Aliran Bektashi: Penyimpangan atau Spiritualitas?

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Nurul Lailatul Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana menurutmu mengetahui fakta atau fenomena yang memang benar adanya di kehidupan nyata tentang kepercayaan yang ganjil? Atau melenceng dari agama yang sebenarnya. Tarekat Bektashi, cabang agama Islam yaitu aliran Syiah yang paling ganjil. Mereka percaya Allah, Rasul dan Al-Quran. Tetapi meminum alkohol dan lebih memuja Ali bin Abi Thalib, bahkan membuat patungnya.
Mari mengenal komunitas Bektashi yang berada di Tirana, Albania. Komunitas Bektashi adalah sebuah tarekat sufi yang berakar dari ajaran Haji Bektash Veli, yaitu seorang tokoh mistik asal Persia yang tinggal di Anatolia pada abad ke-13. Setelah abad ke-15 tarekat ini berkembang dengan pesat di wilayah Kekaisaran Ottoman, dan memiliki pengaruh besar di kalangan militer elit Janissari. Namun, pengaruh mereka menurun drastis setelah pembubaran Janissari pada tahun 1826 dan pelarangan tarekat sufi oleh Kemal Ataturk di Turki pada 1925, yang menyebabkan markas besar Bektashi berpindah ke Albania.
Kalau kalian pernah mendengar cabang Syiah aliran Alevi di Turki. Bektashi ini merupakan masih erat kaitannya dengan aliran tersebut. Hubungan ideologis dan spiritual Bektashi Albania dengan aliran Syiah di Turki, terutama Alevi, terlihat dari kesamaan ritual, penghormatan kepada Imam Ali, serta praktik-praktik sufi yang menekankan kesatuan eksistensi dan spiritualitas batin.
Bektashi dikenal sebagai tarekah Syiah dengan pengaruh sufisme yang sangat kental. Mereka meyakini Dua Belas Imam dan menghormati tokoh-tokoh utama dalam tradisi Syiah seperti Imam Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein. Penghormatan kepada Ali bin Abi Thalib dalam Islam memang dianjurkan, terutama dalam tradisi Syiah yang menempatkan Ali sebagai imam dan penerus spiritual Nabi Muhammad. Namun, jika penghormatan tersebut berubah menjadi pemujaan yang melebihi batas atau menyamakan Ali dengan Allah atau Nabi, maka hal itu bertentangan dengan tauhid (keesaan Allah) dalam Islam dan dapat dikategorikan sebagai syirik atau kesesatan
Kalau inti dari kepercayaan Islam adalah Tauhid. Sedangkan, inti dari tarekah Bektashi adalah Wahdatul Wujud, yaitu sebuah ajaran yang meyakini bahwa penyatuan Tuhan dengan wujud makhluknya, aliran ini berkeyakinan bahwa wujud Allah dan makhluknya satu, istilah lainnya dari kesatuan wujud adalah hulul hanya saja kerangkanya agak berbeda namun substansinya tetap sama.
Maksudnya mereka percaya bahwa Allah ada di mana-mana, pernyataan ini menimbulkan dibantah dan disalahkan langsung di dalam Al-Quran surat Al-Araf ayat 54:
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas arasy1. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam."
Dari penyataan ayat tersebut sudah jelas bahwa Allah berada di atas arasy di langit ke-7. Karena Allah terlalu agung bila di sebut ada di mana-mana. Misalnya, seperti di tempat-tempat kotor atau tempat yang tidak berharga lainnya.
Selain itu mereka juga memiliki ritual yang bernama "Semah" dimana mereka menari dengan musik dan tarian ini adalah bentuk mereka mendekatkan diri kepada Allah. Sangat jauh ajarannya dari agama Islam yang sesungguhnya, yang mengajarkan bahwa untuk kita dapat mendekatkan diri kepada Allah, maka dapat dilakukan dengan cara beribadah seperti shalat, membaca Al-Quran, berzikir, berdo'a, bersyukur, dan menjalankan ibadah sunnahnya.
Meskipun beberapa tarekat sufi menggunakan musik dan tari sebagai bagian dari zikir atau dhikr, praktik ritual menari dengan musik "Semah" ini sering dipandang kontroversial dan oleh sebagian ulama dianggap tidak sesuai dengan sunnah dan bisa menimbulkan kesesatan.
Intinya agama Islam cabang Syiah yaitu aliran Bektashi yang telah dijelaskan pada perspektif penulis, segala bentuk penyimpangan dan tidak sesuai dengan ajaran Islam yang benar dianggap menyesatkan.
Wallahualam.
Nurul Lailatul Husna, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang.
