Konten dari Pengguna

Kuliah Sambil Kerja dan Mengurus Rumah Tangga: Ketika 24 Jam Terasa Tidak Pernah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Qomariah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang perempuan mengerjakan aktivitas rumah tangga sambil menggunakan laptop, menggambarkan tantangan membagi waktu antara pekerjaan rumah dan tanggung jawab kuliah. Foto: Sarah Chai/Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Seorang perempuan mengerjakan aktivitas rumah tangga sambil menggunakan laptop, menggambarkan tantangan membagi waktu antara pekerjaan rumah dan tanggung jawab kuliah. Foto: Sarah Chai/Pexels.

Ada masa ketika satu hari terasa terlalu singkat.

Pagi harus bekerja. Setelah itu ada urusan keluarga yang menunggu. Di sela-selanya ada tugas kuliah, diskusi, presentasi, membaca materi, sampai kegiatan kampus yang terkadang harus dilakukan di luar jadwal perkuliahan.

Bagi sebagian orang, kuliah adalah aktivitas utama. Bagi sebagian lainnya, pekerjaan menjadi prioritas. Tetapi bagaimana jika seseorang harus menjalankan keduanya sekaligus, sambil tetap mengurus rumah tangga tanpa bantuan asisten rumah tangga?

Di situlah pembagian waktu tidak lagi sesederhana membuat jadwal di kalender.

Tiga Peran dalam Satu Waktu

Menjadi mahasiswa berarti memiliki tanggung jawab akademik.

Menjadi pekerja berarti memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan.

Sementara menjadi ibu rumah tangga berarti ada keluarga dan pekerjaan rumah yang tetap membutuhkan perhatian.

Ketiganya tidak bisa begitu saja dihentikan ketika salah satunya sedang membutuhkan perhatian.

Saat berada di tempat kerja, pikiran tentang tugas kuliah terkadang masih muncul.

Saat mengerjakan tugas kuliah, ada pekerjaan rumah yang belum selesai.

Ketika sedang mengurus rumah, ada tugas kampus yang belum dikerjakan.

Bukan karena tidak bisa mengatur waktu. Kadang memang karena terlalu banyak tanggung jawab yang harus berjalan dalam waktu yang sama.

Ketika Tugas Kampus Berbenturan dengan Pekerjaan

Salah satu tantangan terbesar mahasiswa yang bekerja adalah ketika kegiatan kampus berlangsung pada waktu yang bersamaan dengan jam kerja.

Ada tugas yang cukup dikerjakan dari rumah. Namun, ada pula kegiatan yang mengharuskan mahasiswa hadir secara langsung atau keluar dari lingkungan kampus.

Bagi mahasiswa yang tidak bekerja, mungkin hal tersebut lebih mudah diatur.

Tetapi bagi mahasiswa pekerja, satu kegiatan kampus bisa menjadi persoalan yang lebih panjang.

Harus meminta izin.

Harus mengatur pekerjaan yang ditinggalkan.

Harus memikirkan siapa yang akan menggantikan tugas sementara.

Dan ketika bekerja di tempat yang jumlah sumber daya manusianya terbatas, persoalannya menjadi semakin rumit.

Ketika Kita Pergi, Ada Orang Lain yang Harus Mengambil Alih

Di tempat kerja, terutama lingkungan sekolah, pekerjaan tidak berhenti hanya karena satu orang sedang tidak berada di tempat.

Jika seorang guru harus mengikuti kegiatan tertentu, kelas tetap harus berjalan.

Artinya, ada guru lain yang mungkin harus membantu menangani kelas tersebut.

Masalahnya, guru yang membantu juga memiliki tanggung jawab sendiri.

Di sinilah muncul perasaan tidak enak.

Di satu sisi, kegiatan kampus merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai mahasiswa.

Di sisi lain, meninggalkan pekerjaan berarti ada orang lain yang mungkin harus menanggung pekerjaan tambahan.

Kondisi seperti ini bisa membuat seseorang merasa serba salah.

Bukan tidak mau mengikuti kegiatan kampus.

Bukan pula tidak peduli dengan teman kerja.

Hanya saja, ada dua tanggung jawab yang sama-sama harus dijalankan.

Surat Tugas Bukan Berarti Meminta Perlakuan Khusus

Ketika kegiatan akademik berhubungan dengan jam kerja, salah satu hal yang dibutuhkan mahasiswa pekerja adalah bukti bahwa kegiatan tersebut memang berkaitan dengan kewajiban perkuliahan.

Surat tugas atau surat keterangan dari kampus dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi antara mahasiswa dan tempat kerja.

Namun, dalam praktiknya, komunikasi seperti ini tidak selalu berjalan mulus.

