pahlawan, menuju Indonesia Emas 2045.
Kemerdekaan telah diwariskan. Kini masa depan yang harus kita wariskan.
