Kumparan Logo

Peternak Keluhkan Harga Pakan Makin Mahal, Mendag Akan Bahas Peluang Subsidi

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pembeli memilih telur yang dijual di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (27/12).  Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pembeli memilih telur yang dijual di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (27/12). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah membahas langkah untuk menekan biaya produksi peternak ayam petelur, salah satunya melalui kemungkinan pemberian subsidi pakan ternak.

Hal ini dilakukan di tengah keluhan peternak terkait harga pakan yang terus meningkat dan membuat biaya produksi semakin tinggi.

“Ya, kalau dari harga, ya, salah satu faktornya memang sekarang karena harga minyak tinggi dan sebagainya. Tetapi, kan, kemarin kami juga sudah sampaikan bagaimana mengatasi ini, apakah nanti akan ada subsidi atau bagaimana," kata Budi dalam keterangannya, Kamis (8/10).

Ia menjelaskan pemerintah masih mengomunikasikan skema yang tepat untuk membantu peternak.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dalam Pembukaan Bulan Literasi Perdagangan Berjangka Komoditi 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Foto: Nur Pangesti/kumparan

“Jadi kami memang belum ketemu lagi, tapi pemerintah akan mengambil langkah agar harga itu terjangkau. Karena, kan, ya, kita sekarang lagi komunikasikan, kita akan cari solusinya,” jelas Budi.

Budi menyebut harga telur ayam ras saat ini berada di kisaran Rp 26.800 per kilogram secara nasional. Angka tersebut masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 30.000 per kilogram.

Sebelumnya, harga telur pernah berada di kisaran Rp 22.000-Rp 23.000 per kilogram. Pada saat itu, harga telur yang terlalu rendah membuat sebagian peternak kesulitan menutup biaya pakan. Menurutnya, pemerintah perlu menjaga keseimbangan harga telur agar tetap menguntungkan peternak, tetapi tidak membebani konsumen.

Pedagang menimbang telur yang dijual di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (27/12). Foto: Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

Budi menjelaskan harga acuan telur sebesar Rp 30.000 per kilogram tersebut telah ditetapkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Beberapa di antaranya yaitu biaya produksi, distribusi, serta kemampuan masyarakat membeli telur.

“Ya, jangan sampai harga terlalu rendah, nanti peternak tutup. Kalau peternak tutup, ya, telur nggak ada, terus telur langka dan telur menjadi mahal. Tetapi kita juga hitung berapa harga pasnya, jangan sampai juga konsumen terbebani. Nah, makanya ketemulah harga yang pertemuan itu yaitu Rp 30.000,” ujarnya.

Budi menyebut harga acuan telur tersebut telah ditetapkan sejak Juni 2024 dan hingga kini masih berlaku.

instagram embed