Konten dari Pengguna

Jangan Ambil Aman Saat Tahu Kebenaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Qomariah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang yang dihadapkan pada pilihan untuk mengambil sikap ketika mengetahui sebuah kebenaran.Sumber foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang dihadapkan pada pilihan untuk mengambil sikap ketika mengetahui sebuah kebenaran.Sumber foto: Unsplash

Dalam kehidupan, ada kalanya kita berada dalam sebuah situasi ketika sebenarnya kita tahu apa yang benar dan apa yang salah.

Tetapi karena ingin aman, tidak ingin terlibat masalah, takut dijauhi, atau takut menjadi sasaran berikutnya, akhirnya kita memilih diam.

Bahkan lebih jauh lagi, kita ikut membenarkan sesuatu yang sebenarnya kita tahu tidak benar.

Menurut saya, inilah salah satu ujian terbesar dalam menjaga prinsip.

Berani melakukan yang benar ketika semua orang mendukung kita itu mudah. Yang sulit adalah tetap berdiri pada kebenaran ketika kita tahu pilihan itu bisa membuat kita tidak disukai.

Jangan Hanya Memilih Aman

Saya percaya, dalam kehidupan kita perlu punya prinsip.

Ketika melihat sesuatu yang tidak benar, jangan langsung ikut arus hanya karena orang-orang di sekitar kita melakukannya.

Kalau kita tahu sebuah cerita tidak sesuai kenyataan, jangan ikut menyebarkannya.

Kalau kita tahu seseorang sedang diperlakukan tidak adil, setidaknya jangan ikut memperburuk keadaan.

Dan kalau kita memang tidak bisa bicara, jangan sampai diam kita berubah menjadi dukungan terhadap sesuatu yang salah.

Karena ada perbedaan antara tidak mampu berbuat banyak dengan sengaja mengambil posisi aman padahal mengetahui kebenarannya.

Saya pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya kecewa ketika berada di lingkungan yang membuat saya merasa dipermalukan, baik dalam lingkungan sosial, keluarga, pekerjaan, perkuliahan, maupun pertemanan.

Padahal ketika saya memiliki kemampuan untuk membantu, saya berusaha memberikannya.

Waktu, perhatian, tenaga, bantuan, bahkan terkadang dana.

Bukan berarti saya merasa paling baik. Saya hanya percaya, kalau kita mampu membantu orang lain, mengapa tidak dilakukan?

Tetapi ternyata, berbuat baik pun tidak selalu membuat kita diperlakukan baik.

Dan dari situlah saya belajar bahwa kebaikan harus tetap berjalan bersama prinsip.

Mengikuti Teman Bukan Alasan

Ada orang yang awalnya sebenarnya tidak ingin melakukan sesuatu yang buruk.

Namun karena melihat teman-temannya melakukan hal yang sama, akhirnya ikut-ikutan.

“Yang lain juga begitu.”

“Saya cuma ikut.”

“Daripada saya yang kena.”

Saya nggak mau cari masalah.

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi kalau terus dibiasakan, lama-lama hati bisa terbiasa membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah.

Psikolog Albert Bandura menjelaskan konsep moral disengagement, yaitu ketika seseorang secara psikologis melepaskan kendali moralnya sehingga perilaku yang merugikan dapat terasa lebih mudah dibenarkan. Salah satu mekanismenya adalah mengalihkan atau menyebarkan tanggung jawab, sehingga seseorang merasa dirinya tidak sepenuhnya bertanggung jawab karena hanya mengikuti orang lain. ([SPSSI][1])

Artinya, kalimat “Saya cuma ikut mereka” tidak otomatis membuat seseorang bebas dari tanggung jawab moral.

Kita tetap memiliki pilihan.

Ketika Kejujuran Tidak Dihargai

Bagaimana kalau kita sudah bekerja jujur, tetapi justru tidak dihargai?

Apakah kemudian kita harus ikut berbuat tidak baik karena orang-orang di sekitar kita juga begitu?

Menurut saya, jangan.

