Konten dari Pengguna

Jakarta

Nurul Firmansyah

Nurul Firmansyah

Lawyer and Environment Enthusiast

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta itu melting pot, ceruk semua struktur dan identitas, dari dunia sampai yang akhirat. Kota ini adalah “kampung besar” berbagai entitas itu, berpilah-pilah dalam wacana besar, memikat semua elemen peradaban. Jakarta adalah ruang depan dari berbagai pergulatan eksistensi, dari yang personal sampai dengan yang komunal. Ada dan kadang meniadakan sesama, berbaur dan berkompetisi.

Secara personal, Jakarta adalah mimpi indah sekaligus mimpi buruk. Dia menghipnotis jutaan konsumen dan penggembira dalam riak transaksi tiada henti. Ramai, gemerlap namun mengandung sepi. Sepi yang menikam jiwa warga, tiada ampun hingga dirimu tidak lagi mengenal terma sepi itu, larut ke seluruh tubuhmu melalui jejaring darah yang kau miliki.

Lihatlah, gedung megah yang mampu menampung satu populasi kecamatan, gerbong-gerbong KRL yang mengangkut ribuan pekerja, mal gemerlap penuh pernak-pernik mempesona, tiada jua mampu memenuhi kesepian Jakarta. Sepi dalam pusatnya yang terang sekaligus sesak penuh simbol artifisial, lipstick kehidupan yang tak nyata.

Sunda kelapa, itulah nama awalnya, pintu terdepan peradaban pajajaran yang kemudian diperebutkan oleh Mataram Jawa dan bangsa-bangsa Kolonial. Kolonialisme kemudian menjadi pemenang. Kemenangan yang dibangun diatas paksaan monopoli. Monopoli yang memungkinkan pemillahan identitas-identitas kelas rasial. Itulah Batavia, nama lain dari pelabuhan kecil sunda kelapa itu. Sekarang, dia menjadi pusat dari segala yang pusat itu.

Memang, Jakarta masih pada tempatnya yang sama. Tempat pelbagai peristiwa terjadi, dari yang heroik sampai yang naif. Peristiwa-peristiwa itu adalah kisah panggung besar yang bernama Jakarta. Panggung yang menampilkan kisah-kisah penting maupun tidak penting, dengan segenap penghayatan dari aktor-aktornya.

Penonton menikmati semua pertunjukan tersebut, dengan sukarela maupun dengan paksaan. Penonton itu kadang kita, kadang mereka, kadang juga paras-paras yang tak terlihat. Tapi pasti, klimaks memuncak pada akhir kisah dramatis dan anti klimaks pada kisah biasa, datar dan membosankan.