Konten dari Pengguna

Jangan Kapok Menjadi Orang Baik, Meski Pernah Dikecewakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Qomariah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang guru berhijab mendampingi siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Foto: Irwan Zahuri/Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Seorang guru berhijab mendampingi siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Foto: Irwan Zahuri/Pexels.

Pernah merasa sudah bekerja sekuat tenaga, memberikan yang terbaik, bekerja dengan jujur dan tulus, tetapi pada akhirnya justru merasa semua yang dilakukan tetap salah?

Kecewa, pasti.

Sedih, tentu.

Apalagi ketika kebaikan yang kita lakukan justru dibalas dengan tuduhan, fitnah, atau sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

Saya sendiri pernah berada di posisi itu. Bahkan bukan hanya sekali. Ada beberapa tempat di mana saya merasa sudah bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi akhirnya justru mengalami kekecewaan dan fitnah.

Rasanya tentu tidak mudah.

Ada Luka yang Tidak Mudah Diceritakan

Ada satu bagian dari pengalaman itu yang sampai sekarang masih sulit saya lupakan.

Fitnah yang saya alami bahkan sampai dibawa kepada seorang ustaz yang cukup dikenal masyarakat. Cerita tentang saya disampaikan dari satu pihak. Dalam sebuah kesempatan di hadapan jamaah yang jumlahnya tidak sedikit, kemudian keluar ucapan yang sangat menyakitkan bagi saya.

Kurang lebih, ucapan yang saya dengar adalah:

“Kalau saya, saya umrohkan. Biar guru tersebut diazab Allah di Mekah sana.”

Mendengar ucapan seperti itu tentu membuat hati saya sangat sakit.

Sebagai orang yang memahami agama, saya justru berharap persoalan seperti ini disikapi dengan tabayun terlebih dahulu. Mendengarkan cerita dari kedua belah pihak, mencari tahu duduk perkaranya, kemudian mengambil sikap dengan lebih hati-hati.

Bagi saya, persoalannya bukan hanya tentang siapa yang benar atau siapa yang salah.

Yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang yang tidak mengetahui cerita dari sisi saya sudah memberikan penilaian dan bahkan mengucapkan doa buruk berdasarkan cerita dari satu pihak.

Ucapan itu kemudian semakin memperkeruh keadaan. Persoalan yang awalnya sudah membuat saya kecewa berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius, bahkan sampai muncul pembicaraan mengenai proses hukum.

Sebagai manusia, tentu saya sakit hati.

Saya sempat bertanya-tanya, mengapa orang yang sudah berusaha bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh bisa mendapatkan perlakuan seperti itu?

Saya juga sempat merasa sangat tidak berdaya.

Tetapi semakin lama saya berpikir, saya tidak ingin membawa luka itu menjadi kebencian.

Saya tidak ingin membalas doa buruk dengan doa buruk.

Saya juga tidak ingin berharap keburukan terjadi kepada siapa pun.

Cukuplah Allah yang menjadi tempat saya mengadu dan mengetahui seluruh kejadian yang sebenarnya.

Saya mungkin tidak bisa menjelaskan semuanya kepada semua orang, tetapi saya percaya Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia.

Ikhlas Bukan Berarti Melupakan

Dari kejadian itu saya belajar bahwa mengikhlaskan bukan berarti kita harus melupakan semuanya.

Ada pengalaman yang terlalu dalam untuk begitu saja dilupakan.

Tetapi kita bisa belajar mengikhlaskan kejadian itu sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Mungkin memang ada fase yang harus kita lewati sebelum sampai pada tempat yang lebih baik.

Daripada terus bertanya, “Kenapa saya diperlakukan seperti itu?”, mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?”

Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk bermuhasabah.

Mungkin ada cara kita yang perlu diperbaiki. Mungkin ada sikap yang perlu dikoreksi. Atau mungkin memang sudah waktunya kita berpindah ke tempat yang lebih sesuai.

Saya tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tetapi saya bisa memilih bagaimana menjalani hidup setelah kejadian itu.

Dan mungkin, itulah bentuk keikhlasan yang sebenarnya sedang saya pelajari: bukan melupakan luka, tetapi berhenti membiarkan luka itu mengendalikan hidup saya.

Jangan Kapok Bekerja dengan Hati

Setelah mengalami kekecewaan, jangan sampai kita berubah menjadi orang yang bekerja seadanya hanya karena takut disakiti lagi.

Tetaplah bekerja dengan baik.

Tetap jujur.

Tetap memberikan yang terbaik.

Tetap bekerja dengan hati.

Karena saya percaya, apa pun yang dilakukan dengan hati akan lebih mudah sampai ke hati orang lain.

Apalagi dalam dunia pendidikan.

Mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi. Ada anak-anak yang bisa merasakan apakah gurunya benar-benar peduli atau hanya sekadar menyelesaikan kewajiban.

