Riyadh Diserang, Jemaah Umrah Indonesia Diimbau Pantau Jadwal Penerbangan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Umat muslim berdoa saat melakukan tawaf umrah wajib di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Selasa (19/5/2026). Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Umat muslim berdoa saat melakukan tawaf umrah wajib di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Selasa (19/5/2026). Foto: Ibraheem Abu Mustafa/REUTERS

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengimbau Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Arab Saudi, termasuk jemaah umrah, untuk menghindari lokasi atau area rawan menyusul serangan ke Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, imbas ketegangan Houthi vs Saudi.

Juru bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, meminta WNI tetap tenang, menjaga keselamatan diri, serta mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi.

Masyarakat juga diimbau membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama di kawasan yang terdampak perkembangan situasi keamanan.

instagram embed

“Kami mengimbau WNI di Arab Saudi, termasuk jemaah umrah, untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Hindari lokasi rawan, patuhi aturan yang berlaku, serta ikuti arahan otoritas setempat. Keselamatan harus menjadi prioritas,” ujar Ichsan, Senin (12/10), dikutip dari Antara.

Ichsan mengingatkan WNI agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi dan tidak menyebarluaskan kabar yang berpotensi menimbulkan keresahan.

Masyarakat diminta mengutamakan informasi resmi dalam menentukan aktivitas maupun perjalanan selama berada di Arab Saudi.

Peta Arab Saudi dan Yaman. Foto: Diolah dengan ChatGPT

Bagi jemaah umrah yang masih berada di Arab Saudi, Kemenhaj meminta agar tetap berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), memantau informasi perjalanan, serta mengikuti arahan keselamatan dari otoritas setempat.

Penyelenggara perjalanan umrah juga diharapkan memastikan kondisi jamaah terpantau dan menyampaikan informasi penting secara berkala.

Bagi Jemaah Umrah yang Belum Terbang

Ilustrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Foto: onyengradar/shutterstock

Sementara itu, bagi jemaah umrah yang belum berangkat ke Arab Saudi, pemerintah mengimbau agar terus memantau perkembangan situasi dan informasi resmi terkait perjalanan.

Jemaah diminta berkoordinasi dengan PPIU untuk memastikan jadwal, status penerbangan, serta kesiapan keberangkatan. Jemaah juga diharapkan tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Kami meminta jemaah yang belum berangkat untuk terus berkoordinasi dengan penyelenggara perjalanan dan memastikan informasi keberangkatan melalui sumber resmi. Ikuti arahan pemerintah dan jangan ragu meminta penjelasan kepada penyelenggara apabila ada perubahan jadwal atau ketentuan perjalanan,” kata Ichsan.

Houthi Tak Sasar Madinah dan Makkah

Sistem pertahanan udara Patriot menjaga Makkah pada musim haji 2025. Foto: Dok. Kemhan Arab Saudi

Dikutip dari Reuters, kelompok Houthi sebelumnya telah merilis pernyataan resmi melalui media sosial X:

Kami memperbarui peringatan kami kepada seluruh maskapai penerbangan, karyawan, pekerja, dan wisatawan agar tidak menggunakan bandara dan ruang udara Arab Saudi, karena area tersebut rentan terhadap serangan dan telah menjadi wilayah operasi bagi pasukan kami, dengan pengecualian bandara di (kota-kota suci) Makkah dan Madinah."

Kami mendesak semua orang untuk menanggapi peringatan kami secara serius, dan Arab Saudi bertanggung jawab atas setiap kegagalan pencegatan (interception).

Yang lebih buruk masih akan terjadi.

Adapun jarak Makkah ke Riyadh sekitar 870 km, sedangkan Madinah ke Riyadh sekitar 840 km (melalui jalur darat/jalan bebas hambatan).

Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara pengirim jemaah umrah terbesar di dunia, bersama Pakistan dan Mesir.

Latar Belakang Konflik

Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi sendiri berakar dari Perang Saudara Yaman yang memanas sejak 2014. Kala itu kelompok Houthi merebut ibu kota Sana'a dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Perkembangan tersebut memicu intervensi militer dari koalisi yang dipimpin Arab Saudi pada Maret 2015 guna mendukung pemerintahan yang diakui secara internasional.

Perang yang dinilai PBB sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia ini kerap dipandang sebagai perang proksi regional.

Houthi sering melancarkan serangan rudal dan drone lintas batas ke fasilitas energi serta bandara di Arab Saudi, sementara koalisi merespons dengan serangan udara dan pembatasan laut-udara di wilayah Yaman.