Konten dari Pengguna

Representasi Etnisitas dan Ketidakadilan Gender dalam Film Uang Panai' 2016

Nurul Fatimah

Nurul Fatimah

Sarjana Ilmu Komunikasi di Univesitas Ahmad Dahlan domisili saat ini di Yogyakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Fatimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Nurul Fatimah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan)

Representasi Etnisitas dan Ketidakadilan Gender dalam Film Uang Panai' 2016
zoom-in-whitePerbesar

Seperti yang kita ketahui, saat ini film di Indonesia terlihat semakin marak dan beragamnya film-film hasil karya anak bangsa. Karya film yang dihasilkan memiliki banyak genre menuntut untuk mengisi hasrat atau keinginan penonton yang bermacam-macam, di Indonesia dalam memastikan genre film lebih mengikuti perkembagan trend yang memang diinginkan oleh penonton, dari musim genre romantis, komedi hingga horror, dan juga tidak jarang bahwa sebuah film mengambil unsur tentang budaya Indonesia. Salah satu film budaya pertama yang tembus Box Office adalah film Uang Panai’ 2016.

Tradisi adat istiadat uang panai’ ini berasal dari Suku Bugis Makassar, Sulawesi Selatan. Uang panai’ termasuk tuntutan atau syarat untuk pria yang ingin menikahi wanita yang berasal dari suku Bugis untuk memenuhi kebutuhan pernikahan maupun kebutuhan pribadi calon pengantin wanita. Nilai uang panai’ juga tidak terbilang sedikit, bahkan dapat mencapai hingga miliyaran rupiah, tergantung dari kelas atau strata calon pengantin wanita seperti kecantikan, keturunan, pendidikan, sampai pekerjaannya. Meski demikian, uang panai’ masih dapat didiskusikan oleh keluarga para calon mempelai. Uang panai’ yang sangat tinggi, sering menjadi perbincangan. Memang sejak dahulu para orang tua yang berasal dari Suku Bugis hanya ingin melihat bahwa calon menantunya dapat bersungguh-sungguh untuk memenuhi syarat uang panai’ tersebut agar dapat menikahi putri yang telah Ia rawat dengan penuh cinta.

Representasi Budaya Bugis Makassar dalam film Uang Panai’ Maha(l)r menampakkan pergi merantau, meminta pendapat dan restu, penjajakan, kekerabatan, peminangan dan harga diri yang menjadi ciri khas masyarakat Bugis Makassar sehingga seiring berjalannya waktu telah berkembang menjadi sebuah budaya yang melekat pada masyarakat BugisMakassar. Film Uang Panai’ Maha(l)r memberikan pelajaran bagi kita untuk dapat lebih memahami suatu kebudayaan dari berbagai sudut pandang, dan akan lebih baik lagi jika kita memahami dari sudut pandang masyarakat yang bersangkutan. Karena, kearifan lokal yang dimiliki oleh suku-suku di Indonesia sangat beragam. Walaupun kadang terkesan kuno dan kurang beradaptasi pada arus perkembangan zaman, namun selalu ada nilai filosofis bijaksana yang terkandung dalam hampir setiap ajarannya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rosdalina, M.Hum. dalam bukunya yang berjudul Perkawinan Masyarakat Bugis (2016) sejarah dan perkembangan hukum adat sudah didapat pada jaman kuno, pengaruh kultur tersebut sangat besar sehingga akhirnya kultur asli yang sejak lama menguasai tata kehidupan Indonesia itu terdesak. Kenyataan yang ada pada hukum adat hidup dan berkembang di masyarakat merupakan hasil akulturasi antara peraturan-peraturan hidup yang dia bawa oleh kultur Hindu, Islam, dan Kristen.