Mahasiswa bisa merasa bahwa dirinya hanya sedang mencari jalan agar kewajiban kuliah dan pekerjaan dapat berjalan beriringan.

Sementara pihak lain bisa saja memiliki pemahaman berbeda.

Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah.

Mahasiswa perlu menjelaskan kondisinya dengan baik, tetapi juga perlu memahami bahwa pihak kampus maupun tempat kerja memiliki aturan dan tanggung jawab masing-masing.

Yang dicari seharusnya bukan perlakuan istimewa.

Yang dibutuhkan adalah solusi yang memungkinkan tanggung jawab tetap berjalan tanpa membebani pihak lain secara berlebihan.

Pulang Kerja Bukan Berarti Hari Selesai

Bagi ibu rumah tangga, selesai bekerja bukan berarti selesai beraktivitas.

Masih ada rumah yang harus diurus.

Ada kebutuhan keluarga.

Ada pekerjaan rumah.

Dan jika tidak memiliki pembantu, sebagian besar pekerjaan tersebut harus dikerjakan sendiri atau dibagi bersama anggota keluarga.

Setelah semuanya selesai, barulah ada kesempatan membuka laptop dan mengerjakan tugas kuliah.

Tidak jarang, tugas dikerjakan ketika tubuh sudah lelah.

Mata ingin beristirahat, tetapi deadline tidak ikut tidur.

Di sinilah perjuangan mahasiswa yang kuliah sambil bekerja sering kali tidak terlihat.

Orang lain mungkin hanya melihat hasil akhirnya: tugas sudah dikumpulkan, kuliah tetap berjalan, pekerjaan tetap dilakukan.

Padahal, ada waktu istirahat yang berkurang dan energi yang harus dibagi ke banyak arah.

Belajar Memahami Diri Sendiri

Menjalani banyak peran juga mengajarkan bahwa tidak semua hal dapat diselesaikan dengan sempurna.

Ada hari ketika pekerjaan berjalan lancar tetapi tugas kuliah terbengkalai.

Ada hari ketika tugas kuliah selesai tetapi rumah belum tertata seperti yang diinginkan.

Ada pula hari ketika semuanya terasa berat dan yang bisa dilakukan hanyalah menyelesaikan satu tanggung jawab terlebih dahulu.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan mengenali batas diri menjadi penting.

Meminta bantuan ketika memang memungkinkan bukan berarti lemah.

Mengatur prioritas bukan berarti mengabaikan tanggung jawab lain.

Dan beristirahat bukan berarti malas.

Justru, seseorang membutuhkan energi yang cukup untuk dapat menjalankan berbagai perannya dalam jangka panjang.

Bukan Mencari Kemudahan, Hanya Berusaha Menemukan Keseimbangan

Kuliah sambil bekerja dan mengurus rumah tangga bukan berarti ingin mendapatkan perlakuan khusus.

Ada tanggung jawab yang tetap harus diselesaikan.

Tugas kuliah tetap harus dikerjakan.

Pekerjaan tetap harus dijalankan.

Keluarga tetap membutuhkan perhatian.

Yang sering kali dibutuhkan adalah komunikasi yang baik dan sedikit ruang untuk saling memahami.

Ketika mahasiswa menjelaskan kondisi pekerjaannya, bukan berarti sedang melawan aturan.

Ketika rekan kerja keberatan mengambil alih kelas, bukan berarti mereka tidak peduli.

Masing-masing orang bisa saja sedang berusaha mempertahankan tanggung jawabnya sendiri.

Karena itu, mencari jalan tengah menjadi lebih penting daripada mencari siapa yang paling salah.

Dua Puluh Empat Jam Tetap Sama

Pada akhirnya, semua orang memiliki waktu yang sama: 24 jam dalam sehari.

Yang berbeda adalah jumlah tanggung jawab yang harus dijalankan di dalamnya.

Bagi seseorang yang hanya memiliki satu peran utama, pembagian waktu mungkin terasa lebih sederhana.

Tetapi bagi mereka yang bekerja, kuliah, sekaligus mengurus rumah tangga, satu hari bisa terasa seperti harus memuat tiga kehidupan sekaligus.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ada tugas kuliah yang mengejar.

Ada keluarga yang membutuhkan perhatian.

Dan semuanya berlangsung hampir bersamaan.

Mungkin karena itu, kuliah sambil bekerja dan mengurus rumah tangga bukan sekadar tentang **pandai mengatur waktu**.

Lebih dari itu, ini tentang belajar mengatur tenaga, emosi, prioritas, dan komunikasi dengan orang-orang di sekitar.

Sebab terkadang masalahnya bukan karena kita tidak mampu melakukan semuanya.

Kita hanya sedang berusaha melakukan terlalu banyak hal dengan waktu yang tetap sama: 24 jam.