New Mommy Gen Z "Berguru" ke Parenting Influencer?

Seorang Mahasiswa Universitas Pamulang, Jurusan S1 Ilmu Komunikasi.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Nurul Istakhalafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi ibu untuk pertama kalinya itu rasanya campur aduk, ada bahagianya, tapi jujur saja, bingungnya juga banyak. Bayangkan situasi ini jam dua malam, bayi tiba-tiba terbangun dan menangis menjerit-jerit tanpa alasan. Bagi seorang ibu baru, momen seperti ini pasti bikin panik setengah mati.
Kalau zaman dulu, solusinya mungkin tinggal ketuk pintu kamar orang tua atau besok paginya langsung nanya ke tetangga sebelah rumah. Namun, bagi ibu muda Gen Z hari ini, ceritanya sudah berbeda. Gawai di genggaman adalah penolong pertama. Cukup buka YouTube, Instagram atau TikTok, ratusan solusi instan langsung muncul di layar. Fenomena ini membuat kita berpikir, mengapa ibu muda sekarang lebih memilih layar HP ketimbang mengobrol dengan lingkungan sekitar?
Alasan Parenting Influencer Lebih Memikat Dibanding Teras Rumah
Media Sosial Jadi Tempat Curhat yang Aman
Perubahan tempat mengadu dari obrolan teras rumah ke layar HP ini bukan cuma ikut-ikutan tren, melainkan karena kondisi zaman yang memang sudah berubah. Banyak ibu muda sekarang yang hidup merantau di kota besar, jauh dari keluarga, dan tinggal di lingkungan yang cenderung sibuk sendiri-sendiri. Nyari teman nasib di dunia nyata itu ternyata tidak mudah.
Kecenderungan para ibu baru yang lebih memercayai dunia digital ini dibuktikan oleh riset ilmiah dari Universitas Airlangga yang dimuat dalam Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIMS). Riset tersebut menemukan bahwa media sosial kini telah bergeser fungsi menjadi ruang aman safe space bagi perempuan untuk mencari dukungan emosional tanpa takut dihakimi. Bagi seorang ibu baru, mengobrol di teras rumah terkadang terasa melelahkan karena risiko dibanding-bandingkan atau dikritik. Sebaliknya, interaksi di dunia virtual menawarkan kenyamanan psikologis yang lebih besar, di mana mereka bisa mencari jawaban sendirian secara bebas.
Dan salah satu alasan utama masyarakat kita membuka media sosial adalah untuk mencari informasi praktis dan tips seputar kehidupan sehari-hari, termasuk urusan domestik dan pengasuhan.
Menjembatani Tradisi Lama dengan Logika Modern
Daya tarik utama dari para parenting influencer adalah kemampuan mereka menjelaskan ilmu mengasuh anak dengan cara yang masuk akal. Selama ini, nasihat tradisional dari lingkungan sekitar sering kali berbentuk larangan atau mitos kaku yang kadang tidak nyambung dengan dunia medis. Hadirnya para pembuat konten di media sosial berhasil mengubah hal itu menjadi lebih segar.
Sekarang, menganggap platform video pendek seperti TikTok sebagai tempat belajar informal yang sangat efektif. Lewat video yang singkat dan menarik, cara asuh yang rumit diubah menjadi panduan praktis yang gampang dicoba di rumah.
Para ibu baru diajarkan trik sleep training agar anak bisa tidur teratur, hingga cara melatih anak makan sendiri tanpa drama disuapi sambil keliling kompleks. Konten dari para influencer ini seolah memberikan dukungan moral yang jarang didapatkan dari obrolan teras, bahwa menjadi ibu yang baik tidak berarti harus mengorbankan waktu istirahat dan kebahagiaan diri sendiri.
Usaha Menjadi Teman Tumbuh Kembang Anak
Lebih jauh lagi, menilai kedekatan para ibu muda dengan dunia digital ini sebagai bentuk kesadaran mereka untuk menyiapkan diri menjadi orang tua yang lebih siap dan paham kebutuhan anak. Media sosial memberikan mereka akses langsung ke ilmu psikologi anak yang dulu sulit didapatkan kalau cuma mengandalkan nasihat turun-temurun.
Pentingnya informasi yang akurat, melihat bahwa akun parenting besar sangat membantu memenuhi kebutuhan info harian para ibu secara cepat dan tepat. Karena para influencer ini sering bekerja sama dengan dokter anak atau psikolog, info yang dibagikan jadi punya dasar medis yang jelas dan tepercaya.
Lewat cara ini, para ibu baru belajar menerapkan positive parenting. Mereka memilih merespons tangisan anak dengan lembut ketimbang memakai bentakan yang mungkin dulu dianggap biasa di lingkungan lama. Lewat layar HP yang sederhana, mereka sedang berusaha membesarkan anak dengan penuh kasih sayang dan kesadaran.
Pilihan ibu baru Gen Z untuk lebih memilih "berguru" ke parenting influencer ketimbang mengobrol di teras rumah adalah hal yang wajar dan punya banyak dampak positif. Tentu, tetap harus "pintar-pintar" menyaring informasi. Namun, kita tidak bisa menampik bahwa di tengah malam yang sepi, kehadiran para influencer ini sukses menjadi teman yang meyakinkan para ibu muda bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
