Konten dari Pengguna

Mengenal Ikan Ambu, Warisan Laut Dalam yang Menjaga Identitas Masyarakat Mandar

nurjirana

nurjirana

Ahli Taksonomi Ikan dan Pegiat Budaya Bahari Mandar

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari nurjirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pesisir Sulawesi Barat, khususnya di Tanah Mandar, ada satu jenis ikan yang tidak sekadar menjadi lauk di meja makan. Masyarakat menyebutnya ikan Ambu. Bagi nelayan, ikan ini adalah hasil tangkapan yang membutuhkan keterampilan khusus. Bagi para ibu di dapur, ikan Ambu diolah menjadi berbagai hidangan tradisional yang diwariskan turun-temurun. Sementara bagi para peneliti, ikan Ambu menyimpan cerita menarik tentang hubungan antara kekayaan hayati laut dalam dengan budaya masyarakat pesisir.

Hasil penelitian yang dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD) menunjukkan bahwa ikan Ambu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandar. Pengetahuan mengenai cara menangkap, mengolah, hingga mengenali perilaku ikan ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat pesisir tidak hanya memanfaatkan sumber daya laut, tetapi juga membangun sistem pengetahuan yang tumbuh bersama lingkungan tempat mereka hidup.

Di balik nama lokalnya, ikan Ambu ternyata memiliki identitas ilmiah yang menarik. Berdasarkan kajian taksonomi, ikan ini merupakan spesies Promethichthys prometheus, anggota famili Gempylidae, yang dalam literatur internasional dikenal sebagai roudi escolar. Di Indonesia, spesies ini juga sering disebut sebagai ikan tenggiri laut dalam.

Ikan Ambu (Promethichthys prometheus) hasil tangkapan dari perairan Sulawesi Barat. Aset. Istimewa
Nelayan Mandar ketika menangkap ikan ambu di Pesisir Pamboang, Sulawesi Barat. Aset. Istimewa
Olahan gulai ikan Ambu yang dimasak dengan rempah khas tanah Mandar. Aset. Istimewa

Meski sekilas bentuk tubuhnya menyerupai ikan tenggiri, keduanya sebenarnya tidak berasal dari keluarga yang sama. Ikan Ambu memiliki tubuh panjang dan ramping dengan warna hitam keperakan, sirip punggung berduri, serta gurat sisi yang melengkung di dekat tutup insang. Secara ilmiah, spesies ini lebih dekat kekerabatannya dengan escolar dan oilfish dibandingkan dengan tenggiri yang umum dijumpai di pasar.

Yang membuat ikan Ambu semakin menarik adalah habitatnya. Spesies ini merupakan penghuni laut dalam yang hidup di zona bentopelagik, umumnya pada kedalaman sekitar 300 hingga 800 meter. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ikan ini melakukan migrasi vertikal pada malam hari, bergerak menuju lapisan perairan yang lebih dangkal untuk mencari makan.

Menariknya, temuan ilmiah tersebut ternyata sudah lama dipahami oleh nelayan Mandar.

Para nelayan di Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat telah mengenal kebiasaan ikan Ambu sejak dahulu. Mereka meyakini bahwa waktu terbaik untuk menangkap ikan ini adalah pada malam hari, mulai sekitar pukul enam sore hingga menjelang tengah malam. Pada waktu tersebut, ikan lebih mudah dijangkau menggunakan pancing ulur tradisional yang telah mereka gunakan secara turun-temurun.

Tidak hanya itu, nelayan juga memiliki pengetahuan khusus mengenai pengaruh fase bulan terhadap perilaku ikan Ambu. Saat bulan gelap, menurut mereka, ikan cenderung naik mendekati permukaan sehingga alat tangkap tidak perlu diturunkan terlalu dalam. Sebaliknya, ketika bulan terang, ikan bergerak ke lapisan perairan yang lebih dalam sehingga proses penangkapan menjadi lebih berat.

Apa yang selama ini dipraktikkan nelayan ternyata sejalan dengan hasil penelitian biologi laut yang menjelaskan bahwa banyak ikan laut dalam melakukan migrasi vertikal sebagai respons terhadap perubahan intensitas cahaya. Pengetahuan yang diwariskan secara lisan itu memiliki dasar ekologis yang kini semakin dipahami melalui penelitian ilmiah.

