In This Economy: Nabung Sulit, Jajan Cafe Elit

Mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nur Naeli Afwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konflik menarik di kalangan Gen Z saat ini adalah mengeluh tentang betapa sulitnya menabung tapi di sisi lain pergi ke cafe tidak lah surut baginya. Secangkir kopi, makanan ringan, dan tempat yang eyecathing terkadang bisa menghabiskan uang yang sebenarnya sudah direncanakan akan ditabung. Namun, anehnya setelah mengatakan “bulan ini harus hemat buat nabung” ajakan untuk pergi ke cafe tetap terasa sulit untuk kita tolak. Di Tengah kebutuhan yang semakin beragam juga berbagai pengeluaran yang harus dipikirkan, nongkrong di cafe menjadi salah satu kegiatan yang sulit dilepaskan.
Gaya hidup ini lah yang memicu lebih banyak lagi kedai kopi baru. Tempat itu bahkan tidak benar benar sepi, kursi-kursi penuh dengan anak muda yang membangun identitas diri dengan mengubah gaya hidup mewah. Bagi sebagian anak muda pergi ke cafe juga salah satu bentuk self reward untuk meredakan stres di tengah tekanan hidup.
Ketika saya berniat untuk menabung dan menyisihkan uang, kemudian muncul ajakan teman untuk nongkrong. Yang awalnya hanya berpikir “Cuma pesen satu kopi kok," tetapi setelah sampai ternyata ada banyak menu yang menarik, pengeluaran hemat yang direncanakan menjadi kacau balau pada akhirnya uang untuk menabung justru berpindah ke meja cafe. Karena saya juga bagian dari Gen Z maka dari itu saya ikut merasakannya.
Demi Feed Estetik, Dompet Jadi Korban
Media sosial membuat kita secara tidak langsung mengetahui tempat-tempat baru, dimana sebuah cafe viral muncul kemudian rasa penasaran datang menghantui, terlebih lagi jika banyak orang yang mengunggah foto dan video dengan suasana yang menarik. Berbagai platform seperti Instagram dan Tiktok membuat suasana nongkong menjadi sesuatu yang dapat dibagikan kepada banyak orang, kebersamaan dengan teman membuat konten adalah bagian dari keseruan yang tidak dapat dirasakan dimanapun.
Fenomena ini tidak bisa dikatakan membuat saya sepenuhnya terbebas dari pengaruh tersebut, terbesit muncul keinginan ketika melihat tempat menarik di media sosial untuk datang. Bukan berarti semua tempat harus kita datangi dan wajib mengikuti tren, tetapi penasaran yang muncul tiba-tiba memang tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu alasan kita sebagai Gen Z mencoba tempat-tempat menarik.
Kehidupan yang terlihat menyenangkan di depan layar terkadang membuat kita ingin mencoba hal yang sama di kehidupan nyata, pada akhirnya media sosial dan feed estetik bukanlah tempat untuk berbagi pengalaman tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana seseorang melihat gaya hidup.
Saldo Minta Hemat, Hati Minta Nongkrong
Menurutku menikmati hasil kerja atau uang yang dimiliki bukan berarti sepenuhnya salah. Menabung memang penting, tapi kita juga butuh ruang untuk bersenang-senang sejenak. Apalagi dengan istilah Gen Z “in this economy,” rasanya seperti mengatur uang menjadi tantangan tersendiri untuk kita. Kita sadar bahwa kebutuhan semakin banyak tetapi di sisi lain kita juga masih ingin menikmati uang meskipun terkadang harus mengeluarkan uang yang lebih. Menariknya sebenarnya kita sudah tahu bahwa sesuatu yang sudah kita beli cukup mahal dan tidak terlalu dibutuhkan, namun setelah membelinya kita malah mencari alasan agar lebih tenang. Salah satu kalimat yang sering Gen Z ucapkan di kondisi tersebut adalah “worth it kok”, padahal kalau dipikir-pikir kita hanya sedang berusaha meyakini diri bahwa uang yang kita habiskan untuk sesuatu yang belum tentu benar-benar worth it itu telah keluar sia-sia.
Yang kita lakukan justru membuat kondisi keuangan semakin berkurang dengan dalih memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Tantangan sebagai Gen Z di mana kita hidup di masa ketika self reward dan healing menjadi bagian dari gaya hidup, setelah merasa lelah kuliah atau bekerja membeli sesuatu yang kita sukai terasa seperti cara sederhana untuk membuat diri sendiri merasa bahagia.
Pada akhirnya menikmati hidup bukan dengan menghabiskan uang sebanyak mungkin, begitu juga dengan menabung bukan berarti kita harus melarang diri sendiri untuk bersenang-senang. Untuk titik tengah di antara kedua itu, jika kita ingin menikmati hidup jangan sampai demi merasa bahagia kita justru membuat diri sendiri pusing dengan memikirkan uang di kemudian hari.
Belajar Menikmati dan Belajar Mengendalikan
Menjadi dewasa mungkin sesederhana mengatakan tidak pada sesuatu yang tidak kita inginkan, meskipun kita sebenarnya mampu membelinya. Dilansir oleh Kumparan di sana menyebutkan bahwa pengamatan Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet yang menilai bahwa kebiasaan yang Gen Z lakukan dengan membelanjakan uang untuk sekadar berkuliner, nongkrong, maupun perjalanan singkat tidak semata-mata berkaitan dengan gaya hidup tetapi fenomena itu juga mencerminkan perubahan pola konsumsi.
Menurut saya hal tersebut cukup menggambarkan kehidupan Gen Z saat ini dengan kita yang belum mampu membeli rumah ataupun aset besar lainnya tetapi kita masih bisa membeli pengalaman kecil yang memerikan kebahagiaan hidup. Kegiatan nongkrong menjadi pengalaman dan waktu yang dihabiskan bersama orang-orang terdekat.
Belajar mengenai hal tersebut, kita tidak selalu berhasil mengatur keuangan dengan sempurna, tetapi setidaknya mulai memahami bahwa setiap pengeluaran memiliki konsekuensi. Maka dari itu menikmati hidup bukan seberapa sering kita mendatangi
atau seberapa banyak uang yang kita gunakan, melainkan bagaimana kita dapat menikmati setiap hal yang kita punya tanpa membuat diri sendiri kesulitan setelahnya.
Menabung dan menikmati hidup bukan dua hal yang harus dipertentangkan, keduanya dapat berjalan selama kita tahu batas dan mampu menentukan prioritas.
