Imbal Hasil Obligasi Makin Tipis, Malaysia Hadapi Tekanan dari Investor Jepang

Pasar obligasi Malaysia menghadapi tekanan seiring menyusutnya selisih imbal hasil (yield) dengan obligasi Jepang. Kondisi ini berpotensi mendorong investor Jepang menarik dananya dari surat utang Malaysia, terutama jika Bank of Japan (BOJ) kembali menaikkan suku bunga.
Mengutip Bloomberg, Kamis (17/9), yield obligasi Malaysia tenor 10 tahun tercatat sekitar 115 basis poin lebih tinggi dibandingkan obligasi Jepang dengan tenor yang sama. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 5 tahun terakhir yang mencapai 278 basis poin, sekaligus turun sekitar 70 persen dari level tertingginya pada 2022.
Kepala Riset Pasar dan Perbendaharaan Regional Bank CIMB, Michelle Chia, menilai selisih yield yang semakin tipis membuat aset Malaysia menjadi relatif kurang menarik bagi investor Jepang.
“Obligasi pemerintah Malaysia menghadapi tekanan dari tingginya imbal hasil pemerintah AS.. Sementara kenaikan yield obligasi Jepang meningkatkan biaya peluang untuk berinvestasi pada aset dengan durasi panjang di luar negeri,” kata Michelle Chia.
Menurutnya, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko berakhirnya strategi yen carry trade, yakni ketika investor meminjam dana dalam mata uang yen dengan biaya rendah untuk kemudian menginvestasikannya pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain.
Berdasarkan data terbaru Bank of Japan, investor Jepang memiliki surat utang Malaysia senilai 1,1 triliun yen atau sekitar USD 7,1 miliar pada akhir 2025.
Nilai tersebut merupakan yang tertinggi sejak data mulai tersedia pada 2014. Kepemilikan terhadap surat utang Malaysia juga mencapai sekitar 13 persen dari total investasi obligasi Jepang di kawasan Asia.
Eksposur investor Jepang terhadap Malaysia bahkan lebih besar dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Indonesia, dan Filipina.
Kondisi ini menjadi semakin penting karena yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun telah naik ke level tertinggi dalam tiga dekade pada awal September. Kenaikan tersebut dipengaruhi kekhawatiran terhadap inflasi dan peningkatan belanja pemerintah, serta ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ.
Tekanan terhadap pasar obligasi Malaysia tidak hanya datang dari Jepang maupun Amerika Serikat. Faktor domestik juga turut membebani pasar surat utang Negeri Jiran.
Obligasi Malaysia telah berada di bawah tekanan dalam beberapa bulan terakhir akibat meningkatnya pasokan surat utang. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa Bank Negara Malaysia (BNM) dapat mulai menaikkan suku bunga.
BNM masih mempertahankan suku bunga acuannya pada awal September, tetapi memberikan sinyal bahwa biaya pinjaman dapat mulai dinaikkan.
Sementara itu, pasar swap memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin dalam 12 bulan ke depan mencapai 80 persen. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan akhir Agustus yang memperkirakan kenaikan kurang dari 25 basis poin.
Tekanan tersebut tecermin dari kenaikan yield obligasi pemerintah Malaysia tenor 10 tahun. Sejak akhir Juni, yield surat utang tersebut telah naik 54 basis poin dan berada di jalur kenaikan kuartalan terbesar dalam hampir satu dekade.
Strategis Suku Bunga dan Valuta Asing Asia Pasar Berkembang BNP Paribas, Chandresh Jain, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang kuat, risiko inflasi, serta tekanan fiskal akibat meningkatnya subsidi bahan bakar turut menjadi tantangan bagi pasar obligasi Malaysia.
“Kami memperkirakan aksi jual obligasi Malaysia akan berlanjut,” ujar Jain.
