Seratus di Desa, Seratus di Kota: Benarkah Prestasinya Setara?

Mahasiswa aktif Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Jakarta.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Nurul Khairunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan dua siswa mendapat nilai 100 dalam ujian yang sama. Siswa pertama bersekolah di desa dengan fasilitas belajar terbatas. Siswa kedua belajar di kota, dengan akses lebih mudah terhadap buku, internet, bimbingan belajar, dan berbagai kegiatan akademik. Nilai mereka sama. Namun, apakah kesempatan yang mereka miliki untuk mencapai nilai itu juga sama?
Nilai dapat menunjukkan hasil belajar seorang siswa, tetapi tidak selalu menceritakan proses di baliknya. Ada dukungan keluarga, lingkungan sekolah, fasilitas, dan kesempatan belajar yang ikut membentuk pengalaman pendidikan setiap anak.
Nilai Sama, Kesempatan Berbeda
Perbedaan kesempatan belajar bisa dilihat dari data pendidikan Indonesia. Dalam Statistik Pendidikan 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Angka Kesiapan Sekolah (AKS) anak di perkotaan lebih tinggi sekitar 5,12 poin persentase dibandingkan anak di perdesaan. BPS juga mencatat angka putus sekolah di perdesaan lebih tinggi daripada di perkotaan pada setiap jenjang pendidikan.
Angka-angka ini bukan bukti bahwa siswa kota pasti lebih pintar atau berprestasi lebih tinggi. Namun, data tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman dan akses pendidikan belum sepenuhnya setara.
Persoalan serupa dibahas oleh Benediktus Vito, Hetty Krisnani, dan Risna Resnawaty dalam tulisan Kesenjangan Pendidikan Desa dan Kota. Mereka menyoroti keterbatasan transportasi, fasilitas sekolah, dan ketersediaan guru di wilayah perdesaan. Pembahasan tersebut membantu menjelaskan mengapa lingkungan belajar perlu diperhitungkan saat membandingkan prestasi siswa, meskipun tulisan itu bukan penelitian kuantitatif terbaru yang membandingkan nilai siswa desa dan kota.
Seorang siswa mungkin harus belajar dengan buku yang terbatas atau akses internet yang tidak stabil. Siswa lain bisa mengikuti bimbingan belajar, menggunakan laboratorium, mengakses beragam materi, dan berlatih untuk kompetisi. Keduanya sama-sama punya potensi, tetapi ruang untuk mengembangkan potensi itu tidak selalu tersedia dalam kadar yang sama.
Fasilitas memang tidak menentukan kecerdasan seseorang. Siswa dari sekolah dengan sarana terbatas tetap bisa meraih prestasi tinggi, sementara fasilitas lengkap tidak menjamin setiap siswa mendapat nilai bagus. Masalah ada ketika keterbatasan akses membuat sebagian siswa harus berusaha lebih keras hanya untuk memperoleh kesempatan belajar yang bisa didapatkan siswa lain dengan lebih mudah. Jika berlangsung terus-menerus, perbedaan kesempatan ini berpotensi memperlebar kesenjangan capaian pendidikan.
Prestasi dan Garis Start yang Tidak Sama
Seorang siswa yang mendapat nilai 100 di desanya mungkin merasa sudah menguasai materi dengan baik. Ketika pindah ke kota atau mengikuti kompetisi di tingkat kota, ia bisa bertemu siswa lain yang memiliki nilai sama, tetapi terbiasa mengerjakan soal tambahan, mengikuti bimbingan khusus, atau berlatih dalam lingkungan akademik yang kompetitif. Ia tidak otomatis kalah mampu. Bisa jadi, pengalaman belajarnya memang berbeda.
Situasi ini berkaitan dengan konsep stratifikasi sosial dan ketimpangan kesempatan pendidikan dalam sosiologi pendidikan. Tempat tinggal dan kondisi ekonomi dapat memengaruhi akses terhadap sumber belajar. Pendidikan memang berpotensi menjadi jalan mobilitas sosial, tetapi kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan itu tidak selalu terbagi secara merata.
Karena itu, membandingkan prestasi hanya melalui nilai bisa menyembunyikan persoalan yang lebih besar. Dua siswa dengan hasil yang sama belum tentu mendapat dukungan dan kesempatan yang setara. Begitu pula, perbedaan nilai tidak serta-merta menunjukkan bahwa salah satu siswa memiliki kemampuan alami yang lebih rendah.
Pemerataan pendidikan perlu lebih dari sekadar mendorong semua siswa memperoleh nilai tinggi. Sekolah membutuhkan guru yang memadai, fasilitas belajar yang layak, akses teknologi, dan kesempatan mengikuti kegiatan akademik di luar kelas. Siswa di daerah dengan sumber daya terbatas juga perlu memperoleh ruang yang sama untuk mengembangkan kemampuannya.
Seratus tetaplah seratus, tetapi jalan untuk mencapainya bisa berbeda. Pendidikan yang adil bukan berarti semua siswa harus mendapatkan hasil identik. "sistem" harus memastikan bahwa tempat tinggal dan latar belakang mereka tidak membatasi kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
