Di Balik Tren #InThisEconomy: Membaca Sinyal Krisis dari Meja Makan Warga

Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nurindah Faradina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di beranda media sosial, sebuah pertanyaan sederhana bergema: "In this economy, apa yang sudah kalian downgrade?" Kalimat itu, yang dulu mungkin terdengar seperti candaan kelas menengah Jakarta, kini menjadi semacam mantra kolektif. Jawaban-jawaban yang mengalir bukanlah lelucon. Ada yang bercerita tentang mobil yang dijual, rumah yang ditinggali bersama mertua, hingga produk perawatan kulit yang berganti dari merek mewah ke merek lokal.
Fenomena ini bukan sekadar gelombang penghematan temporer. Ia adalah cermin dari tekanan ekonomi yang kian menghimpit sebuah alarm bahaya yang berbunyi dari meja makan warga.
Respons Rasional di Tengah Himpitan
Dalam ilmu ekonomi konsumen, fenomena ini disebut trading down atau downgrading: sebuah pola ketika rumah tangga secara sadar beralih ke opsi yang lebih terjangkau. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, menegaskan bahwa ini bukan pilihan gaya hidup, melainkan respons rasional rumah tangga dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Dalam teori ekonomi, pola tersebut dikenal sebagai consumption smoothing: rumah tangga berupaya mempertahankan konsumsi inti pangan, kesehatan, pendidikan dengan memangkas pengeluaran yang bersifat tersier.
Namun, ada yang berbeda dari fenomena kali ini. Jika pada masa pandemi downgrading muncul sebagai respons terhadap pembatasan mobilitas, kini ia lahir dari pendapatan riil yang stagnan di tengah harga kebutuhan dasar yang terus merangkak naik. Wisnu menyebut dua faktor utama yang memperkuat fenomena ini: pertama, pendapatan riil yang stagnan ketika harga pangan, pendidikan, dan energi terus meningkat; kedua, menurunnya ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Data yang Berbicara: Ketika "Hemat" Menjadi Kenyataan Pahit
Fenomena ini bukanlah ilusi. Data ekonomi makro dan mikro menggambarkan tekanan yang nyata.
Pertama, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi mulai melambat. Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% secara tahunan, turun dari 5,52% pada kuartal sebelumnya. Meski masih positif, perlambatan ini menunjukkan bahwa mesin konsumsi mulai kehilangan tenaga.
Kedua, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terus melemah. Setelah mencapai 120,9 pada Mei 2026, IKK turun menjadi 117,8 pada Juni, lalu 116,8 pada Juli penurunan tiga bulan berturut-turut yang mencerminkan melemahnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Ketiga, dan yang paling mengkhawatirkan, tabungan kelas menengah mulai tergerus. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa pada Mei 2026, simpanan di rekening dengan saldo di bawah Rp100 juta menyusut sekitar Rp15 triliun terkontraksi sekitar 1,28% dibandingkan bulan sebelumnya. Yang lebih memprihatinkan, riset Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mencatat rata-rata saldo rekening kelompok ini turun dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi hanya Rp1,7 juta per Mei 2026.
Ini adalah tanda bahaya yang tak bisa diabaikan: masyarakat tidak lagi sekadar "makan tabungan" mereka mulai kehabisan tabungan.
Kelas Menengah sebagai Penopang Ekonomi
Fenomena downgrading menjadi kian krusial karena kelas menengah memiliki posisi strategis dalam struktur ekonomi Indonesia. Konsumsi rumah tangga menyumbang 53,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II 2026 porsi terbesar dalam struktur ekonomi nasional.
Sosiolog Universitas Nasional, Sigit Rochadi, melihat downgrade sebagai strategi penyesuaian kelas menengah untuk mempertahankan status sosial dengan menurunkan kualitas barang yang dikonsumsi. Mereka bukan miskin, tetapi juga tidak cukup kaya untuk merasa aman. Mereka adalah "kelas sandwich" yang terjepit: tidak lagi menjadi sasaran bantuan sosial, tetapi pendapatannya tidak cukup untuk menyerap kenaikan harga yang terus terjadi.
Wisnu dari UGM memperingatkan bahwa jika fenomena ini meluas, terutama di kalangan kelas menengah yang menyumbang porsi besar terhadap konsumsi nasional, "itu seharusnya jadi alarm bahaya bagi pemerintah" . Tekanan terhadap daya beli yang berlangsung lama dapat merembet ke sektor perdagangan dan jasa, memicu penahanan ekspansi usaha, hingga berujung pada pemutusan hubungan kerja.
