Konten dari Pengguna

“Wanita Selalu Benar”: Pujian Manis yang jadi Senjata Sunyi

Nurlaeli Ismilarsih

Nurlaeli Ismilarsih

Pekerja di Instansi Pemerintah

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurlaeli Ismilarsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Nuchylee/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Nuchylee/Shutterstock

“Wanita selalu benar.”

Kalimat ini sering terdengar seperti pujian manis, tapi sesungguhnya lebih mirip jurus pamungkas untuk menutup mulut perempuan. Alih-alih memuliakan, frasa ini justru jadi cara halus untuk menyalahkan. Perempuan ditempatkan sebagai tersangka utama dalam setiap babak kehidupan—entah sebagai istri, ibu, atau sekadar manusia biasa yang kebetulan punya rahim.

Standar Kesempurnaan yang Mencekik

Begitu menikah, perempuan langsung "ditempeli" standar kesempurnaan. Istri harus jago masak seperti chef televisi, cekatan mengurus rumah seperti asisten rumah tangga profesional, pandai merawat diri seperti skincare influencer, sekaligus mengasuh anak tanpa pernah lelah. Kalau bisa, tetap cantik 24 jam sehari.

Sakit? Tidak boleh. Lelah? Haram. Istirahat? Dosa besar.

Ketika Salah Selalu Ditimpakan ke Istri

Ironisnya, ketika suami berselingkuh, yang diadili bukan pelaku, melainkan istrinya. Ia dilabel kurang melayani, kurang menarik, atau kurang memahami pasangan. Perselingkuhan dianggap akibat, bukan pilihan, seolah-olah hal itu bencana alam yang merupakan takdir, bukan keputusan.

Beban Ganda sebagai Ibu

Ilustrasi ibu. Foto: Shutterstock

Sebagai ibu, beban makin berat. Anak sakit dianggap bukti kegagalan. Ibu dicap tak becus merawat, tak sigap menjaga kesehatan, dan tak mampu memberi asupan terbaik.

Padahal ketika anak berprestasi, pujian justru dialamatkan kepada ayah. “Anak Pak A hebat sekali.”

Kalau anak juara kelas, ayah disebut visioner. Kalau anak ketahuan bolos, ibu dicap gagal.

Rahim jadi Tolok Ukur

Ilustrasi rahim. Foto: Shutter Stock

Perjuangan menghadirkan keturunan pun penuh penghakiman. Perempuan dicemooh, dilabeli mandul, dan dianggap kurang layak dipertahankan, seolah rahim adalah satu-satunya nilai perempuan. Padahal, kalau suami yang bermasalah, sering kali malah ditutupi. Katanya, “Laki-laki kan nggak bisa salah.”

Kerja Domestik yang Tak Pernah Dianggap

Rumah berantakan? Istri yang salah. Dapur tak mengepul? Istri yang lalai. Piring menumpuk? Istri dianggap tak bekerja.

Padahal, kerja domestik itu tanpa jam pulang, tanpa upah, dan tanpa apresiasi. Sehari saja tugas itu terlewat, pertanyaan sinis muncul: Ngapain aja seharian?

Ketimpangan yang Dinormalisasi

Ilustrasi ibu rumah tangga kelelahan. Foto: StoryTime Studio/shutterstock

Sejak kecil, perempuan dipaksa dekat dengan dapur, sapu, kain pel, sementara laki-laki bebas dari beban serupa. Ketimpangan ini diwariskan, dinormalisasi, lalu dianggap kodrat.

Ironisnya, ketika suami sekadar membantu mengurus anak, ia disebut ayah luar biasa. Sementara itu, istri yang bekerja, mengasuh, sekaligus menopang ekonomi keluarga nyaris tak pernah dianggap istimewa.

Kesimpulan

Inilah realita perempuan yang katanya “selalu benar”, tapi hidup dalam sistem yang gemar menyalahkan. Frasa itu bukan pemuliaan, melainkan cara halus untuk mematikan suara, meredam protes, dan menuntut ketabahan tanpa batas.

Ilustrasi perempuan sedih. Foto: Shutterstock

Perempuan tidak selalu benar. Namun yang lebih jujur: perempuan terlalu sering dipaksa menanggung kesalahan yang bukan miliknya.

Dan kalau ada yang masih memaksa untuk mengatakan, “Wanita selalu benar”, mungkin jawabannya, “Iya, benar-benar sering disalahkan, benar-benar sering dituntut, benar-benar sering jadi kambing hitam.”

Kalau itu definisi “selalu benar”, silakan saja. Namun, jangan heran kalau suatu hari perempuan berhenti diam, lalu balik bertanya:

“Kalau memang wanita selalu benar, kenapa yang salah tetap kami?”