Sejumlah Jemaah Umrah Jadi Korban Serangan di Bandara Riyadh, Arab Saudi

Sejumlah jemaah umrah turut menjadi korban dalam serangan yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Serangan yang diklaim oleh kelompok Houthi tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik yang kembali memanas di Yaman.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat sejumlah jemaah umrah yang mengenakan pakaian ihram tengah bersiap untuk naik ke pesawat.
Video lainnya memperlihatkan para jemaah duduk di ruang tunggu, sebelum serangan tiba-tiba menghantam dan membuat situasi di terminal bandara porak-poranda.
Media lokal Saudi Gazette melaporkan bahwa bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, bandara-bandara di Arab Saudi memiliki arti lebih dari sekadar pusat transportasi.
"Bandara adalah gerbang menuju Makkah dan Madinah, yang menyambut para jemaah yang datang ke Saudi demi mencapai pemenuhan spiritual," tulis laporan tersebut pada Senin (12/10).
Rangkaian serangan ke Bandara Riyadh memakan banyak korban jiwa dan luka-luka, baik warga negara Saudi maupun asing. Serangan pada 6-7 Oktober menewaskan 3 orang, diikuti serangan hari berikutnya yang juga merenggut 3 korban jiwa.
Pada serangan hari Sabtu (10/10), tercatat 13 orang tewas dan 309 orang luka-luka, sementara serangan pada hari Minggu (11/10) ada 1 korban tewas.
Dikutip dari Reuters, kelompok Houthi sebelumnya telah merilis pernyataan resmi melalui media sosial X:
Kami memperbarui peringatan kami kepada seluruh maskapai penerbangan, karyawan, pekerja, dan wisatawan agar tidak menggunakan bandara dan ruang udara Arab Saudi, karena area tersebut rentan terhadap serangan dan telah menjadi wilayah operasi bagi pasukan kami, dengan pengecualian bandara di (kota-kota suci) Makkah dan Madinah."
Kami mendesak semua orang untuk menanggapi peringatan kami secara serius, dan Arab Saudi bertanggung jawab atas setiap kegagalan pencegatan (interception).
Yang lebih buruk masih akan terjadi.
Atas serangan Houthi, Arab Saudi yang memimpin Koalisi Pemulihan Legitimasi di Yaman melancarkan serangan balasan. Pada Jumat malam misalnya, koalisi menyasar 136 target militer kelompok Houthi di Yaman.
Latar Belakang Konflik
Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi sendiri berakar dari Perang Saudara Yaman yang memanas sejak 2014, ketika kelompok Houthi merebut ibu kota Sana'a dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Perkembangan tersebut memicu intervensi militer dari koalisi yang dipimpin Arab Saudi pada Maret 2015 guna mendukung pemerintahan yang diakui secara internasional.
Perang yang dinilai PBB sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia ini kerap dipandang sebagai perang proksi regional.
Houthi rutin melancarkan serangan rudal dan drone lintas batas ke fasilitas energi serta bandara di Arab Saudi, sementara koalisi merespons dengan serangan udara dan pembatasan laut-udara di wilayah Yaman.
