Konten dari Pengguna

Belajar di TikTok Lebih Menarik dari Kelas, Apakah ini Ancaman Edukasi?

Nurul Azkia

Nurul Azkia

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Azkia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tangan yang terikat pada platform TikTok di tengah buku, melambangkan gangguan dan tantangan modern terhadap produktivitas. Foto: M/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tangan yang terikat pada platform TikTok di tengah buku, melambangkan gangguan dan tantangan modern terhadap produktivitas. Foto: M/Shutterstock

Dalam perkempangan teknologi yang semakin terlihat saat ini, Tiktok yang awalnya hanyalah sebagai platform untuk ruang hiburan singkat kini berperan sebagai alat bantu belajar yang banyak digemari pelajar. Tidak sedikit siswa yang mengaku lebih mudah memahami rumus matematika atau bahkan grammar dari video yang hanya 60 detik di TikTok dibandingkan duduk 2 jam di dalam ruang kelas. Bahkan kita semua kadang mengalami hal ini, tiba-tiba bisa paham hanya karena menonton video TikTok yang hanya 1 menit.

Apakah ini pertanda kelas makin tertinggal, atau justru TikTok makin canggih dalam menangkap perhatian generasi belajar?

Kenyataannya saat ini, belajar tak lagi hanya sebatas di dalam ruang kelas. Di Tengah arus digital dan kemampuan teknologi, Tiktok justru muncul sebagai salah satu sumber alternatif yang banyak digemari anak muda, termasuk Gen Z. banyak konten edukatif yang tumbuh di platform ini mulai dari tips belajar, penjelasan grammar, Sejarah hingga rumus matematika. Dan para kreator dalam konten tersebut terdiri dari pelajar, guru bahkan dosen yang membagikan materi secara singkat, visual dan sesuai gaya Gen Z.

Mengapa TikTok lebih menarik bagi pelajar?

Tiktok menyampaikan informasi hanya dalam kurun waktu yang singkat mulai dari 15 detik hingga 3 menit, ini cocok dengan rentang perhatian Gen Z yang cenderung pendek. Dengan Pelajaran yang dikemas secara visual, animasi, musik, suara narasi dan gaya storytelling atau humor yang lebih mudah dipahami, diingat dan lebih ringan.

Bahasa yang digunakan TikTok cenderung Santai dan mengikuti trend membuat terasa dengan kehidupan pelajar dan tidak seperti di ceramahi. Ini membuat proses belajar tidak membosankan. TikTok mempunyai algoritma yang sangat efektif dalam menyesuaikan konten dengan minat pengguna. Jika seorang pelajar suka konten belajar, algoritma akan terus merekomendasikan video serupa, memperkuat kebiasaan belajar tanpa terasa dipaksa.

Pada konten TikTok juga terdapat kolom komentar sebagai tembat berdiskusi, bahkan membuat balasan, yang dapat menciptakan pembelajaran dua arah. Bahkan seperti yang kita ketahui TikTok mempunyai fleksibilitas dapat diakses kapanpun dan dimanapun, pelajar bisa belajar sambil rebahan, di transportasi umum, atau di sela waktu istirahat.

Belajar Kilat, Risiko Cepat: Kelemahan Edukasi Lewat TikTok

Dibalik semua keunggulan TikTok seagai media pembelajaran, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama dalam konteks Pendidikan. Durasi Pelajaran yang pendek pada Tiktok seringkali hanya inti singkat tanpa penjelasan mendalam yang menyembabkan pemahaman yang tidak lengkap. Validitas informasi yang tidak selalu terjamin karena tidak semua kreator memiliki latar belakang pendidikan yang kuat. Selain itu, pelajar mudah untuk terdistraksi oleh konten hiburan yang lain pada platform tersebut, sehingga fokus belajar menjadi teralihkan.

Sifat adiktif TikTok membuat pelajar mudah terjebak scroll dengan niat awal yang hanya belajar satu video, tapi akhirnya bisa habiskan waktu berjam-jam. Pembelajaran yang efektif membutuhkan diskusi dan umpan balik yang tidak terbatas dan tidak menggantikan hubungan antara guru dan siswa. Tak hanya itu, beberapa materi yang membutuhkan latihan mendalam seperti pemrograman, penulisan esai, atau analisis literatur memerlukan proses berpikir dan latihan mendalam yang kurang cocok disampaikan melalui video pendek.

Kelas Tak Perlu Tersaingi, Tapi Harus Beradaptasi

kehadiran platform seperti TikTok tidak seharusnya sebagai ancaman bagi pembelajaran di ruang kelas. Tapi ini menjadi sinyal untuk pembelajaran siswa. Alih-alih merasa terancam, guru justru dapat belajat dari Tiktok dengan cara penyampaian materi yang singkat, menarik dan relevan.

Menggabungkan pendekatan digital ke dalam kelas bukan berarti mengorbankan kualitas, melainkan memperluas cara penyampaian yang lebih kontekstual dan menarik. Pendekatan bukan hanya mendekatkan materi pelajaran ke dunia nyata siswa, tapi juga melatih keterampilan komunikasi, berpikir kritis, dan kolaborasi yang penting antara guru dan siswa. Pendekatan ini bisa dengan beradaptasi di dalam kelas, misalnya dengan menggunakan konten digital, proyek video, tugas kreatif atau bahkan presentasi yang lebih interaktif.

Dengan begitu, suasana belajar menjadi lebih hidup dan dekat dengan kebiasaan Gen Z. Sekolah dan TikTok tidak perlu saling bersaing, karena keduanya bisa saling melengkapi: sekolah tetap menjadi ruang belajar utama yang mendalam dan terstruktur, sementara platform digital seperti TikTok bisa menjadi pelengkap yang ringan, cepat, dan membangun minat belajar secara informal.

TikTok hanyalah alat. Kelas hanyalah tempat. Yang terpenting adalah semangat belajar dan mau terus berkembang. Yuk belajar dimana saja, tapi jangan lupa bijak dalam memilah konten.