Konten dari Pengguna

Si Unyil Untuk Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurrohman Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi Unyil Untuk Indonesia - AI generative
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Unyil Untuk Indonesia - AI generative

Ada kalanya liburan terasa kurang lengkap sebelum menonton televisi dan bertemu Unyil bersama penduduk Desa Sukamaju. Ceritanya sederhana saja. Masalahnya pun dekat dengan keseharian. Ada persahabatan, keluarga, sekolah, tetangga, kerja bakti, dan juga tingkah laku orang dewasa yang kadang membuat anak-anak bertanya-tanya. Lebih dari empat puluh tahun telah berlalu. Televisi bukan lagi satu-satunya layar di rumah. Namun, sosok anak berpeci, berbaju merah, dan bersarung tersampir di bahu itu belum sepenuhnya hilang dari ingatan.

Baru-baru ini, Si Unyil mulai muncul lagi di publik. Ia hadir di berbagai acara keluarga dan kolaborasi, contohnya pada Sabtu, 25 Juli 2026, Si Unyil dan kawan-kawan hadir dalam Festival Hari Anak 2026 di eks Taman Anggrek, Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Si Unyil dan teman-temannya ditampilkan melalui pertunjukan boneka dan pertemuan dengan pengunjung. Bahkan Direktur Utama PFN, Riefian Fajarsyah atau yang lebih dikenal dengan nama Ifan seventeen, cosplay menjadi Unyil. Kemunculannya tentu membangkitkan nostalgia bagi generasi yang tumbuh bersamanya.

Namun, akan terlalu sederhana jika kembalinya Si Unyil hanya dirayakan sebagai reuni dengan masa lalu. Pertanyaan yang lebih menarik justru muncul setelah itu, untuk apa Si Unyil kembali?

Pertanyaan ini penting untuk diajukan. Tidak banyak tokoh Indonesia yang memiliki modal seperti Si Unyil. Namanya sudah dikenal puluhan tahun. Sosoknya mudah dikenali. Lebih penting lagi, beberapa nilai yang melekat pada dirinya masih relevan hingga sekarang.

Unyil dikenal sebagai anak yang jujur, ramah, suka membantu, setia kawan, hormat pada orang tua, dan memiliki rasa ingin tahu. Dunia di sekitarnya pun terasa akrab. Ada keluarga, sekolah, tetangga, teman bermain, perbedaan pendapat, dan masalah-masalah kecil yang sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar hidup bersama.

Zaman boleh berganti. Nilai seperti kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, persahabatan, dan kerjasama tentu tidak kehilangan tempat. Yang berubah adalah cara sebuah cerita sampai kepada penontonnya.

Dulu, Unyil kita tunggu hadirnya di televisi. Sekarang, ia harus menemui masyarakat yang hidup di antara ponsel, media sosial, video pendek, online game, chat, dan berbagai hiburan lain yang datang hampir tanpa henti. Anak-anak zaman sekarang mungkin mengenal puluhan tokoh dari berbagai negara sebelum mendengar nama Si Unyil.

Jadi, tantangannya bukan hanya membawa Unyil kembali. Yang lebih sulit adalah membuatnya relevan kembali tanpa menghilangkan jati dirinya. Di situlah pembaruan diperlukan.

Unyil Tidak Harus Menjadi Unyil yang Dulu

Pembaruan bukan berarti membongkar semuanya lalu menciptakan tokoh baru. Justru bagian yang membuat Si Unyil dicintai harus tetap dipertahankan.

Nama, kepribadian, nilai moral, kedekatan dengan kehidupan masyarakat, dan identitas Indonesianya adalah dasar. Sementara itu, cara tokoh ini divisualisasikan dan bercerita bisa mengikuti perkembangan zaman.

Tampilannya bisa dibuat lebih segar. Animasi dan ekspresinya dapat dibuat lebih hidup. Ceritanya perlu bergerak dengan kecepatan yang sesuai kebiasaan penonton sekarang. Bahasanya juga bisa dibuat lebih luwes, tanpa harus memaksakan istilah populer hanya agar terlihat kekinian.

