Inovasi Posyandu-Dari Catatan Kertas ke Basis Data Digital

Dosen di PSDKU Universitas Padjadjaran
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Nurul Mardhiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama ini, Posyandu identik dengan pencatatan manual di atas kertas atau buku yang sering disebut KMS (Kartu Menuju Sehat). Sistem ini, meskipun vital, tak luput dari kendala: data hilang, pencatatan yang tidak seragam, atau analisis yang lambat. Akibatnya, intervensi dini terhadap anak berisiko stunting sering kali terlambat.
Di Desa Kertayasa , paradigma ini diubah. Melalui program percontohan, pelayanan Posyandu kini beralih ke platform HealthTech. Para kader menggunakan aplikasi digital untuk mencatat setiap data pertumbuhan anak, mulai dari berat badan, tinggi badan, hingga lingkar kepala. Semua data ini terintegrasi secara real-time ke dalam sebuah sistem.
Platform "KertayasaHealth" ini juga dilengkapi dengan fitur edukasi. Orang tua tidak lagi hanya menerima informasi saat kunjungan Posyandu. Melalui aplikasi, mereka bisa mendapatkan tips gizi, resep makanan sehat untuk balita, hingga jadwal imunisasi. Informasi ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan spesifik anak, menjadikan edukasi gizi lebih personal dan berdampak.
Keberhasilan di Desa Kertayasa menunjukkan bahwa digitalisasi pelayanan kesehatan di tingkat desa bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah kebutuhan. Inovasi ini tak hanya mempercepat penanganan stunting, tetapi juga meningkatkan efisiensi kerja para kader dan bidan. Mereka kini bisa fokus pada pelayanan langsung, bukan lagi pada urusan administrasi yang memakan waktu.
Langkah ini adalah bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat bisa menciptakan solusi inovatif yang memberdayakan. Ke depannya, model digitalisasi Posyandu di Kertayasa diharapkan dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Pangandaran maupun seluruh Indonesia. Dengan demikian, target Indonesia bebas stunting di tahun-tahun mendatang bisa tercapai.
