Konten dari Pengguna

Ambisi Orang Tua dan Anak yang Kehilangan Ruang Bermain

NURIL FIRDAUSIAH

NURIL FIRDAUSIAH

Mahasiswa Psikologi di Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari NURIL FIRDAUSIAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang tua dan anak sedang mengambil nilai rapor anak di sekolah. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang tua dan anak sedang mengambil nilai rapor anak di sekolah. Foto: Shutter Stock

Sepulang sekolah, banyak anak dan remaja usia sekolah tidak langsung bermain, melainkan berpindah dari satu kelas les ke kelas les berikutnya. Di balik jadwal sepadat itu, ada pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan: kapan terakhir anak-anak kita bermain tanpa jadwal?

Ambisi orang tua bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan cerminan budaya yang menyamakan sukses dengan peringkat. Selama ukuran itu tidak bergeser, anak akan cenderung tumbuh pintar tetapi kehilangan ruang bermain dan kesempatan belajar bersosialisasi.

Bayangkan seorang anak kelas lima SD. Pukul dua belas ia pulang sekolah, pukul tiga sudah duduk di kelas matematika, pukul enam di kelas bahasa Inggris, lalu malamnya mengerjakan tugas yang menumpuk. Di grup WhatsApp keluarga, nilai ujiannya jadi bahan obrolan dan dibandingkan dengan sepupunya. Tak ada yang berniat jahat. Namun harinya nyaris tak menyisakan ruang untuk bermain tanpa tujuan.

Di sebagian keluarga, les tambahan telah menjadi rutinitas, dan waktu belajar yang panjang menyisakan sedikit ruang bermain. Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS) 2022 mencatat bahwa sebagian remaja usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dari kelompok itu, hampir dua pertiganya merasa terganggu dalam hubungan dengan keluarga.

Penelitian Lusiane dan Garvin (2018) terhadap pelajar di Jakarta juga menemukan bahwa makin tinggi tekanan orang tua yang dirasakan, makin tinggi pula kecenderungan perfeksionisme. Data ini memang tidak membuktikan bahwa ambisi orang tua adalah penyebabnya. Namun pola yang tampak di berbagai keluarga menunjukkan bahwa ini bukan lagi cerita satu rumah, melainkan gejala masyarakat.

Ambisi orang tua jarang lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari nilai budaya yang sudah lama hidup: anak yang pintar sering dianggap tanda keluarga berhasil, ranking dan gelar juga dianggap jaminan masa depan. Banyak orang tua menekan anak karena merasa persaingan kerja dan hidup semakin ketat, jadi pendidikan terlihat sebagai satu-satunya jalan naik.

Tekanan itu tidak selalu hadir sebagai bentakan. Ia muncul sebagai pertanyaan yang tampak wajar: ranking berapa, ikut les apa, kok belum bisa seperti sepupunya? Pertanyaan semacam ini diam-diam mengirim pesan bahwa nilai seorang anak ditentukan oleh posisinya di antara anak lain, dan pesan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pola pikir itu membuat les berlapis terasa wajar bagi banyak orang tua. Ketika jadwal anak penuh, ruang untuk belajar nilai kebersamaan ikut menghilang. Nilai itu sampai ke anak lewat sosialisasi, yaitu proses anak belajar menjadi anggota masyarakat, dengan keluarga sebagai agen pertamanya. Apa yang diprioritaskan keluarga dipelajari anak sebagai ukuran hidup yang baik. Lewat bermain, anak belajar bernegosiasi, bergantian, berempati, dan menghadapi kalah-menang. Bermain juga menjadi ruang aman untuk gagal. Anak yang kalah dalam permainan belajar bahwa kekalahan bukan akhir segalanya dan ia boleh mencoba lagi. Dalam kompetisi peringkat, kegagalan terasa mahal, sehingga yang sering dipelajari anak justru rasa takut salah. Ketika ruang bermain menyempit, keluarga memang masih mewariskan prestasi, tetapi kesempatan mewariskan kemampuan hidup bersama ikut berkurang.

Dalam kajian kewarganegaraan, sikap seperti tanggung jawab, toleransi, dan kepedulian termasuk dalam civic disposition, yaitu watak yang dibutuhkan warga negara untuk hidup bersama. Nilai-nilai kebersamaan yang kita rumuskan dalam Pancasila, seperti kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah, tidak cukup diajarkan lewat hafalan. Nilai-nilai dilatih lewat pengalaman sehari-hari: berbagi giliran, bernegosiasi, dan menerima perbedaan, yang banyak dimulai dari bermain bersama. Jika ukuran sukses hanya ranking, masyarakat ikut kehilangan generasi yang terlatih hidup bersama.

Tentu, ada yang akan berkata bahwa orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Dunia memang kompetitif, dan disiplin belajar bukanlah hal yang buruk. Les bisa membantu anak yang tertinggal, dan target yang tinggi bisa memacu semangat. Sebagian anak bahkan menikmati les yang mereka jalani, dan itu tidak perlu dipersoalkan. Ada pula yang menganggap bermain bisa ditunda sampai anak mapan.

Argumen ini patut diakui. Namun, masalahnya bukan pada kerja keras atau les itu sendiri, melainkan pada ukuran sukses yang tunggal. Ketika peringkat menjadi satu-satunya tolok ukur, anak tidak lagi punya ruang untuk gagal, bereksperimen, atau sekadar bermain. Kemampuan bergaul dan mengelola emosi dibangun sedikit demi sedikit sejak kecil, dan tidak bisa dikejar sekaligus ketika dewasa. Orang tua yang menginginkan yang terbaik bagi anak justru perlu bertanya: yang terbaik menurut siapa, dan untuk masa depan seperti apa?

Karena itu, perubahan perlu dimulai dari rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar. Orang tua bisa menyisakan waktu bermain tanpa jadwal setiap hari dan menilai anak dari proses belajarnya, bukan hanya peringkatnya. Sekolah dapat mengurangi beban tugas dan memberi ruang bagi kegiatan yang melatih kerja sama. Masyarakat pun bisa berhenti membandingkan anak di grup keluarga atau media sosial. Contohnya, menyepakati satu sore dalam seminggu tanpa les, tanpa gawai, dan tanpa agenda. Langkahnya sederhana, tetapi layak dicoba agar anak tumbuh tidak hanya pintar, melainkan juga mampu bergaul dan peduli pada sesamanya.

Anak-anak tidak membutuhkan masa kecil tanpa target. Mereka membutuhkan target yang tidak menghapus waktu untuk menjadi anak-anak. Maka, pertanyaan di awal tadi patut kita jawab dengan tindakan: kapan terakhir anak-anak kita bermain tanpa jadwal?