Ketika seorang guru mengajar dengan tulus, perhatian kecil, kesabaran, dan kepeduliannya bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi murid.

Tentu bekerja untuk mendapatkan penghasilan adalah hal yang wajar. Kita semua membutuhkan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Namun bagi saya, bekerja bukan hanya tentang berapa besar gaji yang diterima.

Ada kepuasan ketika apa yang kita kerjakan memberikan manfaat bagi orang lain.

Mungkin Bukan Kita yang Salah Tempat

Sekarang saya mulai memahami bahwa tidak semua tempat harus menjadi tempat kita bertahan selamanya.

Ada tempat yang mengajarkan kita kesabaran.

Ada tempat yang mengajarkan kita ketegasan.

Ada tempat yang membuat kita kecewa.

Dan ada pula tempat yang akhirnya membuat kita merasa, “Ternyata saya memang pantas berada di sini.”

Saat ini saya bersyukur berada di tempat yang bisa menerima saya.

Saya merasa diterima oleh lingkungan kerja, oleh murid-murid, bahkan oleh pimpinan.

Sebuah keadaan yang membuat saya semakin percaya bahwa terkadang Allah memang memindahkan kita dari satu tempat bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena ada tempat lain yang lebih sesuai untuk perjalanan kita.

Bahkan saat ini saya mendapat kepercayaan untuk menangani dua divisi dalam satu yayasan.

Bagi saya, itu bukan sekadar soal jabatan atau kepercayaan. Ini menjadi pengingat bahwa ketika kita terus berusaha, menjaga niat, dan tetap istiqomah, Allah bisa memberikan sesuatu yang tidak pernah kita duga.

Jangan Bosen Jadi Orang Baik

Kalau hari ini kamu sedang kecewa dengan pekerjaanmu, sedang merasa tidak dihargai, atau bahkan sedang berada dalam situasi yang membuatmu ingin menyerah, jangan buru-buru menganggap semuanya sudah berakhir.

Bersabar bukan berarti kita harus terus bertahan di tempat yang membuat kita hancur.

Bangkit juga bukan berarti membalas perlakuan buruk dengan keburukan.

Kadang yang perlu kita lakukan adalah pergi dengan baik, memperbaiki diri, lalu mencari tempat yang lebih baik.

Tetapi sebelum itu, jangan lupa bermuhasabah.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah ada sikap saya yang perlu diperbaiki?

Apakah niat saya dalam bekerja sudah benar?

Apakah saya sudah memberikan yang terbaik?

Apa pelajaran yang bisa saya bawa dari tempat sebelumnya?

Karena bisa jadi, bukan hanya tempatnya yang perlu kita tinggalkan. Ada juga sikap dalam diri kita yang perlu kita perbaiki.

Percaya, Akan Ada Tempat Terbaik

Saya tidak tahu bagaimana perjalanan orang lain setelah mengalami kekecewaan.

Tetapi dari pengalaman saya sendiri, saya belajar satu hal:

Jangan pernah kapok menjadi orang baik hanya karena pernah diperlakukan tidak baik.

Tetap bekerja dengan jujur.

Tetap tulus.

Tetap berusaha.

Tetap belajar.

Dan tetap istiqomah.

Kalau suatu tempat membuat kita kecewa, mungkin bukan berarti kita gagal. Bisa jadi memang tempat itu bukan untuk kita.

Dan ketika waktunya tiba, Allah akan mempertemukan kita dengan tempat yang lebih sesuai dengan niat, usaha, dan keteguhan kita.

Untuk siapa pun yang saat ini sedang struggling, sedang kecewa, atau sedang merasa tidak dihargai dalam pekerjaan: sabar, jangan menyerah, dan bangkitlah.

Cari tempat yang lebih baik, tetapi jangan lupa membawa pelajaran dari tempat sebelumnya.

Perbaiki apa yang memang perlu diperbaiki. Luruskan kembali niat. Kemudian teruslah melangkah.

Karena kita tidak pernah tahu, mungkin tempat yang sedang kita cari itu sebenarnya sedang dipersiapkan Allah untuk kita.

Jangan bosen jadi orang baik. Jangan kapok bekerja dengan hati.

Sebab ketika niat kita baik, usaha kita sungguh-sungguh, dan kita tetap istiqomah, insyaallah akan ada waktunya kita menemukan tempat di mana kita bukan hanya bekerja, tetapi juga merasa diterima dan dihargai.

Semoga Allah selalu menjaga langkah kita, menjaga hati kita dari rasa dendam, dan mempertemukan kita dengan orang-orang serta lingkungan yang baik.

Dan untuk diriku sendiri, semoga tempat yang sekarang menjadi tempat yang baik untuk bertumbuh, belajar, dan mengabdi. Semoga ke depan semuanya berjalan baik dan Allah senantiasa memberikan penjagaan.

Aamiin. 🤍

By : Nurul Qomariah

#Tangerang Selatan