Pergeseran Nilai: Lebih dari Sekadar Hemat
Namun, di balik kabut krisis, ada secercah perubahan yang patut dicermati. Data NielsenIQ dan World Data Lab pada 2026 menunjukkan bahwa 58% konsumen tidak lagi terlalu peduli apakah produk yang dibeli merupakan merek nasional atau private label, mereka lebih fokus pada nilai dan fungsi. Bahkan 67% Gen Z menilai produk private label bisa sama baiknya dengan merek nasional sebuah pergeseran persepsi yang signifikan di kalangan pembeli muda.
Ini bukan sekadar soal harga. Ada pergeseran nilai yang lebih mendasar: dari konsumsi simbolik menuju konsumsi fungsional. Fia (35), warga Jakarta, mengungkapkan bahwa ia kini lebih memilih produk perawatan kulit yang "cocok" daripada yang "mahal". Kalimat "Setelah downgrade, ternyata hidup lebih ringan" yang muncul di media sosial bukanlah ironi belaka, ia adalah ekspresi dari sebuah kesadaran baru bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan konsumsi.
Fenomena ini juga melahirkan bentuk perlawanan budaya yang khas: satir kolektif. Frasa "In this economy..." telah menjadi bahasa universal untuk menertawakan ketidakmampuan membeli hal-hal yang dulu dianggap standar kelas menengah. Ini adalah coping mechanism kolektif sebuah cara untuk mengendapkan sinisme yang mengakar tanpa harus meledak menjadi konfrontasi terbuka.
Dari Meja Makan ke Meja Kebijakan
Tren #InThisEconomy bukanlah sekadar fenomena media sosial yang akan lekang oleh waktu. Ia adalah sinyal krisis yang dikirim dari meja makan warga tempat di mana keputusan paling jujur tentang prioritas hidup dibuat. Ketika seseorang memilih mengurangi porsi lauk, menunda kontrol ke dokter, atau menyekolahkan anak di tempat yang lebih murah, itu bukan keputusan yang diambil dengan ringan. Itu adalah keputusan yang lahir dari perhitungan matang antara bertahan hidup dan menjaga martabat.
Sayangnya, sinyal itu belum sepenuhnya terdengar di ruang-ruang kebijakan. Stimulus yang ada saat ini bantuan sosial, Bantuan Pangan Beras, hingga subsidi upah cenderung menyasar kelompok bawah. Sementara kelas menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi dan mesin pertumbuhan ekonomi, dibiarkan menanggung beban inflasi sendirian. Padahal, ketika kelas menengah mulai downgrade, efeknya tidak berhenti di meja makan mereka. Ia merembet ke warung, ke toko, ke restoran, ke tempat wisata ke seluruh rantai ekonomi yang selama ini bergantung pada belanja mereka.
Maka, ada tiga hal yang perlu segera dilakukan. Pertama, pemerintah perlu memastikan stabilitas harga pangan dan energi, karena dua sektor inilah yang paling cepat menggerus daya beli rumah tangga. Kedua, penciptaan lapangan kerja dengan upah yang layak harus menjadi prioritas, bukan sekadar retorika pertumbuhan ekonomi. Ketiga, dan yang paling sering dilupakan, kelas menengah membutuhkan jaring pengaman finansial yang bisa diakses bukan dalam bentuk bantuan langsung, tetapi dalam bentuk perlindungan dari jeratan utang konsumtif, kemudahan akses pembiayaan yang sehat, dan pendidikan keuangan yang menyentuh kehidupan nyata.
Namun, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Fenomena downgrade juga memberi pelajaran penting bagi kita semua sebagai konsumen: bahwa hidup tidak harus selalu naik kelas dalam hal konsumsi. Ada kebebasan yang lahir dari kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara gengsi dan nilai. Jika kesadaran ini bertahan bukan karena terpaksa, melainkan karena pilihan maka bangsa ini mungkin sedang belajar sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pertumbuhan ekonomi semata.
Kembali ke meja makan warga. Di sana, di antara piring-piring yang lebih sederhana dan gelas-gelas yang tak lagi penuh, ada ketangguhan yang tak terhitung dalam statistik. Ada ibu yang memilih memasak daripada membeli, ada bapak yang bersepeda ke kantor, ada anak muda yang belajar menabung sebelum belajar berutang. Mereka semua adalah wajah dari sebuah bangsa yang sedang beradaptasi bukan karena menyerah, tetapi karena ingin bertahan.
"In this economy..." bukan lagi bahan tertawaan. Ia adalah panggilan bagi pemerintah untuk hadir, dan bagi kita semua untuk tetap waras dalam menghadapi ketidakpastian. Karena pada akhirnya, ekonomi bukan sekadar angka di atas kertas ia adalah kenyataan yang dimakan setiap hari, di meja makan yang sama, oleh jutaan keluarga Indonesia.
