Konten dari Pengguna

Kekuatan Narasi Prabowo Untuk Indonesia: The Warrior of Light sebagai Motivasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nuril Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Ilustrasi Presiden Prabowo dan Indonesia (Diolah Oleh Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Presiden Prabowo dan Indonesia (Diolah Oleh Penulis)

Memimpin sebuah negara bukan hanya tentang memenangkan pertarungan politik. Ia adalah perjalanan panjang menghadapi tekanan, mengambil keputusan, menjaga arah, dan membawa masyarakat melewati berbagai ketidakpastian.

Dalam konteks itu, The Warrior of Light dapat digunakan sebagai metafora untuk membaca perjalanan kepemimpinan Prabowo Subianto di Indonesia.

Konsep warrior of light dalam karya Paulo Coelho menggambarkan seseorang yang menghadapi tantangan dengan keberanian, ketekunan, refleksi, dan keyakinan terhadap jalan yang ditempuh. Gagasan tersebut menarik digunakan sebagai lensa untuk melihat Indonesia memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo.

Bukan berarti buku tersebut dapat secara langsung disebut sebagai sumber motivasi pribadi Prabowo tanpa sumber yang menyatakannya. Namun, nilai tentang keberanian menghadapi tantangan dan konsistensi memperjuangkan tujuan dapat menjadi kerangka reflektif untuk membaca perjalanan kepemimpinannya.

Memimpin di Tengah Dunia yang Berubah

Dua tahun pemerintahan Prabowo berlangsung ketika dunia menghadapi perubahan geopolitik yang cepat. Persaingan kekuatan besar, konflik internasional, ketidakpastian perdagangan, energi, hingga perubahan rantai pasok global membuat posisi Indonesia semakin penting sekaligus penuh tantangan.

Dalam situasi tersebut, kepemimpinan tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan domestik. Indonesia membutuhkan diplomasi yang mampu menjaga kepentingan nasional tanpa kehilangan ruang gerak.

Di sinilah prinsip bebas aktif kembali menjadi relevan.

Pada program Presiden Prabowo Menjawab pada 16 September 2026, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tetap berada pada jalur bebas aktif dan tidak ingin bergabung dengan blok kekuatan geopolitik tertentu. TVRI News mencatat pernyataan Prabowo: “kita selalu ingin bebas aktif. Kita dari dulu non-aligned, kita tidak mau ikut blok-blok mana pun.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah melihat hubungan internasional Indonesia bukan dalam kerangka memilih satu kubu, melainkan menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan dunia.

Prabowo bahkan menjelaskan pendekatan tersebut melalui praktik diplomasi. Ketika mendapat undangan dari negara tertentu, Indonesia tetap hadir untuk menjaga komunikasi. “Kalau saya diundang, kalau ke Amerika saya diundang, saya datang,” kata Prabowo.

Dalam perspektif geopolitik, pendekatan tersebut menunjukkan upaya mempertahankan strategic autonomy Indonesia. Jakarta dapat bekerja sama dengan berbagai negara sekaligus menjaga kebebasan menentukan kepentingan nasionalnya sendiri.

The Warrior of Light: Keberanian Menentukan Arah

Di sinilah metafora The Warrior of Light menjadi menarik.

Seorang pejuang tidak selalu berada dalam situasi ideal. Ia justru ditempa oleh tekanan. Cahaya yang dibawanya bukan berarti dunia selalu terang, melainkan kemampuan untuk tetap menemukan arah ketika lingkungan penuh ketidakpastian.

Kepemimpinan Prabowo dapat dibaca melalui perspektif tersebut: bagaimana pemerintah berusaha menghadapi tekanan geopolitik, mendorong kemandirian ekonomi, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam hubungan internasional.

Namun, metafora tetaplah metafora. Ukuran kepemimpinan pada akhirnya berada pada kebijakan dan hasil nyata.

Hilirisasi dan Ambisi Kemandirian Ekonomi

Salah satu agenda penting pemerintahan Prabowo adalah hilirisasi.

Indonesia berupaya mengubah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi melalui pengembangan industri di dalam negeri. Orientasinya bukan hanya meningkatkan ekspor, tetapi juga memperkuat basis industri nasional.

BKPM mencatat realisasi investasi semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, dengan investasi hilirisasi sekitar Rp300,1 triliun.

Angka tersebut menggambarkan skala transformasi ekonomi yang sedang dibangun. Tetapi tantangannya lebih jauh: apakah investasi menghasilkan transfer teknologi, produktivitas, pekerjaan berkualitas, serta rantai pasok nasional yang semakin kuat?

Karena itu, keberhasilan hilirisasi tidak cukup dihitung dari nilai investasi. Ukurannya juga terletak pada seberapa besar Indonesia memperoleh nilai tambah dari sumber dayanya sendiri.

MBG dan Investasi pada Manusia

Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu agenda paling besar dan langsung menyentuh masyarakat.

MBG dapat dilihat sebagai bagian dari investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Ketika negara memberikan perhatian terhadap asupan gizi anak, yang dibangun sebenarnya bukan sekadar program bantuan pangan, melainkan fondasi manusia Indonesia di masa depan.

Efisiensi dan Negara yang Lebih Fokus

Pemerintahan Prabowo juga menempatkan efisiensi anggaran sebagai agenda penting.

Efisiensi seharusnya tidak dimaknai semata sebagai pemotongan belanja. Ia adalah upaya memastikan sumber daya negara diarahkan kepada prioritas yang memiliki dampak publik lebih besar.

Di sinilah tantangan birokrasi muncul. Penghematan harus berjalan bersama peningkatan produktivitas, kualitas pelayanan, dan akuntabilitas.

Negara yang hemat bukan hanya negara yang membelanjakan lebih sedikit, tetapi negara yang mampu menghasilkan manfaat lebih besar dari setiap rupiah yang dikeluarkan.

Diplomasi sebagai Perpanjangan Kepentingan Nasional

Pernyataan Prabowo mengenai politik bebas aktif juga memperlihatkan perubahan cara Indonesia memosisikan diri di dunia.

Indonesia memiliki kepentingan ekonomi, keamanan, energi, teknologi, dan perdagangan yang terhubung dengan banyak negara. Karena itu, hubungan dengan Amerika Serikat tidak harus menutup pintu dengan Tiongkok. Hubungan dengan Tiongkok tidak harus mengurangi kerja sama dengan Jepang, Eropa, Rusia, Timur Tengah, maupun kawasan lainnya.

Pendekatan semacam itu menuntut diplomasi yang aktif dan terukur.

Dalam kondisi dunia yang semakin terfragmentasi, kemampuan Indonesia menjaga hubungan dengan banyak pusat kekuatan dapat menjadi salah satu modal strategis untuk mempertahankan ruang kebijakan nasional.

Dari Warrior Menjadi Light

Pada akhirnya, The Warrior of Light dapat menjadi metafora tentang kepemimpinan yang berusaha berjalan di tengah dunia yang penuh tekanan.

Warrior menunjukkan keberanian menghadapi tantangan.

Light menunjukkan arah yang ingin dicapai.

Bagi Indonesia, keduanya harus berjalan bersama. Keberanian tanpa arah dapat menghasilkan keputusan yang terburu-buru. Sebaliknya, arah tanpa keberanian akan sulit menghasilkan perubahan.

Tantangan berikutnya adalah mengubah keberanian menjadi hasil, mengubah kebijakan menjadi manfaat, dan mengubah posisi Indonesia di tengah dunia menjadi kekuatan yang semakin mandiri.