Film Uang Panai' Maha(l)r merupakan film yang menyampaikan pemikiran melalui kebudayaan yang ada. Film Uang Panai Maha(l)r atau Uang Mahar mengisahkan tentang perjuangan seorang pria yang hendak menikahi tambatan hatinya. Keduanya sama–sama asli orang Bugis Makassar. Wanita tersebut merupakan gadis dari keturunan keluarga yang berada, wanita yang sudah memiliki pekerjaan yang baik, bahkan juga sudah beribadah umroh. Sedangkan prianya hanya dari kalangan keluarga yang sederhana. Berbicara mengenai tradisi pernikahan Bugis memang tidak terlepas dari uang panai’. Dengan melatarbelakangi kehidupan sepasang kekasih yang berbeda ini. Nampak diperjelas dalam filmnya, saat bagaimana perjuangan pria tersebut mengalami kendala ketika mengetahui besaran jumlah nilai uang panai yang harus Ia keluarkan untuk memenuhi persyaratan yang ditetapkan dari pihak keluarga wanita terbilang sangat besar bagi keluarga pria. Seiring berjalannya waktu, sang kekasih belum juga bisa memenuhi persyaratan dengan jumlah nominal yang diinginkan dari pihak keluarga wanita, hingga saat dimana ada seorang pria lain yang tidak lain adalah anak dari teman lama orang tua wanita yang ternyata dijodohkan dengan gadisnya tersebut. Lantaran bisa memenuhi uang panai' dengan nominal yang juga lebih besar. Melihat tradisi uang panai' yang nampak di dalam film, menampilkan suatu pernikahan adat Bugis besaran nilai uang panai' sangat ditentukan dari pihak keluarga wanita.

Gan Gan Giantika dalam artikel yang berjudul Representasi Ketidakadilan Gender Pada Film Uang Panai (Analisis Isi Kuantitatif Ketidakadilan Gender Dalam Film Uang Panai’) yang dimuat dalam Jurnal Komunikasi No. 2 Vo. 8 tahun 2017 menyebutkan bahwa ketidakadilan sebanyak dari sisi marginal diperlihatkan pria baru bekerja dan pria pekerja rendahan, berarti dalam film ini menunjukan bahwa jika orang yang baru lulus pendidikan memiliki pekerjaan yang rendahan. Dalam film ini ditunjukan bahwa pengambilan keputusan untuk menentukan pernikahan diputuskan oleh keluarga wanita, selain itu juga yang menentukan kewenangan yang lain mengena pernikahan seperti besarnya mahar dan lainnya adalah keluarga wanita. Dalam film ini diperlihatkan bahwa pria memiliki peranan yang minim dibanding wanita, disinilah bentuk ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender lain dari sisi kekerasan juga diperlihatkan fisik yaitu adanya adegan berkelahi karena merebut dan mempertahankan wanita. Ketidakadilan gender dari segi beban ganda menggambarkan bahwa suku bugis tuntutan pria harus lebih besar dari pria suku lain dalam menikahi wanita Suku Bugis dengan strata sosial yang tinggi. Semua pembahasan di atas tentang film Uang Panai' terbukti bahwa ketidakadilan gender mendominasi isi pesan film tersebut. Total ketidakadilan gender dalam film Uang Panai’ Maha(l)r ini terdiri dari 174 kali adegan ketidakadilan gender. Dari hasil pengamatan film Uang Panai’ dalam masyarakat Bugis Makassar, pengambilan keputusan untuk menentukan pernikahan di putuskan oleh keluarga wanita, seperti besarnya mahar dan lainnya adalah ketentuan keluarga wanita. bahwa pria dengan strata rendah tidak memiliki kemampuan dan kekuatan untuk mewujudkan semua keinginnya mempelai wanita yang memiliki tingkat strata yang lebih tinggi.

Namun, pada dasarnya film Uang Panai’ Maha(l)r ini memiliki banyak pesan moral yang didasari pada kebudayaan Bugis Makassar dan pesan-pesan tersebut dapat dijadikan pelajaran untuk kita dalam memahami kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bugis Makassar maupun masyarakat dari berbagai etnis dan suku lainnya, serta memberikan pelajaran bagi kita untuk dapat lebih memahami suatu kebudayaan dari berbagai sudut pandang, dan akan lebih baik lagi jika kita memahami dari sudut pandang masyarakat yang bersangkutan. Karena, kearifan lokal yang dimiliki oleh suku-suku di Indonesia sangat beragam. Walaupun kadang terkesan kuno dan kurang beradaptasi pada arus perkembangan zaman, namun selalu ada nilai filosofis bijaksana yang terkandung dalam hampir setiap ajarannya.