Medianya pun tidak harus lagi bergantung pada televisi. Unyil dapat hadir dalam video pendek, serial animasi, komik digital, podcast, permainan edukatif, aplikasi, pameran, hingga berbagai pengalaman interaktif. Teknologi berubah, tetapi karakter dasarnya tetap sama.

Justru di sinilah pertemuan dua generasi bisa terjadi. Orang tua menemukan sosok yang pernah mereka kenal. Sementara anak-anak bertemu dengan tokoh Indonesia yang terasa baru bagi mereka.

Tetapi, ada peluang yang menurut saya lebih besar daripada sekadar menghidupkan kembali tontonan.

Saat Unyil Membantu Menjelaskan

Komunikasi pemerintah sering memiliki masalah yang mudah disebut tetapi sulit dipecahkan, informasi penting belum tentu menarik perhatian.

Pesan tentang kesehatan, pendidikan, lingkungan, bencana, keselamatan lalu lintas, integritas, hingga pelayanan publik harus bersaing dengan derasnya konten digital yang hampir tak pernah berhenti. Di saat yang sama, bahasa institusi tidak selalu mudah diterima sebagai bahasa sehari-hari.

Akibatnya, informasi yang benar belum tentu dibaca. Penjelasan yang lengkap belum tentu dipahami. Di ruang seperti inilah Si Unyil bisa mendapatkan peran baru sebagai ikon komunikasi publik Indonesia.

Bayangkan edukasi tentang imunisasi tidak diawali dengan daftar imbauan, melainkan cerita saat salah satu teman Unyil takut disuntik. Unyil menjadi penasaran. Mereka bertanya pada tenaga kesehatan, lalu mendapatkan penjelasan dengan bahasa sederhana.

Dalam edukasi bencana, Unyil dan teman-temannya bisa mengikuti simulasi gempa. Anak-anak yang menonton tidak hanya diberi tahu apa yang harus dilakukan, tetapi melihat bagaimana tindakan itu dilakukan.

Keselamatan lalu lintas juga bisa diceritakan melalui pengalaman sehari-hari. Mengapa harus memakai helm? Mengapa menyeberang perlu di tempat yang aman? Mengapa ponsel tidak boleh dipakai saat berkendara?

Bahkan pendidikan antikorupsi tidak harus dimulai dari masalah besar. Cerita bisa berangkat dari sesuatu yang dipahami anak-anak, diantaranya dengan berkata jujur, menepati janji, bertanggung jawab, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Unyil tidak menggantikan pemerintah dalam menyampaikan informasi. Ia membantu membuat informasi itu lebih mudah didekati.

Biarkan Unyil Tetap Menjadi Unyil

Di sinilah kehati-hatian diperlukan. Jangan sampai Si Unyil hanya ditempel pada poster kementerian, berdiri di samping logo instansi, lalu membacakan slogan. Jika itu terjadi, pembaruan mungkin berhasil mengembalikan wajahnya, tetapi gagal menghidupkan karakternya.

Unyil bukan papan pengumuman. Ia menarik justru karena memiliki kehidupan. Ia bisa penasaran, salah, belajar, tertawa, membantu teman, dan menemukan jawaban dari pengalaman. Sifat-sifat itu harus tetap diberi ruang.

Bahkan akan lebih menarik jika Unyil tidak selalu menjadi orang yang paling tahu. Biarkan ia bertanya. Mengapa berita di media sosial tidak boleh langsung dipercaya? Mengapa sampah perlu dipilah? Apa yang harus dilakukan saat gempa? Mengapa imunisasi diperlukan?

Pertanyaan sederhana seperti itu sangat manusiawi. Melalui Unyil, pemerintah memiliki kesempatan menjawabnya tanpa harus terdengar sedang menggurui. Akhirnya, masyarakat tidak hanya diberitahu apa yang harus dilakukan, tetapi diajak memahami mengapa itu penting.

Satu Tokoh, Banyak Cerita

Bayangkan jika tokoh yang sama hadir terus-menerus di berbagai isu publik. Saat berbicara kesehatan, Unyil belajar bersama tenaga kesehatan. Ketika membahas bencana, ia bertemu petugas kebencanaan. Untuk keselamatan jalan, ia berinteraksi dengan polisi lalu lintas. Dalam pendidikan karakter, ia kembali ke sekolah, rumah, atau tempat bermainnya.

