Ketika Guru Harus Menjalankan Banyak Peran

Saya mahasiswa Unpam semester 7, dan sehari2 ngajar di salah satu SD islam di daerah tangerang selatan.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nurul Qomariah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi guru ternyata bukan hanya tentang berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, lalu memberikan nilai kepada siswa.
Di balik kegiatan belajar mengajar, ada banyak pekerjaan lain yang terkadang tidak terlihat.
Ada administrasi yang harus diselesaikan, kegiatan sekolah yang harus dipersiapkan, proposal yang harus dibuat, kegiatan kesiswaan yang harus dijalankan, bahkan ada guru yang harus menjalankan beberapa tugas sekaligus karena keterbatasan sumber daya manusia.
Saya pernah berada di posisi tersebut.
Awalnya saya berpikir, tugas utama saya adalah mengajar. Namun dalam perjalanan, ternyata peran yang harus dijalankan jauh lebih banyak.
Dan salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika harus mengajar di kelas yang memiliki siswa dengan ADHD.
Mendampingi Siswa ADHD Tanpa Bekal yang Lengkap
Ketika pertama kali berhadapan dengan siswa dengan ADHD, saya menyadari bahwa mengajar anak dengan kebutuhan yang berbeda tidak cukup hanya dengan mengandalkan teori yang pernah dipelajari.
Saya tidak memiliki lisensi khusus sebagai pendamping anak berkebutuhan khusus.
Di sekolah pun tidak ada shadow teacher yang secara khusus mendampingi siswa tersebut.
Akhirnya, saya banyak belajar dari situasi yang terjadi setiap hari.
Saya mengamati perilakunya, mencoba memahami apa yang membuatnya nyaman atau tidak nyaman, memperhatikan kapan ia mulai kehilangan fokus, dan mencari cara agar proses pembelajaran tetap dapat berlangsung.
Terkadang yang bekerja bukan teori yang rumit.
Yang bekerja justru kesabaran.
Dan mungkin juga sedikit “insting keibuan”.
Sebagai guru, saya belajar bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda untuk menerima perlakuan dan memahami pelajaran.
Ada saat ketika siswa membutuhkan ketegasan.
Ada saat ketika ia justru membutuhkan pendekatan yang lebih lembut.
Ada pula saat ketika guru harus menunggu sampai emosinya kembali stabil sebelum pembelajaran dapat dilanjutkan.
Dari situ saya belajar bahwa mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi.
Mengajar juga tentang mengenali manusia yang sedang kita didik.
Ketika Guru Kelas Harus Memegang Banyak Peran
Belum selesai dengan tugas mengajar, masih ada tanggung jawab lain yang harus dijalankan.
Saya pernah membantu pekerjaan administrasi yayasan, ikut membuat proposal, mengurus kegiatan keputrian, menyiapkan materi adab, dan terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah.
Kemudian ada pula tugas di bidang kesiswaan.
Kegiatan tersebut membuat saya harus berkunjung ke sekolah lain untuk memperkenalkan program dan melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sekolah.
Jika dilihat satu per satu, mungkin masing-masing tugas terlihat sederhana.
Tetapi ketika semuanya dilakukan oleh orang yang sama, beban tersebut terasa berbeda.
Pekerjaan utama sebagai guru tetap berjalan.
Kelas tetap harus diurus.
Materi tetap harus disiapkan.
Siswa tetap membutuhkan perhatian.
Sementara pekerjaan tambahan juga menunggu.
Pada akhirnya, seorang guru bukan hanya menjadi pengajar.
Ia bisa sekaligus menjadi admin, panitia kegiatan, pembuat proposal, pengelola program, bahkan ikut membantu urusan promosi sekolah.
Ketika Tanggung Jawab Bertambah, tetapi Penghargaan Tidak Selalu Mengikuti
Ada satu hal yang cukup sering dirasakan oleh guru dengan banyak tugas: tanggung jawab dapat bertambah lebih cepat daripada penghargaan yang diterima.
Ketika ada pekerjaan tambahan, kita berusaha mengerjakannya.
Ketika ada kegiatan sekolah, kita ikut membantu.
Ketika ada kebutuhan administrasi, kita mencoba menyelesaikannya.
Ketika ada program yang membutuhkan tenaga, kita turun tangan.
Tetapi pada akhirnya, tidak semua tambahan tanggung jawab selalu diikuti dengan perubahan posisi, kewenangan, atau penghargaan yang sebanding.
Di titik tertentu, muncul rasa lelah.
Bukan semata-mata karena pekerjaannya berat.
Tetapi karena seseorang bisa merasa telah memberikan lebih banyak daripada yang terlihat dari posisi resminya.
Pengalaman seperti ini membuat saya menyadari bahwa persoalan kesejahteraan guru bukan hanya tentang nominal gaji.
