Kuliah di Usia 40, Bukan Berarti Terlambat

Saya mahasiswa Unpam semester 7, dan sehari2 ngajar di salah satu SD islam di daerah tangerang selatan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Nurul Qomariah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memutuskan kuliah ketika usia sudah 40 tahun bukan berarti kita terlambat. Justru di usia ini, keputusan untuk kembali belajar biasanya sudah melewati banyak pertimbangan. Bukan sekadar ikut-ikutan, tetapi karena memang ada tujuan yang ingin dicapai.
Hal pertama yang menurut saya perlu dipastikan adalah kesiapan dana. Kuliah membutuhkan biaya, bukan hanya untuk membayar pendidikan, tetapi juga transportasi, tugas, buku, dan kebutuhan lainnya. Jangan sampai semangat kuliah besar di awal, tetapi kemudian berhenti karena persoalan biaya.
Selain dana, ada dua hal lain yang tidak kalah penting: mental dan disiplin waktu.
Kuliah di usia 40-an berarti harus pintar membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, keluarga, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Tidak selalu mudah. Ada hari ketika tugas kuliah datang bersamaan dengan pekerjaan rumah dan tanggung jawab lainnya. Namun, di situlah kedisiplinan benar-benar diuji.
Omongan Orang Tidak Perlu Menjadi Penghalang
Ketika memutuskan kuliah di usia yang tidak lagi muda, tentu ada saja komentar dari orang lain. Ada yang menganggap kuliah hanya membuang uang, bahkan ada yang berpandangan bahwa di usia tersebut seseorang seharusnya lebih fokus mengurus keluarga.
Komentar seperti itu pernah saya dengar dari lingkungan sekitar. Bahkan, saya pernah mendengar pandangan serupa dari beberapa orang di lingkungan akademik.
Bagi saya, setiap orang memiliki pilihan dan perjalanan hidup yang berbeda.
Kalau dana sudah dipersiapkan, keluarga sudah memahami, dan kita memang memiliki tujuan, mengapa harus berhenti hanya karena komentar orang lain?
Usia bukan alasan untuk berhenti belajar.
Pengalaman Hidup Justru Menjadi Bekal
Ada anggapan bahwa mahasiswa yang lebih tua mungkin akan kesulitan mengikuti perkuliahan karena sudah lama tidak belajar. Saya justru merasakan hal yang berbeda.
Pengalaman hidup membuat beberapa tugas terasa lebih mudah untuk dipahami karena materi yang dipelajari bisa dikaitkan dengan kejadian nyata. Teori yang sebelumnya hanya dibaca di buku ternyata sering saya temukan dalam kehidupan sehari-hari maupun pekerjaan.
Banyak pengalaman sulit yang pernah dilewati juga membuat saya lebih terbiasa menghadapi masalah.
Ketika mendapatkan tugas yang terasa berat, saya belajar untuk tidak langsung menyerah. Saya mencoba mencari jalan keluar, mengatur waktu, dan menyelesaikannya sedikit demi sedikit.
Jadi, pengalaman hidup bukan selalu menjadi penghambat. Dalam banyak keadaan, pengalaman justru bisa menjadi modal untuk belajar.
Ketika Berhadapan dengan Teman yang Jauh Lebih Muda
Tantangan lainnya adalah lingkungan pertemanan. Di kelas, saya bertemu teman-teman yang usianya bahkan hampir separuh usia saya.
Perbedaan usia kadang membuat cara berpikir dan cara berkomunikasi berbeda. Ada kalanya saya merasa kurang nyaman ketika mendapatkan perlakuan yang menurut saya kurang menghargai usia maupun pengalaman.
Namun, saya belajar untuk tidak membalas sikap tersebut dengan sikap yang sama.
Saya memilih tetap menjalankan peran sebagai mahasiswa: hadir, mengerjakan tugas, berdiskusi, dan berkomunikasi dengan baik.
Saya juga menemukan bahwa usia tidak harus menjadi jarak dalam berdiskusi. Dengan dosen maupun teman, saya berusaha berkomunikasi secara wajar dan terbuka. Bukan karena ingin mencari perhatian, apalagi mencari muka, tetapi karena memang nyaman berdiskusi dan menyampaikan pendapat.
Menurut saya, komunikasi yang baik tidak selalu ditentukan oleh usia. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membawa diri, menghargai orang lain, dan memiliki sesuatu yang bisa disampaikan.
Kuliah Bukan Tentang Usia, tetapi Tentang Kesiapan
Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa kuliah bukan perlombaan siapa yang paling cepat lulus.
Ada orang yang kuliah setelah lulus SMA, ada yang baru memiliki kesempatan di usia 30-an, bahkan 40-an.
Jalannya berbeda, tetapi tujuannya sama: terus belajar dan berkembang.
Karena itu, jika seseorang ingin kuliah di usia 40 tahun atau lebih, menurut saya yang perlu dipersiapkan bukan hanya keberanian.
Pastikan dana tersedia, mental siap, waktu bisa diatur, dan yang paling penting adalah istiqomah menjalani prosesnya.
Akan ada tugas yang menumpuk. Akan ada hari ketika lelah. Mungkin juga ada perkataan orang yang membuat kita ragu. Bahkan, lingkungan perkuliahan tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan.
Tetapi semua itu bisa menjadi bagian dari proses belajar.
Pada akhirnya, usia 40 bukan tanda bahwa seseorang harus berhenti bermimpi. Justru bisa menjadi usia ketika kita semakin tahu apa yang ingin kita capai dan mengapa kita harus memperjuangkannya.
Belajar tidak mengenal usia. Yang menentukan adalah kemauan, kesiapan, disiplin, dan kemauan untuk terus berjalan meskipun jalannya tidak selalu mudah.
By : Nurul Qomariah
@Tangerang Selatan
