Manusia Merdeka menurut Ibnu Atha`illah as-Sakandari
Tulisan dari Nur Khafi Udin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ibnu Atha`illah as-Sakandari merupakan salah satu tokoh besar tasawuf bagi tradisi Islam. Ia hidup satu zaman dengan Syaikh Abu Hasan Asy-Syadili. Ibnu Atha`illah melalui karya yang paling fenomenal yaitu Al-Hikam ingin berkata bahwa manusia harus membebaskan hati dari ketergantungan terhadap makhluk dan hanya boleh menaruh harap kepada Allah.
Ketamakan sumber kehinaan
Dalam buku Al-Hikam, Ibnu Atha`illah menyebutkan bahwa manusia bisa menjadi hina bukan karena miskin atau rendah dalam kehidupan sosial. Meskipun manusia itu banyak harta, memiliki kekuasaan, bahkan mampu menjadi Presiden Indonesia, hati manusia itu akan tetap hina apabila masih bergantung pada manusia dan tamak terhadap apa yang ada di tangan mereka.
Dalam bahasa yang lebih sederhana Ibnu Atha`illah ingin berkata jangan engkau merasa iri, gelisah, dan merasa kurang terhadap apa yang sudah engkau punya. Jangan engkau senang memiliki angan-angan yang itu tidak nyata, angan-angan adalah khayalan dalam pikiran. Hal ini bisa membuat jiwa manusia tunduk pada khayalan dari pada akal. Sebagai contoh, boleh jadi manusia takut melihat gulungan tali yang melingkar karena ia menyangka itu ular, sebab tali itu mirip dengan ular.
Jadi manusia tetap boleh memiliki cita-cita, berusaha, bekerja namun dalam proses itu manusia hanya boleh bergantung pada Allah sebagai Musabbib al-Azbab yaitu Zat yang menentukan segala sesuatu. Pesan Ibnu Atha`illah bisa kita pahami sebagai ajakan agar manusia menjaga kemuliaan jiwa, karena jiwa manusia bisa menjadi hina ketika kita menempatkan manusia, harta, atau kekuasaan sebagai sumber kebahagiaan.
Menjadi manusia merdeka
Dalam sudut pandang Ibnu Atha`illah, manusia dapat bebas dari sifat tamak jika kita selalu bersikap qana’ah, tawakal, dan zuhud. Qana’ah tidak sama dengan berhenti usaha namun menerima pemberian Allah dengan lapang. Tawakal bukan berarti berhenti ikhtiar namun tidak menggantungkan hasil pada ikhtiar. Zuhud tidak kita artikan membenci dunia, namun tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Akhir kata, dapat kita pahami bahwa manusia benar-benar merdeka bukan karena ia memiliki banyak harta, status sosial, atau kekuasaan. Manusia merdeka adalah manusia yang tidak menjadi budak atas keinginannya sendiri, bisa menerima apa yang sudah ditetapkan Allah, mampu usaha apabila kurang, dan tetap syukur jika mendapat nikmat.

