Kumparan Logo

Kejar Swasembada Bawang Putih, Mentan Amran Cari Bibit Unggul ke China dan India

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Pertanian Amran Sulaiman memberikan keterangan pers usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/6/2026).  Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Pertanian Amran Sulaiman memberikan keterangan pers usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap rencana pemerintah mencapai swasembada bawang putih masih menghadapi kendala, salah satunya keterbatasan bibit unggul.

Hal ini disampaikan Amran saat menjawab pertanyaan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengenai kecukupan tambahan anggaran Rp 5 triliun untuk mendukung program swasembada, termasuk bawang putih.

"Dengan target swasembada bawang putih secepatnya, apakah cukup dengan tambahan kenaikan anggaran seperti ini?" tanya Titiek dalam rapat kerja Komisi IV bersama Kementerian Pertanian di DPR RI, Selasa (1/9).

Amran menjelaskan, Kementan sebenarnya berencana menambah anggaran hingga 2 kali lipat, namun keterbatasan bibit membuat percepatan produksi tidak bisa dilakukan seperti pada komoditas padi dan jagung.

"Kami sebenarnya mau tambah lagi dua kali lipat. Ternyata ini tidak seperti padi dan jagung. Ini harus ada dormannya, itu enam bulan," kata Amran.

Pedagang membersihkan kulit bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Senin (4/7/2022). Foto: Budi Prasetiyo/ANTARA FOTO

Demi mendapat bibit unggul, Amran menyatakan pihaknya telah mencari sumber bibit bawang putih hingga ke sejumlah negara, termasuk China dan India, sembari mulai membudidayakan bibit tersebut di dalam negeri.

"Kami ingin bergerak cepat, ternyata bibit itu tidak mudah. Sampai sudah ke China, ke India untuk memenuhi bibitnya, tapi ini kita bibitkan," ujarnya.

Ia menambahkan, kebutuhan bibit bawang putih nasional sebenarnya relatif kecil dibandingkan kebutuhan benih padi, namun ketersediaannya tetap menjadi tantangan.

Pemerintah pun mulai memperbanyak bibit yang telah diperoleh untuk mendorong produksi yang lebih besar mulai 2028.

“Kami upayakan swasembada secepatnya karena kita butuh hanya 100 ribu maksimal, sedangkan padi 7 juta. Tapi bukan karena anggarannya, tetapi ini karena bibitnya sangat terbatas," tutur Amran.

Buruh mengupas kulit bawang putih impor dari China di Kampung Cibadak RT 03/12, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Foto: Arif Firmansyah/Antara Foto

Sementara itu, Titiek Soeharto menilai pemerintah juga perlu mengoptimalkan sumber bibit dari dalam negeri. Ia menyebut kawasan Sembalun, Lombok, NTB, sebagai salah satu daerah yang memiliki bibit bawang putih berkualitas baik.

"Kita sudah bisa juga menghasilkan bibit-bibit bawang putih yang bagus. Kemarin kita sama-sama meninjau ke Sembalun. Bibitnya bagus-bagus. Nah, itu bisa diperbanyak mungkin dari situ," kata Titiek.

Selain memperbanyak bibit, Titiek mendorong pemerintah untuk mulai menyiapkan lahan pengembangan bawang putih, mengingat komoditas ini membutuhkan kondisi dan ketinggian lahan tertentu.

"Jadi sembari mencari bibit yang bagus, lahannya sudah dicari-cari dulu di mana kira-kiranya. Jadi begitu ada bibit bisa langsung tandur," ujarnya.

Ia pun mendorong lembaga riset pertanian mempercepat pengembangan bibit unggul bawang putih lokal.

"Dari BRMP-BRMP dikejar juga supaya mereka bisa menghasilkan bibit-bibit unggul untuk bawang putih," kata Titiek.

Pedagang membersihkan bawang merah di Pasar Barito Ternate, Maluku Utara, Selasa (2/9/2025). Foto: Andri Saputra/ANTARA FOTO

NTP Hortikultura Jadi Perhatian

Dalam rapat itu, Amran mengakui sektor hortikultura masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) hortikultura yang turun 2,84 persen, dari 128,11 pada Juli menjadi 124,47 pada Agustus 2026.

Menurut Amran, penurunan NTP hortikultura salah satunya dipengaruhi oleh kondisi produksi dan harga komoditas yang tidak selalu stabil.

Ia mencontohkan bawang merah, yang harganya di tingkat petani cenderung turun saat produksi melimpah sehingga menekan pendapatan petani.

"Bisa jadi bawang merah kan surplus, itu harganya jatuh. Benar, salah satu penyebab kemarin pernah mengeluh bawang merah karena surplus, ini produksinya cukup tinggi, sehingga turun, dan pada akhirnya adalah NTP-nya turun," jelas Amran.

Karena itu, pemerintah tahun ini meningkatkan anggaran untuk sektor hortikultura hingga hampir 2 kali lipat. Amran menegaskan penyelesaian persoalan pertanian dilakukan secara bertahap agar dampak anggaran lebih terasa.

"Memang fokusnya kita kemarin adalah perkebunan, peternakan, pangan, ini positif semua. Nah ini tidak bisa sekaligus. Kalau anggaran ini dibagi rata, biasanya tidak ada yang jadi. Sekarang pangan, alhamdulillah, sudah ada beras. Kemudian ayam bahkan surplus. Perkebunan juga naik. Tinggal satu pekerjaan rumah kita, hortikultura," tutupnya.