Konten dari Pengguna

Belum Jadi Kepala Sekolah, tetapi Sudah Belajar Memimpin

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Qomariah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kepala sekolah sedang memimpin rapat guru.sumber gambar: ilustrasi ai
zoom-in-whitePerbesar
Kepala sekolah sedang memimpin rapat guru.sumber gambar: ilustrasi ai

Pernahkah kita diberi begitu banyak tanggung jawab di tempat kerja, sampai tanpa sadar keputusan-keputusan penting justru mulai bergantung pada kita? Padahal, jabatan kita bukanlah pemimpin tertinggi di tempat tersebut.

Saya pernah berada dalam situasi seperti itu.

Awalnya, saya hanya menjalankan tugas sebagai guru. Namun, seiring berjalannya waktu, tanggung jawab yang diberikan semakin beragam. Bukan hanya mengajar dan mengurus kelas, tetapi juga membantu administrasi, menyusun berbagai kebutuhan sekolah, mengoordinasikan kegiatan, hingga terlibat dalam urusan yang membutuhkan pertimbangan dan keputusan.

Lama-kelamaan, saya merasa seperti menjalankan sebagian peran kepala sekolah, meskipun tidak pernah secara resmi menjabat posisi tersebut.

Tidak ada surat keputusan yang menetapkan saya sebagai kepala sekolah. Tentu saja, tanggung jawab tambahan itu juga tidak serta-merta diikuti penyesuaian penghasilan yang sebanding.

Jika dilihat dari sudut pandang pekerja, situasi seperti ini bisa terasa tidak adil. Tanggung jawab bertambah, tenaga dan pikiran terkuras, tetapi penghargaan yang diterima belum tentu sepadan.

Namun, hidup tidak selalu memberi kita pengalaman yang hanya bisa dinilai dari satu sisi.

Ketika Beban Kerja Berubah Menjadi Pengalaman

Jika hanya melihat jumlah pekerjaan dan imbalan yang diterima, mungkin saya akan merasa telah mengerjakan terlalu banyak hal di luar peran utama saya.

Akan tetapi, ketika mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, saya menemukan sesuatu yang berharga: kesempatan belajar.

Saya mulai memahami bahwa mengelola sekolah bukan sekadar mengatur guru dan siswa. Ada administrasi yang harus diselesaikan, komunikasi yang harus dijaga, masalah yang perlu dicari jalan keluarnya, serta keputusan yang harus dipertimbangkan dengan matang.

Saya juga belajar bahwa keputusan yang terlihat sederhana terkadang memiliki dampak terhadap banyak orang.

Pengalaman tersebut membuat saya memahami berbagai persoalan sekolah secara lebih luas. Hal-hal yang sebelumnya hanya saya pelajari melalui teori di bangku kuliah, perlahan menemukan bentuk nyatanya dalam pekerjaan sehari-hari.

Saya memang belum pernah menjabat sebagai kepala sekolah. Namun, pengalaman menjalankan berbagai tanggung jawab telah memberi saya gambaran tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan dikelola.

Dari sana, saya menyadari bahwa pengalaman memimpin tidak selalu dimulai setelah seseorang memperoleh jabatan. Terkadang, proses belajarnya sudah berlangsung jauh sebelum jabatan itu datang.

Ketika Kesungguhan Dianggap Cari Muka

Tentu saja, pengalaman tersebut tidak selalu berjalan menyenangkan.

Ketika seseorang terlihat lebih sering membantu pimpinan, mengambil inisiatif, atau terlibat dalam banyak urusan, orang lain bisa memiliki penilaian yang berbeda-beda.

Ada yang melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab. Namun, ada pula yang menganggapnya terlalu rajin, mencari muka, atau berusaha mengambil hati pimpinan.

Saya pun pernah menghadapi penilaian semacam itu.

Kadang terasa geli ketika kesungguhan menjalankan pekerjaan justru ditafsirkan sebagai sesuatu yang lain. Padahal, saya hanya berusaha menyelesaikan tugas yang ada di hadapan saya dan menjalankan tanggung jawab sebaik mungkin.

