Konten dari Pengguna

Pembelajaran Daring Tak Lagi Menjadi Dilema?

Nurlela Alfida Maghfiroh

Nurlela Alfida Maghfiroh

Mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Institut Teknologi Telkom Purwokerto

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurlela Alfida Maghfiroh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pembelajaran Jarak Jauh, sumber : dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pembelajaran Jarak Jauh, sumber : dokumen pribadi

Siapa yang tidak tahu dengan virus COVID-19? Ya... kita semua tentunya sudah tahu tentang virus yang sudah mewabah dan mengkhawatirkan banyak negara di 2 tahun belakangan ini. WHO sendiri telah menetapkan wabah ini berasal dari Wuhan, Cina. Pada Desember 2019. Dan pada tanggal 30 Januari 2020 ditetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD). Sangat meresahkan bukan?

COVID-19 membawa perubahan cukup signifikan terutama pada negara kita Indonesia. Ekonomi dan pendidikan termasuk perubahan sekaligus masalah yang sangat dirasakan oleh warga Indonesia akibat pandemi ini. Berbagai kegiatan dan berbagai kalangan di Indonesia turut merasakan dilema akibat adanya pandemi ini. Saya pun sangat merasakan dilema dan perubahan-perubahan itu. Apakah kalian juga merasakannya?

Kali ini saya akan membahas tentang pendidikan. Pendidikan tentu merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan. Itulah mengapa pendidikan membutuhkan perhatian lebih pada saat pandemi. Dengan adanya pandemi ini, tentu akan membawa banyak sekali perubahan yang ada dalam pendidikan dan kita harus siap untuk menghadapinya.

Pengaruh wabah sangat meresahkan pendidikan, hingga berakibat pengajar dan pelajar menjadi dilema. Sehingga ini membuat pemerintah tidak tinggal diam dan membuat kebijakan baru dalam menangani masalah pendidikan ini. Berbagai rencana dan upaya terus dilakukan. Contohnya pembelajaran yang dilakukan secara daring atau via internet yang disebut Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). PJJ menjadi alternatif yang tepat di kondisi wabah yang mengkhawatirkan.

Pernah saya mendengar Menteri Pendidikan, Nadiem Anwar Makarim mengatakan "Jadi ada satu tim khusus di bagian tim Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan) kita yang sedang merumuskan bagaimana kita mereformasi atau melakukan berbagai macam perubahan pada kurikulum dan asesmen kita selama masa PJJ ini” ini menandakan bahwa pemerintah terus melakukan upaya untuk menangani masalah pendidikan saat ini. Kebijakan ini merupakan salah satu pencegah menularnya wabah atau virus COVID-19 di Indonesia sehingga terus ditindaklanjuti.

Walaupun PJJ dianggap sebagai jalan keluar agar pendidikan tetap berjalan. Namun, faktanya kebijakan PJJ munculkan beberapa masalah baru. Di antaranya, bagi kelompok kurang mampu merasakan kesulitan untuk menjalankan kebijakan baru ini. Karena dalam melaksanakan PJJ harus memanfaatkan teknologi yang butuh biaya lebih dalam menggunakannya. Ditambah internet di Indonesia yang juga kurang maksimal terutama pada daerah-daerah yang sulit dijangkau.

Saya melihat dilema pembelajaran daring ini tidak hanya dirasakan oleh pelajar/pengajar saja, namun juga pada orang tua mereka. Contohnya pelajar yang tidak memiliki gawai, tidak adanya kuota dan internet/jaringan yang kurang mendukung dan lain-lain. Para pelajar pasti mengeluhkan kebutuhan ini pada orang tua mereka. Dan tak sedikit membuat para orang tua ikut merasakan dilema tentang biaya pembelajaran daring anaknya. Belum lagi dilema bagi kondisi ekonomi keluarga yang tidak mampu.

Semua seolah-olah menjadi kacau tak terkendali akibat hadirnya pandemi. Awal hadirnya COVID-19 di Indonesia membuat banyak masyarakat tidak percaya dengan adanya virus COVID-19 ini. Hingga mereka tidak patuh dengan kebijakan baru yang dibuat oleh pemerintah. Akibatnya angka korban terpapar virus COVID-19 terus meningkat dengan pesat dan mengancam pendidikan di Indonesia.

Kita dapat melihat sendiri banyak dampak yang muncul semasa pembelajaran jarak jauh hingga saat ini. Baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak negatif yang saya amati salah satunya, para pelajar/pengajar tidak bisa tatap muka atau beraktivitas secara langsung. Selain itu pelajar mengalami kesulitan dalam memahami materi, ini saya rasakan sendiri karena interaksi secara tidak langsung ternyata sangat sulit. Tak sedikit para pelajar merasakan semangat belajar yang menurun dan masih banyak dampak negatif lainnya.

Ternyata dibalik semua dilema terdapat banyak sisi positif yang belum kita sadari. Seperti penyampaian materi/pembelajaran dapat dilakukan lebih kreatif pada saat menggunakan teknologi. Pembelajaran seorang anak dapat dipantau langsung oleh orang tuanya. Kita sebagai pelajar/pengajar juga dapat melakukan aktivitas lain sembari melakukan pembelajaran. Dan secara tidak sadar kita telah melakukan transformasi dan membiasakan diri untuk menggunakan teknologi baik pengajar maupun pelajar. Transformasi ini membawa banyak keuntungan ke depannya bagi kehidupan kita. Keuntungan adanya pandemi juga membuat kita terbiasa untuk lebih menjaga kesehatan pada diri kita dan banyak keuntungan lainnya yang bisa kita dapatkan.

Dengan demikian adanya pembelajaran daring membuat kita semua banyak belajar. Bahwa adanya pandemi membawa tantangan sekaligus keuntungan. Dan dibalik adanya pandemi dapat kita simpulkan bahwa pandemi tidak hanya membawa dampak negatif, namun ternyata banyak sekali dampak positif yang dirasakan, terutama pada pihak-pihak yang terlibat dalam pembelajaran daring/pembelajaran jarak jauh. Terus semangat untuk selalu belajar!

Nurlela Alfida Maghfiroh, Mahasiswa S1 Bisnis Digital di IT Telkom Purwokerto