Konten dari Pengguna

Guru Linier Belum Tentu Mudah Dipahami Siswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Qomariah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Guru sedang menjelaskan materi kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Foto: [nama fotografer]/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Guru sedang menjelaskan materi kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. Foto: [nama fotografer]/Pexels

Ketika sekolah merekrut guru, latar belakang pendidikan tentu menjadi salah satu pertimbangan. Guru memang diharapkan menguasai bidang yang akan diajarkan.

Namun, apakah guru yang pendidikannya linier otomatis mampu membuat siswa memahami materi dengan baik?

"Menurut saya, belum tentu".

Saya pernah melihat guru yang latar belakang pendidikannya tidak sepenuhnya linier dengan mata pelajaran yang diajarkan, tetapi ketika menjelaskan materi, siswa justru mudah memahami. Sebaliknya, ada juga guru yang secara akademik sesuai dengan bidangnya, tetapi ketika menyampaikan materi, siswa masih kesulitan menangkap maksudnya.

Ini bukan berarti guru yang linier tidak pintar. Persoalannya bisa saja terletak pada kemampuan menyampaikan materi atau retorika dalam pembelajaran.

Menguasai Materi Saja Tidak Cukup

Seorang guru tentu harus memahami materi yang diajarkan. Tetapi memahami materi dan mampu menjelaskan materi merupakan dua kemampuan yang berbeda.

Guru bisa saja sangat menguasai teori dan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai. Namun, jika penjelasannya terlalu rumit, terlalu cepat, atau tidak menyesuaikan bahasa dengan usia siswa, materi tersebut tetap sulit dipahami.

Sebaliknya, guru yang latar belakang pendidikannya tidak sepenuhnya linier bisa saja memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Ia mampu mencari contoh sederhana, menggunakan bahasa yang dekat dengan siswa, membaca ekspresi siswa, lalu mengubah cara menjelaskan ketika melihat siswa belum memahami materi.

Di sinilah kemampuan "retorika" menjadi penting.

Retorika dalam pembelajaran bukan sekadar pandai berbicara. Guru perlu tahu bagaimana membuka penjelasan, memilih kata, memberikan contoh, menggunakan intonasi, mengajukan pertanyaan, dan memastikan siswa benar-benar memahami apa yang disampaikan.

Karena tujuan pembelajaran bukan membuat guru terlihat pintar, tetapi membuat siswa menjadi paham.

Jangan Hanya Silau dengan Gelar

Gelar akademik tentu penting. Pendidikan formal tetap menjadi bagian dari profesionalitas seorang guru. Namun, gelar seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran ketika sekolah memilih tenaga pendidik.

Sekolah juga perlu melihat kemampuan nyata calon guru ketika berada di depan kelas.

Salah satu cara yang menurut saya bisa dilakukan adalah melalui "microteaching" atau praktik mengajar singkat sebelum seseorang diterima menjadi guru.

Dari praktik tersebut, sekolah dapat melihat bagaimana calon guru menjelaskan materi, berkomunikasi dengan siswa, mengelola kelas, memberikan contoh, dan merespons ketika siswa belum memahami penjelasan.

Dengan begitu, sekolah tidak hanya melihat apa gelarnya, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut disampaikan.

Visi dan Misi Sekolah Dimulai dari Ruang Kelas

Setiap sekolah tentu memiliki visi dan misi. Ada sekolah yang ingin mencetak siswa berprestasi, berkarakter, berakhlak, kreatif, atau memiliki kemampuan tertentu.

Namun, semua visi dan misi tersebut pada akhirnya akan bertemu di satu tempat: "ruang kelas".

Jika guru mampu menguasai materi tetapi siswa tidak memahami penjelasannya, tujuan pembelajaran tentu menjadi tidak maksimal.

Karena itu, proses rekrutmen guru perlu melihat dua sisi sekaligus: kompetensi akademik dan kemampuan mengajar.

Guru yang baik bukan hanya guru yang tahu banyak hal, tetapi juga guru yang mampu membuat apa yang diketahuinya dapat dipahami oleh siswa.

Gelar dan Kemampuan Mengajar Harus Berjalan Bersama

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa gelar tidak penting. Justru gelar dan kompetensi seharusnya berjalan beriringan.

Yang perlu dihindari adalah ketika gelar menjadi satu-satunya ukuran kualitas seseorang.

Di era sekarang, sekolah perlu lebih cermat melihat kompetensi nyata seseorang, bukan hanya dokumen yang tercantum di atas kertas.

Pada akhirnya, siswa tidak belajar dari gelar yang tertulis di belakang nama gurunya. Siswa belajar dari bagaimana guru tersebut menjelaskan, memberi contoh, membimbing, menjawab pertanyaan, dan membuat mereka merasa mampu memahami pelajaran.

Maka, ketika sekolah mencari guru, jangan hanya bertanya:

Gelar Anda apa?

Tetapi penting juga bertanya:

Kalau Anda berdiri di depan kelas, bagaimana cara Anda membuat anak-anak memahami materi?

Karena guru yang hebat bukan hanya yang menguasai ilmu, tetapi juga yang mampu mentransfer ilmu tersebut hingga benar-benar dipahami siswanya.

By : Nurul Qomariah

@Tangerang Selatan