Kalau lingkungan membuat kita kecewa, jangan sampai kekecewaan itu mengubah prinsip yang selama ini kita pegang.

Jangan sampai kita berpikir:

“Saya sudah jujur saja tidak dihargai. Sekarang saya ikut saja seperti mereka.”

Karena pada akhirnya, yang berubah bukan lingkungan kita.

Kitalah yang ikut berubah menjadi sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan.

Penelitian tentang ethical fading dari Ann Tenbrunsel dan David Messick menjelaskan bahwa dalam situasi tertentu, aspek moral dari sebuah keputusan bisa “memudar” karena perhatian kita lebih tertuju pada kepentingan pribadi, tekanan situasi, atau keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Akibatnya, seseorang bisa mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan nilai moralnya tanpa lagi melihat persoalan tersebut sebagai persoalan etika. ([ResearchGate][2])

Karena itu, menjaga prinsip bukan hanya soal mengetahui mana yang benar.

Tetapi juga tentang tetap memilih yang benar ketika pilihan itu tidak menguntungkan kita.

Jangan Jadikan “Ambil Aman” sebagai Kebiasaan

Menurut saya, ambil aman sesekali mungkin terlihat seperti cara menyelamatkan diri.

Tetapi kalau menjadi kebiasaan, kita bisa kehilangan keberanian untuk berdiri pada prinsip.

Hari ini kita diam ketika melihat sesuatu yang salah.

Besok kita ikut membenarkan.

Lusa mungkin kita justru ikut melakukan.

Tanpa sadar, batas antara benar dan salah menjadi semakin kabur.

Saya menyebutnya sebagai tabungan keburukan.

Bukan karena setiap kesalahan pasti langsung mendapatkan balasan saat itu juga. Tetapi setiap keputusan yang kita ambil ikut membentuk siapa diri kita.

Kita sedang menanam sesuatu dalam diri sendiri.

Kalau yang terus ditanam adalah kejujuran, keberanian, dan kebaikan, mudah-mudahan itulah yang tumbuh dalam kehidupan kita.

Sebaliknya, kalau yang terus ditanam adalah kebohongan, ketidakpedulian, dan kebiasaan membenarkan yang salah, kita sendiri yang sedang membentuk karakter tersebut.

Seperti Menegakkan Salat

Bagi saya, menjaga prinsip dalam kehidupan mirip dengan menjaga salat.

Kondisi boleh berubah.

Tempat boleh berubah.

Suasana hati boleh berubah.

Tetapi ada sesuatu yang tetap harus dijaga karena memang itu prinsip kita.

Begitu juga dengan kejujuran.

Jangan hanya jujur ketika keadaan menguntungkan.

Jangan hanya berbuat baik ketika orang lain memperlakukan kita dengan baik.

Dan jangan hanya memegang prinsip ketika tidak ada risiko yang harus kita hadapi.

Justru ketika berada dalam keadaan sulit, di situlah prinsip kita benar-benar diuji.

Saya Pernah Kecewa, tetapi Tidak Ingin Berubah

Saya tidak menulis ini karena merasa sudah menjadi orang yang paling benar.

Justru saya menulisnya karena saya juga pernah kecewa.

Saya pernah merasa dipermalukan.

Pernah merasa tidak dihargai.

Pernah memberikan waktu, tenaga, perhatian, bantuan, bahkan dana kepada orang lain, tetapi akhirnya mengalami hal yang tidak saya harapkan.

Tentu sakit.

Tentu ada keinginan untuk berkata, “Kalau begitu, buat apa saya baik lagi?”

Tetapi semakin saya jalani hidup, saya justru belajar bahwa perlakuan buruk orang lain tidak boleh menentukan siapa diri kita.

Kalau orang lain tidak jujur, bukan berarti saya harus ikut tidak jujur.

Kalau orang lain suka menjatuhkan, bukan berarti saya harus belajar menjatuhkan.

Kalau orang lain memilih mengambil aman dengan mengorbankan orang lain, bukan berarti saya harus melakukan hal yang sama.

