Generasi Alpha: Lahir Bersama Layar, Belajar dengan Cara Berbeda

Mahasiswa aktif Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nurul Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak sulit menemukan anak yang mampu mengoperasikan gawai sebelum lancar membaca. Mereka terbiasa menonton video pendek, mencari informasi melalui internet, dan berinteraksi dengan teknologi sejak usia dini. Bagi sebagian orang, kondisi ini sering dianggap sebagai tanda bahwa anak-anak masa kini semakin sulit fokus, mudah bosan, dan terlalu bergantung pada layar. Namun, yang sering luput dari perhatian adalah kenyataan bahwa Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang memang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.
Anak-anak yang saat ini memenuhi bangku sekolah dasar sebagian besar berasal dari Generasi Alpha, yaitu generasi yang lahir ketika teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengenal teknologi secara bertahap, Generasi Alpha justru lahir ketika internet, media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan berbagai perangkat digital sudah tersedia sejak awal kehidupan mereka.
Jika generasi sebelumnya masih mengalami perubahan dari telepon genggam sederhana menuju smartphone, Generasi Alpha tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat. Dalam hitungan bulan bahkan tahun, berbagai inovasi baru terus bermunculan. Kecerdasan buatan yang beberapa tahun lalu masih terdengar asing kini dapat membantu mencari informasi, menjawab pertanyaan, hingga membuat berbagai jenis konten. Perubahan yang begitu cepat ini turut membentuk cara generasi muda menerima informasi dan memahami dunia di sekitarnya.
Selain itu, kehadiran platform seperti TikTok dan YouTube Shorts membuat anak-anak semakin terbiasa menerima informasi dalam waktu singkat. Sebagian besar konten yang mereka konsumsi hanya berdurasi beberapa detik hingga beberapa menit. Tanpa disadari, pola ini ikut membentuk cara mereka belajar dan memahami dunia mereka sendiri. Karena itu, ketika banyak guru mengeluhkan siswa yang sulit berkonsentrasi atau cepat kehilangan minat dalam pembelajaran, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya mengapa siswa berubah, tetapi juga apakah cara belajar di sekolah sudah berkembang mengikuti perubahan generasi yang sedang dihadapi.
Belajar di Tengah Arus Informasi Digital
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital pada anak usia dini sudah menjadi fenomena yang nyata. Sebanyak 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen lainnya telah mengakses internet. Jika dirinci berdasarkan usia, terdapat 37,02 persen anak usia 1–4 tahun yang sudah menggunakan gawai dan 33,80 persen di antaranya telah mengakses internet. Pada kelompok usia 5–6 tahun, angkanya bahkan meningkat menjadi 58,25 persen pengguna gawai dan 51,19 persen pengguna internet.
Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi bukan lagi sesuatu yang diperkenalkan ketika anak memasuki usia remaja. Bagi Generasi Alpha, teknologi sudah hadir sejak masa awal pertumbuhan mereka. Mereka tumbuh dengan layar yang selalu berada di sekitar mereka, baik melalui telepon genggam orang tua, tablet, televisi pintar, maupun berbagai perangkat digital lainnya.
Fenomena tersebut bahkan telah mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong upaya perlindungan anak di ruang digital, termasuk pembahasan mengenai pembatasan akses media sosial bagi anak-anak. Kehadiran kebijakan ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku digital anak bukan sekadar asumsi, melainkan realitas sosial yang sedang dihadapi masyarakat saat ini.
Di saat yang sama, anak-anak juga semakin akrab dengan berbagai platform video pendek. Informasi disajikan dalam hitungan detik, visual yang menarik, serta alur yang cepat. Akibatnya, mereka terbiasa memperoleh jawaban secara instan. Ketika ingin mengetahui sesuatu, mereka dapat mencari melalui Google, menonton video singkat di YouTube, atau bahkan bertanya langsung kepada kecerdasan buatan.
Kondisi ini membuat belajar tidak lagi dipahami hanya sebagai aktivitas yang terjadi di ruang kelas. Bagi Generasi Alpha, pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber yang tersedia di layar mereka setiap hari. Namun, di sinilah tantangan baru pendidikan muncul. Ketika informasi begitu mudah diakses, tugas pendidikan bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, melainkan membantu peserta didik memahami, menyaring, dan mengkritisi informasi yang mereka temukan.
Ketika Cara Mengajar Perlu Beradaptasi
Perubahan ini tidak berarti Generasi Alpha tidak mampu belajar secara mendalam. Mereka hanya tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Karena itu, tantangan pendidikan hari ini bukan mengembalikan mereka menjadi seperti generasi sebelumnya, melainkan menemukan cara belajar yang sesuai dengan realitas sosial yang mereka hadapi.
Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran John Dewey yang menyatakan bahwa pendidikan bukan sekadar persiapan untuk kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Artinya, ketika masyarakat mengalami perubahan, pendidikan juga perlu menyesuaikan diri agar tetap relevan dengan pengalaman peserta didik.
Dalam konteks Generasi Alpha, perubahan teknologi telah mengubah cara anak memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga memahami dunia. Maka, institusi pendidikan juga dituntut untuk melakukan penyesuaian. Cara mengajar yang efektif pada generasi sebelumnya belum tentu dapat memberikan hasil yang sama pada generasi saat ini.
Hal ini bukan berarti guru harus bersaing dengan teknologi atau menggantikan seluruh proses pembelajaran dengan perangkat digital. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu proses belajar yang lebih kontekstual, interaktif, dan dekat dengan pengalaman peserta didik. Guru tetap memiliki peran penting yang tidak dapat digantikan oleh mesin, yaitu membimbing, membangun karakter, menanamkan nilai, serta melatih kemampuan berpikir kritis.
Sayangnya, tuntutan adaptasi ini sering kali dibebankan sepenuhnya kepada guru. Ketika siswa dianggap sulit fokus atau tidak tertarik pada pembelajaran, guru menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal, perubahan sebesar ini tidak dapat diselesaikan oleh individu semata.
Tantangan Generasi Alpha seharusnya menjadi tanggung jawab bersama lembaga pendidikan. Sekolah, pemerintah, dan berbagai institusi pendidikan perlu memastikan bahwa para pendidik mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya sesuai kebutuhan zaman. Tujuannya bukan menggantikan guru yang sudah ada dengan generasi baru yang lebih akrab dengan teknologi, melainkan membantu para guru beradaptasi dan berkembang bersama perubahan yang sedang terjadi.
Guru yang telah mengabdi bertahun-tahun tidak seharusnya ditinggalkan karena perubahan zaman. Justru yang diperlukan adalah dukungan agar mereka mampu memahami karakter peserta didik masa kini dan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari proses pembelajaran yang lebih efektif.
Pada akhirnya, Generasi Alpha memang lahir bersama layar dan belajar dengan cara yang berbeda. Mereka tumbuh dalam dunia yang penuh informasi, serba cepat, dan terus berubah. Karena itu, perubahan cara belajar yang mereka tunjukkan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan sesuatu yang perlu dipahami.
Tantangannya bukanlah bagaimana membuat Generasi Alpha kembali belajar seperti generasi sebelumnya, tetapi bagaimana dunia pendidikan mampu menerima realitas tersebut dan mengolahnya menjadi peluang. Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan masa depan tetaplah pendidikan yang mampu membimbing generasi ini untuk berpikir kritis, bertanggung jawab, dan bijak dalam menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh dari layar yang menemani kehidupan mereka sejak lahir.
