Konten dari Pengguna

Hipertensi di Pesisir: Antara Rasa Garam dan Ancaman Diam-Diam

Nur Maziyya

Nur Maziyya

Pengajar di Sub-Departemen Keperawatan Komunitas, Fakultas Keperawatan - Universitas Padjadjaran

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Maziyya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Landscape Geografis Pesisir dan Ancaman Kesehatan yang Mengintai

Source: Canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Source: Canva.com

Hipertensi kerap muncul tanpa tanda-tanda jelas, namun dapat berujung pada komplikasi serius yang mengancam nyawa. Di Indonesia, kasus hipertensi terus meningkat dan yang mengkhawatirkan adalah prevalensinya yang tinggi di wilayah pesisir. Apa yang terjadi di garis pantai kita? Mengapa masyarakat pesisir lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi?

Garam: Bumbu Kehidupan yang Menjadi Ancaman

Garam adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir. Selain karena letaknya yang dekat dengan laut, masyarakat di wilayah ini cenderung memiliki akses langsung terhadap air asin, baik secara langsung dari lingkungan maupun melalui proses pengolahan makanan tradisional seperti ikan asin, udang kering, atau hasil fermentasi lainnya. Di banyak daerah, air tanah atau sumur bahkan sudah terkontaminasi dengan kadar natrium yang tinggi akibat intrusi air laut, menjadikan konsumsi garam sebagai sesuatu yang tidak disengaja namun terus-menerus terjadi.

Tak hanya itu, budaya makan masyarakat pesisir umumnya juga mencerminkan ketergantungan terhadap makanan tinggi garam. Bukan semata karena selera, melainkan karena metode pengawetan makanan yang masih bergantung pada garam, terutama pada daerah dengan akses listrik yang terbatas.

Wilayah pesisir (Source: Dokumentasi pribadi)

Lanskap Geografis dan Kebiasaan yang Memperburuk Keaadaan

Intrusi air laut yang semakin parah akibat perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut memperburuk kondisi. Di beberapa desa pesisir, air bersih menjadi langka. Warga terpaksa mengonsumsi air dengan kadar natrium tinggi yang tidak hanya memicu dehidrasi tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan tekanan darah.

Lebih lanjut, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan rendahnya kesadaran akan pentingnya diet rendah garam membuat masyarakat pesisir sering tidak menyadari bahwa gaya hidup mereka perlahan-lahan menggerogoti kesehatan jantung dan pembuluh darah mereka.

Solusi dan Intervensi: Mengapa Perlu Langkah Khusus di Pesisir

Mengatasi hipertensi di wilayah pesisir tidak bisa dilakukan dengan pendekatan umum. Diperlukan intervensi berbasis lokal yang mempertimbangkan karakteristik geografis dan budaya masyarakat setempat. Penyediaan air bersih yang bebas dari kontaminasi garam menjadi prioritas utama. Selain itu, edukasi mengenai pola makan sehat, cara alternatif mengawetkan makanan tanpa garam, serta peningkatan akses terhadap layanan kesehatan harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Pemerintah daerah bersama komunitas lokal perlu bergerak aktif mengidentifikasi sumber-sumber natrium tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari dan memperkenalkan pola makan yang tetap mempertahankan cita rasa lokal namun lebih ramah bagi tekanan darah.

Menjaga Jantung dari Ujung Negeri

Masyarakat pesisir tidak hanya berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim, tetapi juga menjadi kelompok rentan terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi. Ironisnya, penyebabnya seringkali tersembunyi dalam hal yang tampak sepele: rasa asin di piring makan dan gelas minum mereka.

Sudah saatnya kita menoleh ke tepi negeri, bukan hanya untuk menyapa debur ombaknya, tapi juga untuk menjaga detak jantung masyarakat yang tinggal di sana.