Kumparan Logo

Wall Street Ditutup Bervariasi, Investor Cermati Harga Minyak dan Suku Bunga AS

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Brendan McDermid/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
New York Stock Exchange (NYSE) di Wall Street, New York City. Foto: Brendan McDermid/REUTERS

Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street berakhir bervariasi pada perdagangan Kamis (24/9). Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis, sementara Nasdaq sedikit menguat dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah.

Pergerakan pasar dipengaruhi kenaikan harga minyak di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan dampaknya terhadap inflasi serta kebijakan suku bunga AS.

Dikutip dari Reuters pada Jumat (25/9), indeks S&P 500 turun 0,02 persen ke level 7.704,13. Nasdaq naik tipis 0,01 persen menjadi 26.939,37, sedangkan Dow Jones melemah 0,31 persen ke 51.349,98.

Harga minyak Brent melonjak lebih dari 3 persen hingga mendekati USD 107 per barel setelah serangan rudal Houthi ke Arab Saudi memicu kembali kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.

"Saat ini pasar masih berhadapan dengan satu katalis utama, yaitu minyak," kata Senior Investment Director di U.S. Bank Wealth Management Bill Northey.

Menurutnya, pergerakan harga minyak berkaitan erat dengan inflasi dan dampaknya terhadap suku bunga. Perubahan suku bunga kemudian dapat memengaruhi berbagai kelas aset di pasar keuangan.

Di tengah kondisi tersebut, saham perusahaan teknologi bergerak beragam. Microsoft (MSFT.O) turun 0,5 persen dan Broadcom (AVGO.O) melemah 1,3 persen. Sementara itu, saham Advanced Micro Devices (AMD.O) naik 2,4 persen.

Saham Meta Platforms (META.O) justru melonjak 4,5 persen. Kenaikan tersebut terjadi sehari setelah perusahaan media sosial itu memperkenalkan perangkat genggam berukuran kecil yang dirancang untuk digunakan bersama asisten kecerdasan buatan (AI) terbarunya.

Secara keseluruhan, delapan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor material menjadi yang mengalami penurunan terbesar, yakni 1,18 persen, diikuti sektor kebutuhan pokok konsumen yang turun 0,96 persen.

S&P 500 mencatat 14 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 41 saham yang mencetak level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq mencatat 53 saham pada level tertinggi baru dan 238 saham pada level terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 16,8 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 sesi sebelumnya yang berada di level 16,7 miliar saham.