Pengalaman para nelayan juga menunjukkan bahwa ukuran ikan berkaitan dengan kedalaman habitatnya. Ikan Ambu berukuran 30 hingga 50 sentimeter umumnya diperoleh pada kedalaman sekitar 70-100 meter. Sementara itu, ikan berukuran lebih besar, bahkan mencapai lebih dari satu meter, biasanya tertangkap pada kedalaman di atas 100 meter. Temuan ini selaras dengan penelitian yang menyebutkan bahwa Promethichthys prometheus merupakan ikan laut dalam dengan pertumbuhan relatif lambat dan umur yang cukup panjang.

Pengetahuan lokal masyarakat Mandar tidak berhenti pada perilaku ikan. Mereka juga memiliki teknologi penangkapan tradisional yang masih bertahan hingga sekarang. Alat utama yang digunakan adalah pancing ulur (hand line), yang seluruh komponennya dirakit sendiri oleh nelayan.

Setiap bagian alat memiliki nama khas dalam bahasa Mandar, seperti galenrong untuk gulungan tali, tasi’ sebagai tali monofilamen, kawa’ untuk kawat, gilingang sebagai kili-kili, tumarra sebagai pemberat timah, dan peang sebagai kail. Bahkan proses pembuatan pemberat dilakukan secara tradisional melalui teknik yang dikenal sebagai nitiri’, yaitu melebur timah lalu mencetaknya menggunakan potongan bambu.

Di balik kesederhanaannya, teknologi tersebut merupakan hasil adaptasi panjang masyarakat pesisir terhadap karakteristik laut dalam yang mereka hadapi setiap hari.

Bagi masyarakat Mandar, ikan Ambu juga memiliki tempat istimewa di dapur. Beragam hidangan seperti Ambu Peapi, Ambu Nisattangngi, Ambu Nipais, hingga Ambu Nitapa menjadi bagian dari tradisi kuliner yang masih bertahan hingga sekarang. Sajian tersebut hampir selalu dinikmati bersama jepa, makanan tradisional berbahan dasar singkong yang telah lama menjadi identitas masyarakat Mandar.

Karena itu, ikan Ambu bukan sekadar bahan makanan. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif masyarakat pesisir.

Hal tersebut juga disampaikan oleh peneliti Dr. Nurjirana, S.Kel dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian mengenai ikan Ambu. Menurutnya, ikan Ambu bukan hanya kuliner khas Mandar, melainkan representasi pengetahuan lokal masyarakat pesisir yang diwariskan dari generasi ke generasi. Identifikasi ilmiah terhadap ikan ini sebagai Promethichthys prometheus semakin memperkuat hubungan antara budaya lokal dengan kekayaan biodiversitas laut dalam Sulawesi Barat.

Budayawan Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin, juga mengingatkan bahwa masyarakat Mandar sejak dahulu dikenal sebagai pelaut ulung yang mampu mengarungi laut lepas. Kemampuan tersebut memungkinkan mereka memanfaatkan sumber daya laut dalam, termasuk ikan Ambu, jauh sebelum berkembangnya teknologi penangkapan modern.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Majene, Ahmad Djamaan, bersama Tenaga Ahli Cagar Budaya Muhammad Yassin menekankan bahwa pelestarian kuliner tradisional tidak hanya penting dari sisi ekonomi dan pariwisata, tetapi juga sebagai upaya menjaga sejarah, pengetahuan lokal, dan identitas budaya masyarakat pesisir.

Semua temuan tersebut mengarah pada satu kesimpulan yang sama: ikan Ambu merupakan warisan biokultural masyarakat Mandar. Di dalamnya tersimpan hubungan yang erat antara keanekaragaman hayati laut, teknologi penangkapan tradisional, sejarah pelayaran, tradisi kuliner, hingga pengetahuan ekologis yang terus diwariskan.

Melestarikan ikan Ambu berarti menjaga lebih dari sekadar satu spesies ikan laut dalam. Di balik setiap tangkapan, tersimpan kisah tentang manusia yang hidup berdampingan dengan laut, memahami ritmenya, dan mewariskan pengetahuan itu kepada generasi berikutnya.

Di Tanah Mandar, ikan Ambu bukan hanya penghuni laut dalam. Ia adalah bagian dari identitas masyarakat pesisir yang menghubungkan kekayaan alam dengan kebudayaan yang terus hidup hingga hari ini.