Ada juga persoalan beban kerja, pembagian tugas, kejelasan peran, dan penghargaan terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Guru Sering Kali Belajar dari Lapangan
Menariknya, pengalaman tersebut justru membuat saya melihat kembali apa yang dipelajari di bangku kuliah.
Di kelas, kita mempelajari manajemen, kepemimpinan, komunikasi, organisasi, konflik, sumber daya manusia, dan berbagai teori pendidikan.
Ketika berada di lapangan, teori-teori tersebut ternyata memiliki bentuk yang berbeda.
Manajemen bukan hanya tentang buku.
Saya melihatnya ketika harus membagi waktu antara mengajar dan tugas tambahan.
Komunikasi bukan hanya tentang definisi.
Saya mengalaminya ketika harus berkoordinasi dengan rekan kerja, pihak sekolah, orang tua, maupun pihak lain.
Konflik juga bukan sekadar materi perkuliahan.
Konflik muncul ketika kepentingan, keterbatasan tenaga, waktu, dan pembagian tugas bertemu dalam satu situasi.
Di situlah saya mulai memahami bahwa kuliah dan pekerjaan ternyata bisa saling melengkapi.
Apa yang dipelajari di kampus menjadi lebih mudah dipahami ketika melihat penerapannya secara langsung.
Dari Lelah, Ada Pengalaman yang Tidak Bisa Dibeli
Jujur, menjalani banyak peran seperti itu melelahkan.
Ada masa ketika saya bertanya kepada diri sendiri, mengapa harus mengerjakan begitu banyak hal?
Tetapi setelah melewati semuanya, saya mulai melihat sisi lainnya.
Saya menjadi tahu bagaimana mendampingi siswa dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Saya belajar membuat proposal.
Saya belajar mengurus kegiatan.
Saya belajar berkomunikasi dengan banyak pihak.
Saya belajar tentang administrasi.
Saya belajar tentang kesiswaan.
Saya belajar bagaimana sebuah sekolah menjalankan programnya.
Dan yang paling penting, saya belajar bagaimana sebuah organisasi berjalan ketika sumber daya manusianya terbatas.
Semua pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang tidak selalu bisa didapat hanya dari ruang kuliah.
Ketika Guru Diberi Banyak Peran
Pengalaman ini juga membuat saya semakin memahami bahwa banyak guru menjalankan pekerjaan yang jauh lebih luas daripada sekadar mengajar.
Ketika jumlah tenaga terbatas, satu orang bisa memegang beberapa tanggung jawab sekaligus.
Di satu sisi, kondisi tersebut membuat guru mendapatkan pengalaman yang sangat luas.
Namun di sisi lain, pembagian tugas tetap perlu diperhatikan agar beban kerja tidak terus bertambah tanpa batas.
Guru juga manusia.
Mereka membutuhkan waktu untuk mempersiapkan pembelajaran, beristirahat, mengembangkan kemampuan, dan menjalani kehidupan di luar sekolah.
Karena itu, ketika membicarakan kualitas pendidikan, mungkin kita tidak hanya perlu berbicara tentang kualitas guru dalam mengajar.
Kita juga perlu melihat bagaimana guru diperlakukan dan bagaimana beban kerjanya dikelola.
Pada Akhirnya, Semua Menjadi Pengalaman
Saya tidak ingin melihat pengalaman tersebut hanya sebagai cerita tentang lelah atau banyaknya pekerjaan.
Saya memilih melihatnya sebagai bagian dari perjalanan belajar.
Tidak semua pengalaman menyenangkan.
Tidak semua tanggung jawab terasa ringan.
Tidak semua usaha mendapatkan penghargaan seperti yang diharapkan.
Tetapi setiap pengalaman meninggalkan sesuatu.
Dari seorang siswa dengan ADHD, saya belajar tentang kesabaran dan pentingnya memahami kebutuhan individual anak.
Dari pekerjaan administrasi, saya belajar tentang ketelitian.
Dari kegiatan kesiswaan, saya belajar tentang komunikasi dan organisasi.
Dari berbagai konflik dan keterbatasan, saya belajar bahwa teori yang dipelajari di bangku kuliah ternyata benar-benar hidup di dunia kerja.
Mungkin inilah salah satu sisi lain dari profesi guru yang jarang terlihat.
Guru bukan hanya orang yang mengajarkan ilmu kepada siswa.
Dalam banyak keadaan, guru juga terus belajar dari kehidupan yang terjadi di dalam kelas dan lingkungan sekolahnya sendiri.
Dan meskipun perjalanan itu terkadang melelahkan, setiap pengalaman pada akhirnya bisa menjadi bekal untuk menjadi guru yang lebih memahami manusia, lebih peka terhadap keadaan, dan lebih siap menghadapi dunia pendidikan yang sebenarnya.
By : Nurul Qomariah
#Tangerang_Selatan
