Ribuan Tangga, Sejuta Doa: Ziarah Ke Makam Syekh Subakir Di Gunung Tidar

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nur Naeli Afwa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di jantung Kota Magelang, Jawa Tengah, telah berdiri sebuah bukit tingginya sekitar 503 meter diatas permukaan laut. Ia tidak megah seperti Gunung Berapi tetapi Masyarakat setempat menyebutnya dengan Paku Tanah Jawa. Bukit tersebut bernama Gunung Tidar yang diatasnya terbentang ribuan tangga mengantar seseorang ke tempat yang dihormati oleh banyak orang yaitu Makam Syekh Subakir.
Perjalanan yang tidak hanya membuat lelah tetapi juga membawa pikiran yang tenang yaitu perjalanan melewati jalur menanjak dengan ratusan hingga ribuan anak tangga menuju Makam Syekh Subakir. Setiap langkahnya terasa seperti ujian kecil mulai dari kaki yang pegal dan nafas yang mulai berat tetapi keinginan untuk sampai ke tujuan membuat perjalanan ingin terus dilanjutkan.
Ulama yang Terlupakan: Syekh Subakir
Menurut Okezone.com kisah Syekh Subakir dan Gunung Tidar mempunyai legenda di Masyarakat tradisional jawa yang dituturkan secara turun-temurun. Dikisahkan Beliau mempunyai kesaktian dan berhasil menumbalkan tanah jawa dari pengaruh negatif. Beliau merupakan ulama asal Persia yang diutus Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Utsmaniyah atau Ottoman ke Pulau Jawa pada 1404 M.
Tugas Beliau bukan langsung berdakwah melainkan meruayah atau membersihkan tanah jawa dari kekuatan gaib yang menghalangi manusia untuk tinggal. Keahliannya ia dikenal sebagai ahli menumbali daerah yang dihuni jin jahat.
Beribu Anak Tangga Melatih Kesabaran
Menuju Makam Syekh Subakir pengunjung harus melewati 1.002 anak tangga naik dan turun tapi ada yang menyebutkan bahwa jumlah tangga naik sekitar 570 dan turun sekitar 432, tangganya tidak terlalu curam, menyusup diantara pepohonan yang rimbun. Bagi sebagian orang ini ujian fisik yang nyata, pada beberapa titik terdapat tempat istirahat berupa kursi-kursi. Peziarah duduk berkelompok mengatur nafas dan minum hanya untuk melepas dahaga sambil melantunkan doa dan solawat pelan-pelan.
Mungkin tidak banyak yang tahu seberapa banyak doa yang terucap di sepanjang perjalanan menuju makam tetapi yang jelas perjalanan panjang ini membuat seseorang menghargai tujuan yang ingin dicapai, terkadang bukan tentang seberapa banyak tangga yang berhasil dilewati melainkan tentang seberapa banyak harapan yang tetap dibawa sampai langkah terakhir.
Sampainya Tujuan Perjalanan: Hening Seribu Makna
Anak tangga terakhir telah terlewati, terlihatlah Makam Syekh Subakir tidak megah dan tidak ada ukiran mewah, hanya bangunan sederhana dengan dinding merah bata yang melingkar setinggi pinggang, tetapi suasana disitu semacam kesunyian yang sulit dijelaskan. Para peziarah masuk dengan melepas alas kaki lalu duduk di sisi makam, mulai membaca tahlil, berzikir, ataupun berdoa.
Ketika selesai aktivitas berziarah di makam kita mulai untuk perjalanan pulang, perjalanan turun jauh lebih cepat. Kaki terasa lebih lelah tapi hati terasa ringan, rombongan kami berjalan bersama bercengkrama dengan santai sambil mengabadikan momen dengan foto-foto pemandangan.
Di atas ribuan tangga itu, di bawah pepohonan pinus yang menjulang, di depan makam yang sederhana, saya menyadari satu hal: perjalanan ini bukan tentang mencapai tujuan melainkan tentang menjadi lebih baik dalam setiap langkahnya.
