Konten dari Pengguna

Inovasi Kreatif : Seni Pelestarian Lingkungan Berasal dari Pohon Dahon

Nurul Mardhiah

Nurul Mardhiah

Dosen di PSDKU Universitas Padjadjaran

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Mardhiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi : Tim Malahasiswa Administrasi Bisnis K.Pangandaran (EDLYBLU) berkolaborasi dengan Batik Dahon
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi : Tim Malahasiswa Administrasi Bisnis K.Pangandaran (EDLYBLU) berkolaborasi dengan Batik Dahon

Pangandaran selama ini dikenal sebagai surga wisata bahari di Jawa Barat. Namun, di balik keindahan pantainya, kini muncul sebuah identitas baru yang semakin menguat: Pangandaran sebagai pusat kreativitas yang ramah lingkungan. Identitas ini salah satunya terwakili melalui produk lokal yang unik dan memiliki nilai filosofi mendalam, yaitu Batik Dahon.

Batik Dahon bukan sekadar kain, melainkan sebuah souvenir estetik yang menjadi representasi utuh dari seni, budaya, dan komitmen terhadap lingkungan.Batik Dahon berasal dari Desa Margacinta, Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Berbeda dari batik konvensional, motifnya tidak dibuat dengan canting dan lilin, melainkan melalui teknik ecoprint. Teknik ini menggunakan dedaunan, bunga, dan buah-buahan dari alam sekitar, seperti daun jati, mahoni, dan tentunya buah Dahon (sejenis pohon nipah) yang menjadi nama produk ini.

Motif yang tercetak pada kain adalah wujud seni yang lahir dari kreativitas para pengrajin. Setiap helai batik memiliki pola unik yang tak akan pernah sama persis, karena berasal dari cetakan alami daun-daun yang berbeda. Keunikan ini menjadi daya tarik tersendiri, membuat setiap produk terasa eksklusif dan personal.

Di balik keindahan visualnya, Batik Dahon juga menyimpan kekayaan budaya. Proses pembuatannya yang manual dan menggunakan bahan-bahan lokal mencerminkan kearifan tradisional masyarakat Pangandaran dalam memanfaatkan kekayaan alam. Batik ini menjadi jembatan antara tradisi leluhur dan inovasi kreatif masa kini.Salah satu nilai tertinggi dari Batik Dahon adalah filosofi keberlanjutan. Dalam prosesnya, produk ini sepenuhnya ramah lingkungan. Pewarna yang digunakan berasal dari bahan alami, seperti kulit kayu dan buah dahon, bukan pewarna sintetis yang berpotensi mencemari air dan tanah.

Tas berbahan Batik Dahon

Penggunaan teknik ecoprint juga menunjukkan komitmen untuk menjaga kelestarian alam. Para pengrajin memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah tanpa merusaknya. Bahkan, nama "Dahon" diambil dari pohon yang tumbuh subur di sekitar sungai air payau di Pangandaran, menunjukkan bagaimana mereka menjadikan kekayaan lokal sebagai inspirasi utama.

Produk Batik Dahon tidak terbatas pada kain lembaran. Berbagai produk kreatif telah dikembangkan, mulai dari tas, topi, syal, hingga sepatu. Desainnya yang modern dan estetik membuatnya cocok digunakan dalam gaya sehari-hari, tidak hanya sebagai cinderamata yang disimpan.

Dengan memilih Batik Dahon sebagai souvenir, wisatawan tidak hanya membawa pulang kenang-kenangan, tetapi juga turut serta mendukung ekonomi kreatif lokal dan gerakan pelestarian lingkungan.