Karena saya tidak ingin menjadi baik hanya ketika keadaan baik.

Saya ingin tetap memiliki prinsip meskipun keadaan sedang tidak berpihak.

Kebenaran Tidak Selalu Membuat Kita Populer

Mungkin orang yang berani memegang prinsip tidak selalu menjadi orang yang paling disukai.

Kadang justru dianggap terlalu idealis.

Terlalu serius.

Tidak bisa diajak kompromi.

Atau bahkan dianggap mencari masalah.

Tidak apa-apa.

Selama yang kita pertahankan memang kebenaran dan dilakukan dengan cara yang baik, saya rasa tidak semua penilaian orang harus kita jadikan beban.

Kita tidak mungkin mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang kita.

Tetapi kita masih bisa mengendalikan bagaimana kita bersikap.

Dan saya percaya, harga diri tidak selalu terlihat dari bagaimana banyak orang membela kita, tetapi dari bagaimana kita tetap menjaga diri ketika tidak ada yang melihat.

Jangan Takut Kehilangan Tempat karena Memegang Prinsip

Ada kalanya mempertahankan prinsip membuat kita kehilangan sesuatu.

Mungkin kehilangan teman.

Mungkin kehilangan kenyamanan.

Mungkin kehilangan kesempatan.

Atau bahkan harus meninggalkan sebuah lingkungan.

Tetapi saya mulai percaya bahwa kehilangan tempat yang tidak sesuai dengan nilai kita tidak selalu merupakan sebuah kerugian.

Bisa jadi justru Allah sedang mengarahkan kita menuju tempat yang lebih baik.

Yang penting, jangan kehilangan diri sendiri hanya demi mempertahankan sebuah tempat.

Karena pekerjaan bisa dicari.

Lingkungan bisa berubah.

Pertemanan bisa berganti.

Tetapi ketika prinsip dan integritas sudah kita korbankan berkali-kali, membangunnya kembali tidak selalu mudah.

Pada Akhirnya, Kita Akan Mempertanggungjawabkan Pilihan Kita

Saya tidak tahu kapan dan bagaimana setiap perbuatan akan kembali kepada seseorang.

Karena itu saya tidak ingin sibuk menunggu orang lain mendapatkan balasan.

Saya lebih ingin sibuk memastikan apa yang saya tanam dalam hidup saya sendiri.

Kalau hari ini kita tahu sesuatu itu salah, jangan ikut hanya karena ingin aman.

Kalau kita tahu seseorang tidak bersalah, jangan ikut menyudutkannya hanya karena takut berbeda.

Kalau kita tidak mampu membela, setidaknya jangan ikut menyakiti.

Dan kalau kita sedang kecewa karena kejujuran kita belum dihargai, jangan menjadikan itu alasan untuk meninggalkan prinsip.

Jangan bosen menjadi orang baik. Tetapi jadilah orang baik yang juga punya prinsip.

Karena kebaikan tanpa prinsip bisa membuat kita mudah dimanfaatkan.

Sementara prinsip tanpa kebaikan bisa membuat kita keras terhadap orang lain.

Maka keduanya perlu berjalan bersama: hati yang baik dan keberanian untuk tetap berada di jalan yang benar.

Mungkin hari ini orang lain tidak melihat perjuangan kita.

Mungkin hari ini kejujuran kita terasa sia-sia.

Mungkin hari ini kita justru terlihat kalah karena memilih tidak ikut melakukan sesuatu yang salah.

Tidak apa-apa.

Jangan takut terlihat kalah karena memilih benar.

Sebab yang paling penting bukan siapa yang menang hari ini, tetapi siapa yang masih bisa berdiri dengan hati yang tenang ketika semuanya sudah berlalu.

Dan saya ingin tetap menjadi orang yang bisa mengatakan kepada diri sendiri:

“Saya mungkin pernah kecewa, pernah dipermalukan, dan pernah tidak dihargai. Tetapi saya tidak membiarkan semua itu mengubah saya menjadi orang yang tidak saya kenal.”

💔💪

By : Nurul Qomariah

@Tangerang Selatan