Namun, saya belajar bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan cara orang lain menilai diri kita.

Apa pun yang kita lakukan, akan selalu ada kemungkinan orang lain memiliki tafsir yang berbeda. Karena itu, saya memilih untuk tetap fokus pada pekerjaan dan membiarkan waktu menunjukkan bagaimana saya menjalankan tanggung jawab.

Bukan berarti semua kritik harus diabaikan. Jika ada masukan yang benar, tentu perlu diterima. Namun, kita juga tidak harus menghabiskan energi untuk membuktikan diri kepada setiap orang yang memiliki prasangka.

Pelajaran dari Pemimpin yang Tidak Selalu Menghargai dengan Layak

Ada satu hal yang kemudian saya pahami: pengalaman kerja terkadang mengajarkan sesuatu melalui situasi yang tidak ideal.

Ketika pimpinan memberikan banyak tanggung jawab, kita memang bisa memperoleh kesempatan untuk berkembang. Kita belajar mengambil keputusan, mengelola masalah, berkomunikasi, dan memahami cara kerja organisasi.

Namun, kesempatan belajar tersebut tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan pekerja.

Tanggung jawab yang terus bertambah tetap perlu diikuti kejelasan tugas, batas kewenangan, penghargaan, dan kompensasi yang layak.

Kita boleh mengambil hikmah dari pengalaman yang melelahkan, tetapi bukan berarti kita harus menganggap semua perlakuan yang tidak adil sebagai sesuatu yang wajar.

Saya bisa berterima kasih atas pengalaman yang membuat saya berkembang, tanpa harus menutup mata terhadap hal-hal yang semestinya diperbaiki.

Bagi saya, dua hal itu bisa berjalan bersamaan: mengambil pelajaran dari pengalaman dan tetap memahami nilai diri sendiri sebagai pekerja.

Sebab, loyalitas bukan berarti harus selalu mengatakan iya. Kesungguhan juga bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki batas kemampuan.

Jabatan Bisa Datang Belakangan, tetapi Pembelajaran Sudah Berjalan

Sekarang, ketika mengingat kembali pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa ada banyak hal yang saya pelajari di luar tugas utama sebagai guru.

Saya belajar melihat persoalan bukan hanya dari sudut pandang pribadi, tetapi juga dari kebutuhan lembaga. Saya belajar bahwa keputusan harus mempertimbangkan banyak pihak. Saya pun semakin memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar memberi perintah, melainkan bersedia memikul tanggung jawab dan menghadapi konsekuensinya.

Semua itu menjadi bekal berharga bagi perkembangan diri saya.

Namun, pengalaman tersebut juga memberi pelajaran bahwa seseorang tidak harus terus-menerus memikul tanggung jawab besar tanpa kejelasan posisi dan penghargaan.

Jika sebuah lembaga membutuhkan seseorang untuk menjalankan peran yang lebih luas, sudah semestinya ada pembicaraan yang terbuka mengenai tugas, kewenangan, dan kompensasinya.

Pada akhirnya, saya tidak ingin hanya mengingat pengalaman ini sebagai masa ketika saya bekerja terlalu banyak. Saya juga ingin mengingatnya sebagai masa ketika saya belajar banyak hal tentang pendidikan, organisasi, manusia, dan diri sendiri.

Saya mungkin belum pernah menjadi kepala sekolah. Namun, saya sudah mendapatkan pengalaman yang membuat saya lebih memahami apa yang harus dihadapi seorang pemimpin.

Dan jika suatu hari kesempatan memimpin benar-benar datang, saya berharap pengalaman ini membuat saya menjadi pemimpin yang bukan hanya mampu memberikan tanggung jawab, tetapi juga memahami orang-orang yang menjalankannya.

Sebab, pemimpin yang baik bukan hanya tahu bagaimana memanfaatkan kemampuan orang lain, melainkan juga tahu bagaimana menghargai, mengembangkan, dan memperlakukan mereka dengan adil.