kumparan
KONTEN PENGGUNA
10 Agustus 2019 23:01

Seberapa Peduli Netizen Indonesia dengan Isu Disabilitas?

Dokter gigi Romi
Dokter gigi Romi Syofpa Ismael, yang kelulusannya dianulir dalam seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS). Foto: Retno Wulandhari/kumparan
Ketika Jepang tengah memilih dua anggota parlemen pertama dari penyandang disabilitas yakni Eiko Kimura dan Yasuhiko Funago yang diidentifikasi sebagai penyandang disabilitas kronik, Indonesia justru sedang menangani diskriminasi disabilitas oleh pemda Solok Selatan yang menganulir drg Romi sebagai PNS.
ADVERTISEMENT
Dua isu itu terutama yang menjadi sorotan dalam perbincangan dengan kata kunci ‘disabilitas’ di Twitter yang berhasil didokumentasikan dari dengan software big data analysis Drone Emprit selama periode 2 Agustus hingga 9 Agustus 2019. Dua Tweet dari dua akun Twitter media tradisional yakni @BBCIndonesia dan @republika ini menjadi bagian dari tema perbicangan dari 2.801 Tweet yang muncul selama periode tersebut.
Meski setelah perjuangan panjang akhirnya ditetapkan sebagai PNS, namun kasus ini mencerminkan masih rendahnya perhatian pemerintah terhadap hak kesetaraan disabilitas di Indonesia.
Apa yang menimpa pada drg Romi bertentangan dengan UU No 8 tahun 2016 yang mengatur tentang hak-hak Disabilitas tentang ketenagakerjaan yang meliputi: 1) Disabilitas bekerja sebagai hak asasi mansia; 2) Pemerintah, pemerintah daerah, BUMN dan BUMD wajib mempekerjakan penyendang disabilitas 2 persen dari total pekerja; 3) Swasta wajib mempekerjakan penyandang disabilitas 1 persen dari total pekerja.
ADVERTISEMENT
Hak disabilitas di Indonesia secara hukum memang terus mendapatkan perhatian. Berdasarkan website Australia-Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), Indonesian telah memiliki sekitar 84 peraturan mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri hingga peraturan daerah yang mengatur tentang perlundungan terhadap disabilitas di Indonesia. Kendati demikian, aplikasi di lapangan ternyata masih mengalami kendala.
Artikel ini ingin melihat tentang perhatian masyarakat terhadap isu disabilitas dengan melihat perbincangan yang terjadi di Twitter yang didokumentasikan dengan software drone emprit selama sepekan sebagaimana disebut di atas.
Beberapa hal yang akan dilihat dalam artikel ini yakni pertama tentang data statistik perbincangan tentang disabilitas di Twitter. Kedua tentang tema apa saja yang diperbincangkan dan memiliki tingkat exposure tinggi dan yang terakhir tentang refleksi kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kasus disabilitas yang terefleksi dari data tersebut.
ADVERTISEMENT
Buzzer map di bawah ini menunjukkan bahwa perbincangan tentang disabilitas merata dilakukan oleh netizen pengguna Twitter dari berbagai kota di seluruh wilayah Indonesia, namun lebih banyak terpusat di Jawa dan Sumatera. Tersebarnya letak demografi ini sekaligus menunjukkan diskusi disabilitas ini mengarah pada perbincangan nyata masyarakat Indonesia dan bukan sekadar dijalankan oleh akun-akun tertentu semata yang biasanya terpusat di titik tertentu.
demografi.jpg
Buzzer map yaitu lokasi dimana Tweet dibuat
Sementara itu, grafis di bawah ini menunjukkan bahwa jumlah tweet terbanyak terjadi pada hari Rabu (7/8/2019) dengan jumlah tweet sebanyak 1.058 buah (dari total 2.801 tweet yang diproduksi selama seminggu) yang kemudian menurun pada 10 Agustus 2019. Setelah dilihat perbincangan yang muncul, puncak tweet di tanggal 7 bukan karena memperbincangkan kasus drg Romi, tetapi karena viralnya tweet milik @ogiklo tentang sopir ojek online yang ternyata disabilitas. Sementara kasus dtg Romi telah muncul sejak awal.
