Sudahkah Anda Membaca Buku Hari Ini?

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); Kolomnis; Penulis puluhan buku; trainer kepenulisan, pembicara. Twitter: IG: nurudinwriter.
Tulisan dari Nurudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai dosen yang sudah mengajar lebih dari 20 tahun saya bisa merasakan perbedaan mengajar antara mahasiswa sekarang dengan yang dahulu. Ini bukan soal banding-bandingkan secara serampangan. Bukan itu. Ini hanya semacam kilas balik. Tentu akan ditinjau dari plus minusnya.
Memang membandingkan mahasiswa yang berbeda generasi dengan fasilitas pendukung berbeda terkesan tidak adil. Tentu jelas ada perbedaannya. Namun, hal ini harus saya tulis. Biar kita juga punya dokumen. Atau minimal generasi selanjutnya bisa mengaca dan belajar dari generasi-genrasi sebelumnya.
Tentu membandingkan mahasiswa dahulu dengan sekarang ada banyak ragam. Ada banyak aspek yang bisa dilihat. Ini tentu tidaklah cukup. Saya akan melihat perbandingan itu dari sisi budaya baca saja.
Dalam benak generasi yang pernah merasakan atau membandingkan mahasiswa zaman dahulu dengan sekarang tentu sudah punya kesimpulan. Bahwa tingkat budaya baca mahasiswa sekarang jauh berbeda dengan mahasiswa generasi dahulu, minimal 20 tahun yang lalu. Lalu muncul pertanyaan; jika sudah diketahui jawabannya mengapa harus dibandingkan?
Coba kita lihat sisi menarik yang layak untuk kita baca, renungkan dan ketahui. Bukan soal bahwa budaya baca generasi sekarang lebih rendah dari generasi zaman dahulu, tetapi mengapa itu bisa terjadi? Ini pertanyaan yang lebih penting dari sekadar membandingkan yang buntutnya hanya saling menyalahkan.
Bagi saya selaku dosen, tentu hal demikian sangat menarik. Setiap dosen tentu akan punya pengalaman dan merasakan sendiri bagaimana gairah membaca generasi sekarang dengan dahulu. Akan sangat kelihatan kontras.
Saat memberikan tugas ke mahasiswa sekarang mereka banyak yang mengeluh. Apalagi saat saya mewajibkan mereka untuk menyertakan minimal 5 buku sebagai daftar pustaka dalam tugas. Atau saat saya memberikan garis-garis besar proses belajar mengajar pada awal perkuliahan, mereka juga mengeluh saat saya berikan judul-judul buku yang wajib mereka baca. Dosen yang pernah mengajar tentu akan merasakan hal demikian.
Budaya Tonton dan Dengar
Memang mengubah budaya baca itu tidak mudah. Betul, sudah banyak cara dilakukan. Kampanye membaca, memberikan buku gratis, lomba dengan hadiah buku bahkan subsidi untuk membeli buku. Semua itu seolah jauh panggang dari api. Tetapi meskipun hal demikian tidak mudah diwujudkan, tentu tidak berarti keinginan dan kampanye budaya baca harus surut.
Kita lalu bertanya mengapa budaya baca kita masih rendah? Bahkan semakin turun ke bawah? Paling tidak ini jika kita kaitkan dengan membaca buku. Pertanyaan lain lalu muncul lagi, mengapa harus membaca buku? Bukankah ada bacaan lain selain buku? Bukankah bacaan lain itu juga tak kalah hebatnya? Mungkin juga isinya?
Begini. Membaca buku ini tetap perlu digalakkan dan dikampanyekan. Coba kita bandingkan antara membaca buku dengan membaca soft file. Lebih kuat mana? Apakah mata kita itu lebih tahan membaca file dan sebuah layar Hand Phone (HP) atau laptop dibanding membaca buku? Beberapa orang dengan jujur menjawab lebih enak dan nyaman membaca buku.
Kembali ke pertanyaan awal, mengapa budaya membaca kita semakin turun? Dalam kurun waktu lama budaya baca kita kalah dengan budaya tonton dan dengar. Jadi, segala sesuatu yang berkaitan dengan membaca jauh ketinggalan dengan budaya tonton dan dengar itu. Kita boleh melihat fenomena di sekitar kita.
Berapa jumlah buku yang dibaca seseorang dalam satu hari, satu minggu, atau satu bulan? Bandingkan berapa jumlah waktu yang dihabiskan saat menonton televisi, mendegarkan radio atau mengakses android? Anda tidak perlu menjawab karena semua orang sudah punya jawabannya. Jelas, bahwa membaca buku berada dalam level rendah.
Coba lihat adakah kos mahasiswa yang jumlahnya puluhan langganan koran? Namun berapa jumlah kos-kosan yang saat ini langgaran wifi? Adakah televisi juga sebagai pelampiasan budaya menonton? Tanya juga ke mahasiswa berapa jumlah buku yang dipunyai selama satu tahun? Atau selama mahasiswa? Lalu bandingkan dengan jawaban pertanyaan; berapa rupiah dihabiskan untuk membeli kuota atau memenuhi kebutuhan internet? Tidak perlu dijawab.
Coba lihat juga, seminar gratis di kampus pun belum tentu dihadiri mahasiswa. Tetapi konser musik atau pentas lain meski berbayar banyak yang menonton. Kalau yang melakukan bukan mahasiswa tentu saya tidak risau. Muncul pertanyaan, apakah mahasiswa itu harus punya budaya baca tinggi? Kalau menurut saya jawabannya pasti; iya. Mereka sedang belajar dan disiapkan menjadi calon pemimpin di masa datang.
Mengapa Harus Buku?
Membaca buku bagaimanapun juga punya kemanfaatan penting untuk pemikiran di masa datang. Bagi kecerdasan dirinya, bagi kedewasaan pola pikirnya, bagi kemantaban pergulatan kepemimpinannya di masa datang. Kalau mahasiswa sudah tidak punya budaya baca apa yang diharapkan pada genersi ini di masa datang? Mereka yang ulet dan tahan banting tentu pernah membiasakan membaca di masa lalu.
Banyak yang bertanya. Apa yang sudah pemerintah dan kampus kerjakan untuk meningkatkan budaya baca? Tentu membahas kampus dan pemerintah membutuhkan ruang dan waktu tersendiri. Dalam hal ini, tulisan ini lebih banyak menyorot problem budaya baca yang ada pada mahasiswa.
Masalahnya ada banyak sebab. Bisa jadi faktor dosennya yang memang tidak ikut merangsang dan menantang mahasiswa membiasakan diri membaca. Makanya, seorang dosen tentu harus lebih punya budaya baca tinggi dibanding mahasiswanya. Masalahnya, tidak semua dosen punya budaya baca tinggi. Dianggapnya hanya bermodal pandai berbicara di depan mahasiswa sudah cukup. Semua itu sudah cukup membuat mahasiswa takut untuk bertanya, “Pak, sudah berapa buku dibaca minggu ini?”, “Pak, sudah baca buku apa hari ini?”, “Bu, menamatkan buku judul apa minggu ini?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menggugat peran membaca dosen.
Kita tak perlu menyalahkan. Salahkanlah diri sendiri. Tak membaca memang tak dihukum. Tetapi tak membaca akan membuat masa depan bangsa dan generasi ini tidak mengalami percepatan perkembangannya. Apalagi seorang pendidik. Jadi, sudah membaca buku apa hari ini?
Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); penulis bisa dihubungi di Twitter: @nurudinwriter; IG: nurudinwriter; Facebook: Nurudin AB
