Kumparan Logo

Ramai Kabar Banyak Warga Jual Emas, Begini Faktanya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga membeli emas batangan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/9/2025). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga membeli emas batangan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/9/2025). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Kabar masyarakat ramai-ramai menjual emas mencuat di tengah pergerakan harga emas yang belakangan menurun. Kondisi tersebut disebut-sebut bahkan membuat sejumlah toko emas mulai membatasi pembelian dari masyarakat.

Untuk mengecek kebenaran kabar tersebut, kumparan langsung meninjau aktivitas jual beli emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat. Berdasarkan pantauan kumparan, sejumlah pedagang justru menyatakan kondisi di toko emas belum menunjukkan adanya lonjakan penjualan emas oleh masyarakat.

Salah satu penjual emas di Cikini Gold Center, Hilda, tidak melihat adanya lonjakan masyarakat yang datang untuk menjual emasnya. Ia justru mengungkap transaksi di tokonya saat ini cenderung lebih sepi dibandingkan bulan sebelumnya, terutama terlihat dari menurunnya jumlah masyarakat yang datang untuk membeli emas.

“Kalau di sini [ramai] jual enggak sih untuk sekarang karena harga emas lagi turun, harga jualnya juga, mungkin enggak seramai bulan kemarin jadi sekarang sempet turun,” kata Hilda saat dijumpai kumparan, Rabu (2/9).

Menurutnya, ketika harga emas turun, masyarakat justru cenderung menahan pembelian, sehingga tingkat pembelian emas di tokonya pun ikut menurun.

“Kalau bulan sekarang lebih menurun. Kalau beli cukup ramai, [tapi] enggak kayak bulan-bulan sebelumnya karena mungkin harga emas lagi turun,” ujarnya.

Ilustrasi pembelian perhiasan emas di toko emas. Foto: Istimewa

Hilda menambahkan, harga emas perhiasan tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan emas batangan seperti Antam, karena turut dipengaruhi biaya pembuatan. Saat ini, harga emas perhiasan kadar 75 persen di tokonya berada di kisaran Rp 1,95 juta.

Kondisi berbeda justru terlihat di salah satu toko emas di Plaza Melawai. Penjual di toko tersebut mengatakan penurunan harga emas malah membuat aktivitas pembelian meningkat.

“Ada yang beli, malah banyak beli karena harganya lagi turun,” ujarnya.

Menurutnya, bagi masyarakat yang membeli emas sebagai investasi, penurunan harga justru menjadi momentum untuk menambah aset, dengan prinsip membeli saat harga rendah dan menjual saat harga naik.

“Bagusnya begitu, lagi murah beli, lagi mahal jual. Itu kalau orang yang investasi. Kalau buat kebutuhan paling beli-beli sedikit. Kalau lagi tanggal muda, mungkin kalau lagi pegang duit, beli,” ujarnya.

Ilustrasi pengolahan emas. Foto: REUTERS/Denis Balibouse

Sementara itu salah satu pengunjung Cikini Gold Center, Rahma, mengatakan dirinya justru datang untuk membeli emas, bukan menjual simpanannya.

Ia mengaku rutin membeli emas logam mulia setiap bulan sebagai tabungan, sedangkan pembelian emas perhiasan tidak dilakukan secara rutin dan lebih bergantung pada kebutuhan serta kondisi keuangannya. “

Kalau logam mulia pasti beli 1 gram saja, 1 gram nabung tiap bulan. Tapi kalau perhiasan enggak selalu. Kalau ada yang lucu, uangnya cukup, ya beli,” ujarnya.

Rahma menjelaskan, emas yang dikumpulkannya ditujukan sebagai tabungan jangka panjang, termasuk untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Karena itu, ia tidak menjadikan naik-turunnya harga dalam jangka pendek sebagai alasan untuk menjual emas.

“Kalau tabungan jangan dijual jangka pendek. Insyaallah untung, bisa jadi uang kepepet. Tapi kalau beli tiga bulan dijual lagi rugi sih kayaknya. Kalau saya memang buat tabungan anak-anak, nanti kalau mereka sekolah dijualin LM-nya. Tapi lihat harga dulu. Kalau harganya turun, ya enggak mau,” tutupnya.