Cerita berganti. Tokoh yang ditemui berganti. Masalah pun berbeda. Tetapi Unyil tetaplah Unyil.

Konsistensi seperti itu berharga dalam komunikasi. Masyarakat tidak perlu dikenalkan pada tokoh baru setiap kali kampanye dimulai. Kedekatan bisa tumbuh perlahan karena tokoh yang sama terus hadir di berbagai konteks kehidupan.

Tentu, gagasan ini tidak bisa dijalankan sembarangan. Pedoman karakter harus disusun secara serius. Penampilan, pakaian, ekspresi, bahasa, sifat, nilai, sampai batas penggunaan Si Unyil perlu dijaga. Pengelolaan hak kekayaan intelektual juga harus jelas agar tokoh tersebut tidak berubah-ubah hanya karena dipakai oleh institusi yang berbeda.

Teknologi Boleh Mempercepat, Manusia Tetap Menentukan

Kecerdasan buatan membuka kemungkinan yang beberapa tahun lalu mungkin terasa terlalu mahal atau rumit. Pembuatan animasi bisa dibantu. Variasi konten bisa dikembangkan lebih cepat. Sebuah cerita bisa disesuaikan untuk berbagai media tanpa harus selalu dimulai dari awal.

Peluang itu sebaiknya dimanfaatkan. Namun, teknologi tetap dijadikan alat. Ia tidak boleh menentukan siapa Si Unyil.

Cerita, nilai, humor, kepekaan budaya, keakuratan informasi, dan arah tokoh tetap harus dalam kendali manusia. Terlebih jika suatu hari Unyil benar-benar dipakai untuk menyampaikan informasi publik. Kecepatan produksi tidak boleh dibayar dengan hilangnya kepercayaan.

Jangan Berhenti pada Kampanye Pemerintah

Akhirnya, Si Unyil terlalu besar jika hanya dijadikan alat kampanye. Dunia Unyil bisa berkembang menjadi serial animasi, film, buku, komik, permainan edukatif, museum digital, pameran, dan produk kreatif. Bahkan dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin Si Unyil ikut memperkenalkan Indonesia ke dunia.

Kita sudah terbiasa mengenal negara lain melalui tokoh yang mereka ciptakan. Dari sebuah tokoh, orang lalu mengenal makanan, bahasa, kebiasaan, kota, nilai, bahkan budaya sebuah bangsa.

Indonesia memiliki cerita yang tak kalah kaya. Kita juga memiliki tokoh yang lahir dari pengalaman masyarakat sendiri. Masalahnya, tokoh-tokoh itu harus dirawat, dikembangkan, dan diberi ruang untuk tumbuh mengikuti zamannya.

Si Unyil adalah salah satunya. Karena itu, kemunculannya kembali hari ini sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai pulang ke kenangan lama. Justru dari sinilah perjalanan baru bisa dimulai.

Unyil tidak harus tampil persis seperti empat puluh tahun lalu agar tetap menjadi Unyil. Wajah visualnya boleh berkembang. Teknologinya boleh berubah. Ceritanya bahkan harus terus bertumbuh. Ia perlu berkenalan dengan generasi yang tidak pernah menunggunya di televisi saat liburan.

Namun, ada sesuatu yang tidak boleh hilang. Saat orang melihatnya, mendengar ceritanya, atau mengikuti petualangannya, mereka tetap merasakan bahwa anak kecil itu berasal dari sini. Dari kehidupan, nilai, keragaman, dan keseharian masyarakat Indonesia.

Dulu, Si Unyil tumbuh bersama Indonesia melalui layar televisi. Kini, ia memiliki kesempatan kembali dengan peran yang lebih luas. Bukan hanya untuk dikenang. Bukan pula hanya untuk menghibur.

Ia bisa kembali untuk membantu kita belajar, memahami satu sama lain, dan bercerita tentang Indonesia dengan cara yang lebih dekat.

Si Unyil pernah tumbuh bersama Indonesia. Sekarang saatnya ia tumbuh kembali untuk Indonesia.