mention.jpg
Grafis yang menunjukkan jumlah Tweet yang diproduksi selama seminggu
Berikut ini adalah tweet @ogiklo yang menjadi perhatian di Twitter. Meski pun ini tidak secara langsung terkait dengan isu drg Romi, namun pada kurun waktu bersamaan kasus kasus tentang disabilitas lain dibicarakan yakni tentang kesempatan kerja yang di tweet oleh @Fadlizon yang menjadi pembicara seminar tentang disabilitas. Jika drg Romi menjadi perbincangan setelah mendapat pemberitaan dari media mainstream, maka kasus sopir ojek online disabilitas ini diviralkan oleh netizen.
tweet ojol.jpg
Tweet akun @ogiklo yang viral di Twitter menceritakan tentang pengemudi ojek online yang menderita disabilitas pendengaran
Data di atas menunjukkan bahwa netizen bisa saja lebih efektif dalam membangun opini untuk mengemansipasi disabilitas dibandingkan dengan media mainstream. Sementara data di bawah ini memperlihatkan bahwa tweet yang diviralkan oleh @ogiklo didominasi retweet yang pada dasarnya membahas dan mendiskusikan disabilitas masih dangkal. Hal ini dikarenakan perbincangan yang dibahas masih sebatas menyebarkan saja dan bukan membangun diskusi lebih dalam.
ADVERTISEMENT
Dari data menunjukkan yang melakukan reply atau membalas hanya 5.18 persen, sementara yang mem-mention sebesar 21.6 persen dan yang melakukan retweet sebanyak lebih dari 70 persen.
tweet retweet.jpg
Jumlah RT, Reoly dan Mentions
Dalam konteks perbincangan tentang disabilitas retweet mungkin tidak mewakili diskusi yang memadahi. Namun viralnya isu ini tetap menunjukkan perhatian masyarakat tentang kasus disabilitas. Meski demikian jika dilihat pada grafis perbandingan di bawah ini, isu disabilitas memang kalah dibanding dengan isu tentang ‘akses listrik’. Namun demikian isu disabilitas pada saat yang bersamaan mengalahkan perbincangan isu lain seperti FPI dan emansipasi perempuan.
tweet retweet compare.jpg
Perbandingan grafis Tweet dengan kata kunci 'disabilitas' dengan isu lain
Meskipun retweet menjadi kelemahan, kedangkalan diskusi tentang disabilitas, namun ada sisi menarik yang dapat dilihat dari Social Network Analysis (SNA) yang menunjukkan bahwa aktor yang membangun diskusi ternyata tersebar dalam banyak isu dan beragam aktor. SNA menunjukkan konsistensi dengan data sebelumnya tentang akun @ogiklo yang mendapat retweet tinggi dari pengguna Twitter lain yang mana akun ini membentuk klik tersendiri yang terpisah dengan aktor lain.
ADVERTISEMENT
Sementara itu aktor-aktor lain yang menyiratkan keragaman aktor dan keragaman tema memperlihatkan bahwa perbincangan disabilitas berlangsung secara sporadis dan buka sebatas mobilisasi massa. Keragaman tema yang dibicarakan juga terlihat dari banyaknya hashtag yang dibuat sebagaimana dijelaskan dalam bagian akhir tulisan ini.
image.png
Social Network Analysis dengan kata kuncu disabilitas dalam kurun waktu 2 - 9 Agustus 2019
Media mainstream memperluas exposure isu disabilitas
Satu hal yang penting dalam keberhasilan penyebaran opini publik adalah eksposure atas kasus. Artinya tingginya eksposure ditentukan oleh jumlah follower akun-akun Twitter yang memproduksi dan menyebarkan isu tertentu tersebut. Dalam kasus ini perbincangan tentang disabilitas banyak mendapatkan support dari akun-akun resmi media mainstream yang memiliki follower diatas 1 juta, sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini. Meskipun hanya sebagian kecil, namun konten yang dibuat oleh media mainstream inilah yang menjadi bahan bagi para netizen–yang dalam grafis terutama yang ber-follower di bawah 10 juta– untuk menjadi bahan diskusi dengan pemilik akun lain.
image.png
Grafis pengguna Twitter yang terlibat dalam perbincangan online di Twitter dengan jumlah follower
Media maintream yang menjadi bagian dari diskusi disabilitas terutama yang memberitakan tentang permasalahan drg Romi, aplikasi untuk disabilitas dan kesetaraan hak kerja disabilitas, sebagaimana terlihat pada bagan di bawah ini. Di bawah ini adalah situs berita yang paling banyak di-share oleh netizen di Twitter.
