Kumparan Logo

Kursus 'Little Warren Buffett' Jadi Tren di China, Ortu Rela Bayar Rp 338 Juta

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak sekolah di China. Foto: chinahbzyg/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sekolah di China. Foto: chinahbzyg/Shutterstock

Dalam 2 tahun terakhir, kursus financial quotient (FQ) atau kecerdasan finansial untuk anak-anak semakin populer di kalangan orang tua di China.

Dikutip dari South China Morning Post, Senin (10/8), kursus tersebut dirancang untuk mengenalkan anak pada literasi keuangan dasar, kewirausahaan, serta manajemen kekayaan.

Sejumlah lembaga kursus bahkan mempromosikan program ini sebagai cara membentuk anak-anak dengan kemampuan finansial dan investasi layaknya investor ternama Warren Buffett atau yang mereka sebut 'little Warren Buffett'.

Berdasarkan data Phoenix Weekly, biaya mengikuti kursus FQ selama 7-10 hari itu mencapai 12.800 Yuan atau sekitar USD 1.900 per anak. Jika dinominalkan dalam rupiah, harga pelatihan tersebut mencapai Rp 338,5 juta (kurs Rp 17.816 per dolar AS).

Slogan seperti 'kemiskinan bukanlah status, tetapi pola pikir' dan 'kamu adalah beban bagi orang tuamu saat masih kecil, tapi kamu akan menjadi aset mereka saat kamu dewasa' menjadi bagian yang kerap disampaikan dalam pelatihan tersebut.

Popularitas pelatihan FQ bahkan membuat orang tua harus memesan tempat beberapa bulan sebelumnya. Sebagian orang tua juga mencari informasi melalui media sosial mengenai penyelenggaraan kamp tatap muka di kota mereka.

Pengusaha terkemuka AS Warren Buffett. Foto: Frederic J. Brown/AFP

Diajak Simulasi Jadi Pebisnis

Salah satu penyelenggara pelatihan, Daxiang Teenage FQ Summer Camp, mengajak siswa mengikuti simulasi pasar saham, pertemuan investor, hingga skenario perdagangan seperti produk makanan.

Dalam simulasi tersebut, anak-anak menggunakan token untuk membeli dan menjual barang. Mereka kemudian diajak mengevaluasi keuntungan dan kerugian dari transaksi yang dilakukan.

Selain itu, FQ Little General juga melatih siswanya dengan mengadakan kunjungan dan mengajak mereka untuk mengidentifikasi peluang bisnis potensial, menjual barang kecil di kios jalanan, menulis rencana bisnis, dan menyiapkan laporan keuangan.

Para siswa bahkan mengikuti simulasi roadshow dengan menyampaikan presentasi dalam bahasa Inggris dan menjawab berbagai pertanyaan dari investor.

Selain memberi pelatihan dasar, sejumlah penyelenggara menawarkan program lanjutan dengan biaya lebih tinggi. Program tersebut bertujuan mengembangkan keterampilan kepemimpinan umum atau kewirausahaan di bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika).

Sejumlah siswa sekolah dasar menghadiri kelas pada hari pertama semester baru di Wuhan, Hubei, China, Selasa (1/9). Foto: STR/AFP

Seorang ibu dari Provinsi Zhejiang mengatakan putrinya yang masih duduk di bangku SD menjadi lebih termotivasi setelah mengikuti pelatihan.

"Dia telah berubah secara signifikan. Dulu dia malas dalam belajar. Sekarang dia punya tujuan yang jelas: menghasilkan uang. Saya perhatikan dia jauh lebih fokus pada tugasnya," tulis Ibu tersebut di media sosial, dikutip dari SCMP.

Meski demikian, sebagian orang tua khawatir pelatihan FQ justru membuat anak terlalu berorientasi pada uang. Ada orang tua yang mengaku anaknya mulai meminta imbalan finansial atas prestasi akademik atau pekerjaan rumah tangga yang mereka selesaikan.

Seorang ibu dari Provinsi Henan bahkan memilih tidak mengikutkan putranya yang berusia 7 tahun ke kamp FQ. Menurutnya, program tersebut berisiko memberikan gambaran yang terlalu sederhana mengenai kesuksesan dalam bisnis.

“Ini lebih seperti pertunjukan bisnis daripada gambaran dunia usaha yang sebenarnya,” ujarnya.

Sejumlah siswa memakai masker saat kembali sekolahh di Wuhan, Hubei, China. Foto: Aly Song/REUTERS

Meningkatnya minat terhadap pelatihan FQ untuk anak-anak tidak terlepas dari kekhawatiran orang tua terhadap kondisi pasar kerja China yang semakin tertekan.

Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan tingkat pengangguran perkotaan secara keseluruhan berada di sekitar 5 persen pada Juni. Sementara tingkat pengangguran untuk kelompok usia 16-24 tahun, tidak termasuk pelajar, mendekati 15 persen.