Konten dari Pengguna

Ketika Guru Menjadi Korban Bullying: Refleksi dari Drakor Teach You a Lesson

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi guru yang mengalami tekanan akibat perilaku siswa yang mengabaikan proses pembelajaran. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guru yang mengalami tekanan akibat perilaku siswa yang mengabaikan proses pembelajaran. Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Teach You a Lesson menjadi salah satu drama Korea yang ramai diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir. Di media sosial, berbagai potongan adegan dari drama ini banyak dibagikan karena menampilkan konflik yang cukup berbeda dari drama sekolah pada umumnya. Drama tersebut memperlihatkan bagaimana sekolah yang seharusnya menjadi ruang belajar justru dipenuhi oleh perundungan, kekerasan, dan relasi yang tidak sehat antara warga sekolah.

Sekilas, apa yang ditampilkan dalam Teach You a Lesson mungkin hanya dianggap sebagai bagian dari alur cerita yang dibuat untuk menarik perhatian penonton. Namun, semakin jauh mengikuti kisahnya, drama ini justru menjadi pengingat bahwa perundungan di lingkungan pendidikan bukanlah persoalan yang jauh dari realitas. Bahkan, berbagai kasus yang muncul dalam drama tersebut memiliki kemiripan dengan persoalan yang masih sering ditemukan di Indonesia.

Selama ini, ketika membicarakan bullying di sekolah, perhatian publik lebih banyak tertuju pada siswa sebagai korban. Padahal, tanpa disadari, bullying juga dapat menimpa guru.

Bullying Tidak Hanya Menimpa Siswa

Bentuk bullying terhadap guru sebenarnya beragam. Mulai dari ejekan, penghinaan, pelecehan verbal, penyebaran konten di media sosial untuk mempermalukan guru, hingga tindakan fisik yang mengancam keselamatan mereka. Dalam beberapa kasus, guru tidak hanya kehilangan kewibawaannya sebagai pendidik, tetapi juga menjadi korban yang mengalami tekanan psikologis akibat perlakuan siswa.

Fenomena ini bukan sekadar cerita dalam drama. Pada 2026, publik menyoroti kasus di Purwakarta ketika sejumlah siswa terbukti melakukan tindakan yang merendahkan seorang guru hingga videonya beredar luas di media sosial. Kasus tersebut menunjukkan bahwa guru juga dapat menjadi korban bullying di lingkungan sekolah. Bentuknya tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga penghinaan, pelecehan verbal, dan tindakan yang bertujuan mempermalukan korban di hadapan orang lain. Ketika perilaku seperti ini dianggap sebagai candaan atau hiburan, batas antara kenakalan dan bullying menjadi semakin kabur.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa bullying di dunia pendidikan tidak hanya terjadi antarsiswa, tetapi juga dapat terjadi antara siswa dan guru. Ketika guru menjadi sasaran bullying, dampaknya tidak berhenti pada individu yang menjadi korban. Rasa takut, trauma, dan tekanan psikologis yang muncul dapat memengaruhi semangat mengajar, keberanian untuk menegakkan aturan, hingga kemampuan guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dan pembentuk karakter peserta didik. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka kualitas lingkungan belajar juga akan ikut terdampak.

Mengapa Perundungan terhadap Guru Bisa Terjadi?

Salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan adalah kuatnya pengaruh media sosial dalam kehidupan generasi saat ini. Media sosial memungkinkan informasi disebarkan dengan sangat cepat, tetapi tidak selalu disertai dengan pemahaman terhadap konteks yang sebenarnya. Tidak jarang publik langsung memberikan penilaian berdasarkan potongan video atau narasi yang beredar tanpa mengetahui keseluruhan peristiwa yang terjadi.

Dalam situasi tertentu, sebuah peristiwa di ruang kelas dapat direkam, dipotong, lalu diunggah ke media sosial dengan sudut pandang tertentu. Akibatnya, fakta yang sebenarnya terjadi bisa berubah menjadi narasi yang berbeda di mata publik. Guru yang sedang menjalankan tugasnya menegakkan aturan dapat dengan cepat menjadi sasaran hujatan dan perundungan di ruang digital.

Selain itu, terdapat perubahan dalam relasi otoritas di lingkungan sekolah. Hubungan yang lebih terbuka antara guru dan siswa memang merupakan perkembangan yang positif. Namun, dalam beberapa kondisi, keterbukaan tersebut justru membuat batas antara sikap akrab dan sikap hormat menjadi semakin kabur. Sebagian siswa tidak lagi melihat guru sebagai sosok yang perlu dihargai secara moral, melainkan hanya sebagai individu yang dapat diperlakukan sama seperti teman sebaya.

Di sisi lain, normalisasi candaan yang berlebihan juga menjadi penyebab yang sering luput dari perhatian. Mengejek guru, menjadikan guru sebagai bahan lelucon, atau mempermalukan guru di depan teman-teman sering kali dianggap sebagai hiburan. Padahal, tindakan tersebut merupakan bentuk bullying yang dapat menimbulkan dampak psikologis bagi korbannya.

Fenomena ini menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendasar, yaitu melemahnya pendidikan karakter dan empati. Ketika rasa hormat, sopan santun, dan kepedulian terhadap orang lain mulai memudar, maka perilaku yang seharusnya dianggap salah justru dapat dianggap sebagai hal yang biasa.

Persoalan ini bahkan telah mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Pada 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerbitkan aturan tentang perlindungan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dari berbagai bentuk kekerasan dan perundungan. Kehadiran kebijakan tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap guru bukan lagi persoalan yang dapat dianggap sepele atau hanya terjadi dalam kasus-kasus tertentu. Guru juga memiliki hak untuk bekerja dalam lingkungan yang aman, terlindungi, dan terbebas dari intimidasi, baik secara langsung maupun melalui media digital.

Melalui Teach You a Lesson, penonton diajak melihat bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi semua pihak. Perlindungan tidak hanya diberikan kepada siswa, tetapi juga kepada guru yang menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Teach You a Lesson tidak hanya mengajak penonton melihat berbagai bentuk perundungan yang terjadi di sekolah, tetapi juga mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap kondisi lingkungan pendidikan di sekitar kita. Selama ini, perhatian sering kali tertuju pada kasus-kasus yang viral, sementara berbagai bentuk perundungan yang dianggap biasa justru luput dari perhatian.

Sudah saatnya kita melihat kembali apakah seluruh pihak yang berada di lingkungan sekolah benar-benar mendapatkan rasa aman. Tidak hanya siswa, tetapi juga guru, orang tua, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan seluruh aktor yang terlibat dalam proses pendidikan. Sebab, pendidikan yang baik tidak dapat tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi rasa takut, tekanan, atau penghinaan terhadap pihak tertentu.

Perlu menjadi perhatian bukan hanya tindakan bullying itu sendiri, melainkan ketika bullying mulai dinormalisasi dalam kehidupan sekolah. Ketika ejekan dianggap sekadar candaan, ketika penghinaan dianggap hiburan, atau ketika mempermalukan seseorang dianggap hal yang wajar, saat itulah masalah yang sebenarnya sedang tumbuh. Bullying tidak lagi dipandang sebagai perilaku yang salah, tetapi perlahan berubah menjadi budaya yang diterima.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, sekolah akan kehilangan fungsinya sebagai ruang yang membentuk karakter dan nilai-nilai kemanusiaan.