ADVERTISEMENT
Selain lima situs media online di atas, masih ada banyak situs lain yang juga menyediakan konten yang menjadi bahan perbincangan netizen terkait isu disabilitas seperti republika.co.id, korantempo.co, antaranews.com, radar, kompasiana, kumparan.com, dan lain sebagainya.
Media mainstream ini tentunya berfungsi sebagai aktor yang menyediakan materi perbincangan yang lebih mendalam dibandingkan dengan isu yang dibawa netizen seperti @ogiklo, meski isu yang dibawa netizen juga memiliki angle yang menarik. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa diskusi disabilitas di Twitter berlangsung dengan support isu yang dibuat oleh netizen dan oleh media mainstream. Kedua aktor ini saling mendukung satu sama lain untuk membangun pemahaman masyarakat tentang disabilitas .
Isu yang dibicarakan dari hashtag yang muncul
ADVERTISEMENT
Hashtag di bawah ini menunjukkan tema-tema yang dibicarakan oleh para netizen. Ada lima hashtag dengan diskusi terbanyak yakni 'sinaru' yang membicarakan tentang aplikasi mitigasi bencana untuk anak-anak dan disabilitas tuna rungu, InfoBDG membicarakan tentang pemberitaan pikiran rakyat.com tentang Tarif bus Trans Metro Bandung sebesar Rp 1 untuk Veteran, Disabilitas, Buruh, dan Guru Honorer.
Selain mengapresiasi kebijakan tersebut, netizen juga membicarakan tentang buruknya akses terhadap disabilitas di sarana transportasi umum. Hashtag PNS dan disabilitas membicarakan tentang drg. Romi yang gagal menjadi PNS karena disabilitas sementara hashtag ValidNih mendiskusikan tentang pernyataan Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial (Kemensos), Edi Suharto, tentang pendekatan disabilitas dengan menyerahkan pada lembaga menambah penderitaan karena terpisah dari keluarga.
image.png
Hashtag yang terbentuk dalam perbincangan di Twitter dengan kata kunci disabilitas selama kurun waktu 2 - 9 Agustus 2019
Tulisan ini ingin membuat beberapa kesimpulan didasarkan pada analisis big data yang didapat dari drone emprit ini.
ADVERTISEMENT
Pertama isu disabilitas telah menjadi perhatian di ruang maya yang menunjukkan perhatian masyarakat Indonesia, pemerintah, dan media terhadap kelompok rentan ini.
Kedua aktor yang memproduksi konten terdiri dari dua elemen utama yakni media mainstream yang memberikan ruang untuk pemberitaan disabilitas, dan netizen yang secara pribadi menginformasikan tentang pengalaman interaksinya dengan kelompok disabilitas. Kedua aktor ini membawa semangat yang sama yakni tentang emansipasi disabilitas yang secara garis besar memiliki tujuan untuk mendorong dijaminnya hak-hak disabilitas.
Ketiga kedua aktor yakni media mainstream dan netizen tidak berperan sendiri dalam mendiskusikan kasus ini. Ada hubungan jaringan, misalnya konten media mainstream yang kemudian digunakan sebagai bahan diskusi netizen di Twitter dan sebaliknya isu yang dibawa netizen diangkat oleh media mainsream.
ADVERTISEMENT
Tema-tema yang beragam yang dilihat dari hashtag dan aktor yang sporadis yang terlihat di SNA dan letak geografi netizen yang tersebar di seluruh kota di Indonesia menunjukkan bahwa diskusi tentang disabilitas merupakan diskusi yang alamiah yang tidak sekadar diskusi yang dimobilisasi. Artinya kesadaran masyarakat akan isu ini telah membentuk proses diskusi demikian.
Dengan demikian, Twitter telah berperan sebagai ruang diskusi untuk mendukung emansipasi disabilitas di Indonesia. Jika aktor-aktor yang bergerak semakin banyak dengan konten yang memadahi Twitter memiliki potensi besar untuk menjadi ruang pergerakan bagi perjuangan persamaan hak disabilitas di Indonesia.
Penulis:
Dr. Nurul Hasfi, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Undip, saat ini sedang meneliti tentang disabilitas dan partisipasi politik online di Indonesia
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan