Konten dari Pengguna

AI di Perguruan Tinggi: Mitra Berpikir atau Pengganti Otak Mahasiswa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurlaila Habibah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penggunaan AI sebagai mitra berpikir dalam pembelajaran di perguruan tinggi. (Foto: Pinterest / UP-TO-DATE WebDesign)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penggunaan AI sebagai mitra berpikir dalam pembelajaran di perguruan tinggi. (Foto: Pinterest / UP-TO-DATE WebDesign)

Fenomena mengerjakan tugas dengan AI (Artificial Intelligence) sudah sangat akrab di telinga mahasiswa. Hal ini dapat terjadi karena AI menawarkan kepraktisan luar biasa bagi penggunanya. Berbagai tugas dapat diselesaikan oleh AI, mulai dari makalah, esai, operasi matematis, hingga coding dapat diatasi dengan mudah. Hanya melalui perintah singkat berupa prompt, mahasiswa dapat menyelesaikan tugasnya dalam kurun waktu hitungan detik saja. Namun, di balik kepraktisan ini AI menyimpan ancaman luar biasa, yakni ketergantungan yang lambat laun dapat menumpulkan cara berpikir kritis yang seharusnya tumbuh dan semakin berkembang di kalangan mahasiswa. Lantas, bagaimana seharusnya mahasiswa menyikapi AI?

Di perguruan tinggi, mahasiswa diberikan banyak sekali wadah sebagai tempat untuk mengembangkan keterampilannya, salah satunya adalah kemampuan untuk menganalisis, mengkritisi, dan memecahkan masalah yang ada. Namun, ketika terlalu sering menggunakan AI dapat berdampak kepada penurunan analisis ini karena telah bergantung pada jawaban instan yang diberikan oleh AI.

Namun, tidak dapat dipungkiri penggunaan AI pada masa kini sudah tidak terhentikan. Sehingga menghentikan penggunaan AI bukan merupakan langkah yang tepat, melainkan kita sebagai mahasiswa perlu mengubah cara pandang terhadap AI, bukan sebagai alat penyelesai masalah, tetapi sebagai mitra berpikir.

Sebagai mitra berpikir (thinking partner), AI tidak digunakan untuk mengambil alih seluruh proses penyelesaian masalah, tetapi sebagai pemicu kognisi dan memperluas analisis. Mahasiswa dapat memanfaatkan AI untuk brainstorming ide awal dari suatu gagasan, memetakan stuktur argumentasi, atau mencari sudut pandang lain dari isu tersebut. Dengan cara ini AI bertindak sebagai teman diskusi mahasiswa yang mampu mengevaluasi dan menantang pemikiran, bukan hanya joki digital yang mengerjakan tugas dari awal. Sehingga kendali utama, logika analisis, dan penarikan kesimpulan tetap berada pada otak mahasiswa.

Untuk menjaga batas tersebut, mahasiswa perlu menerapkan prinsip proporsi yang sehat, misalnya dengan pembagian 80/20. Porsi 80 persen yang mencakup pemahaman konsep, analisis masalah, kepekaan etis, serta narasi personal harus murni lahir dari pemikiran mahasiswa sendiri. Sementara itu, 20 persen sisanya dapat diserahkan ke AI untuk efisiensi, seperti merapikan format, evaluasi tanda baca, memperkaya kosa kata, atau mengeksplorasi referensi awal.

Selain itu, penggunaan AI sebagai mitra berpikir menuntut adanya skeptisisme akademik dari mahasiswa. Informasi yang dihasilkan dari algoritma AI tidak sepenuhnya benar dan valid bahkan AI dapat menghasilkan data fiktif atau bias, sehingga mahasiswa tidak boleh menelan informasi tersebut bulat-bulat tanpa adanya pengecekan ulang. Mahasiswa perlu melakukan verifikasi ulang setiap data, angka, informasi, dan sitasi ke sumber litelatur primer yang valid sebelum menuangkannya dalam suatu gagasan. Berikut adalah link panduan penggunaan AI secara lengkap oleh Kemdiktisaintek.

Pada dasarnya, kecerdasan buatan hanyalah sebuah alat untuk memanen informasi, sedangkan rasa empati dan ketajaman analisis tetap menjadi domain eksklusif milik manusia. Kehadiran AI di perguruan tinggi hendaknya tidak direspon dengan ketakutan atau ketergantungan buta, melainkan sebagai alat yang mempermudah kita untuk mengasah dan menajamkan kemampuan. Teknologi boleh saja mengambil alih efisiensi pekerjaan kita, tetapi jangan pernah biarkan ia mengambil alih proses berpikir kita.