KNEKS Dorong Sinergi dan Transformasi Digital PRM melalui IDD 2026

Seorang mahasiswa pascasarjana yang sedang menempuh studi di bidang Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam di Universitas Indonesia.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Nurul Hasna Khoirunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta, 15 Oktober 2026 – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) terus mendorong percepatan transformasi digital dan penguatan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan ekosistem Pariwisata Ramah Muslim (PRM) Indonesia melalui kegiatan Islamic Digital Day (IDD) 2026, yang diselenggarakan dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, pada Kamis (15/10).
Berdasarkan laporan Mastercard–CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, Indonesia berhasil naik tiga peringkat dan menempati posisi kedua dunia sebagai destinasi wisata ramah Muslim, bersama Arab Saudi dan Turki, dengan skor 79. Capaian ini menunjukkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam persaingan destinasi wisata ramah Muslim global.
Dari sisi ekonomi, kontribusi sektor PRM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga menunjukkan perkembangan positif. Pada Triwulan II 2026, kontribusi PRM tercatat mencapai Rp369,44 triliun atau 5,64% terhadap PDB, meningkat dibandingkan Triwulan I 2026 sebesar Rp347,47 triliun atau 5,62%.
Capaian tersebut menjadi momentum untuk terus memperkuat pengembangan PRM, tidak hanya melalui kesiapan destinasi dan fasilitas pendukung, tetapi juga melalui pemanfaatan teknologi digital yang mampu meningkatkan aksesibilitas, kualitas layanan, dan daya saing pariwisata Indonesia.
Mengusung tema “From Click to Trip: Membangun Ekosistem PRM yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan”, Islamic Digital Day 2026 sebagai bagian dari rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 hadir sebagai ruang dialog strategis yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri pariwisata, perusahaan teknologi, serta pemangku kepentingan lainnya untuk membahas penguatan ekosistem digital PRM yang terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan sektor pariwisata ramah Muslim sebagai salah satu prioritas dalam Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2025–2029. Seiring dengan perubahan perilaku wisatawan yang semakin bergantung pada layanan digital, penguatan konektivitas informasi, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di tingkat global.
Dalam keynote speech-nya, Direktur KNEKS, Ir. H. Putu Rahwidhiyasa, MBA, menekankan pentingnya memastikan bahwa pengembangan pariwisata ramah Muslim tidak berhenti pada perumusan kebijakan dan penyediaan fasilitas, tetapi juga diwujudkan melalui keterhubungan layanan digital yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh wisatawan dan pelaku usaha.
From Click to Trip: Membangun Pengalaman Wisata yang Terintegrasi
Dalam arahannya, beliau menyoroti bagaimana perkembangan teknologi digital telah mengubah perjalanan wisatawan, mulai dari pencarian inspirasi destinasi, perencanaan perjalanan, pemesanan akomodasi, hingga pembayaran layanan wisata.
“Kalau kita berbicara tentang perjalanan wisata, sebuah perjalanan wisata sebenarnya tidak lagi dimulai ketika kita tiba di bandara. Tapi sebenarnya sudah dimulai pada saat membuka layar ponsel,” ungkap Pak Putu dalam sambutannya.
Bagi wisatawan Muslim, transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemudahan mengakses layanan perjalanan, tetapi juga dengan kepastian ketersediaan makanan halal, fasilitas ibadah, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan Muslim.
Melalui tema From Click to Trip, KNEKS menekankan perlunya keterhubungan layanan pariwisata sejak tahap pencarian informasi hingga pengalaman wisata di destinasi. Keterhubungan tersebut membutuhkan sinergi antara kebijakan pemerintah, kesiapan industri, pemanfaatan teknologi, serta pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Dalam konteks tersebut, KNEKS berperan memfasilitasi sinergi kebijakan dan koordinasi lintas pemangku kepentingan untuk mendorong pengembangan ekosistem PRM yang semakin terintegrasi dan berdaya saing.
Beliau juga menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh wisatawan, pelaku usaha, dan masyarakat.
Laman Indonesia.travel sebagai gerbang menuju destinasi PRM
Sejalan dengan penguatan ekosistem digital PRM, Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata RI, Dr. Masruroh, S.Sos., MAB., turut memaparkan strategi pemerintah dalam mengembangkan layanan pariwisata ramah Muslim melalui pendekatan Connect, Trust, dan Enable.
Ketiga pendekatan tersebut menekankan pentingnya integrasi berbagai platform digital, penyediaan informasi yang kredibel dan tepercaya, serta pemanfaatan teknologi untuk memberdayakan pelaku usaha dan masyarakat lokal.
Beliau menekankan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam sektor pariwisata perlu didukung oleh sumber data yang terverifikasi untuk memastikan keakuratan informasi bagi wisatawan. Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata telah berupaya mengintegrasikan in
formasi dari sumber resmi pemerintah, termasuk BPJPH untuk informasi sertifikasi halal.
Sebagai implementasinya, Kementerian Pariwisata telah mengembangkan landing page khusus Muslim Friendly Travel pada platform www.indonesia.travel yang didukung oleh inovasi “MaiA” sebagai travel planner dan travel companion berbasis kecerdasan buatan.
Kementerian Pariwisata juga menekankan bahwa integrasi layanan digital tidak harus dilakukan dengan membangun platform baru secara terpisah, tetapi melalui keterhubungan dengan platform pelaku industri dan penyedia jasa pariwisata yang telah tersedia.
Digitalisasi PRM Menunjukkan Pertumbuhan Positif
Dalam paparannya, beliau turut menyampaikan perkembangan positif pemanfaatan platform digital pariwisata ramah Muslim. Berdasarkan data Google Analytics 4 periode 21 April–20 Juli 2026, halaman Muslim Friendly Travel pada Indonesia.travel mencatat 12.426 kunjungan atau meningkat 624,13 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Peningkatan juga terlihat pada sejumlah kategori konten, khususnya halaman Events yang tumbuh sebesar 1.383,72 persen dan Islamic Attraction sebesar 617,58 persen. Hal ini menunjukkan meningkatnya eksposur informasi wisata ramah Muslim melalui kanal digital.
Dari sisi jangkauan pasar, Indonesia masih menjadi negara dengan jumlah pengunjung terbesar. Namun, kunjungan signifikan dari Australia, India, dan Belanda turut menunjukkan peluang pengembangan PRM kepada pasar internasional yang lebih luas, termasuk negara-negara yang bukan mayoritas Muslim.
Capaian tersebut memperlihatkan potensi optimalisasi platform digital dalam memperluas akses informasi wisata sekaligus meningkatkan visibilitas dan transaksi pada destinasi PRM Indonesia.
Islamic Digital Day 2026 Dorong Kolaborasi dan Dampak Ekonomi Berkelanjutan
Melalui Islamic Digital Day 2026, KNEKS menekankan bahwa penguatan ekosistem digital PRM perlu diarahkan untuk menciptakan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi UMKM, desa wisata, dan pelaku usaha lokal.
Transformasi digital diharapkan mampu memperluas keterlibatan masyarakat dalam rantai nilai industri pariwisata, meningkatkan akses pasar, serta mendorong pemerataan kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi potensial di Indonesia.
Upaya tersebut sejalan dengan tema besar ISEF 2026, yakni “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital.”
KNEKS berharap Islamic Digital Day 2026 tidak hanya menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi juga mampu menghasilkan rekomendasi strategis dan membuka peluang kerja sama konkret dalam memperkuat ekosistem digital PRM nasional.
Melalui semangat From Click to Trip, sinergi antara pemerintah, industri pariwisata, penyedia teknologi, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi pariwisata ramah Muslim yang berdaya saing global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
