Masih Bagus, Tapi Kenapa Kita Tetap Cari yang Baru?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nurul Qomariyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah nggak sih, merasa sudah punya sesuatu yang cukup tapi tetap tergoda mencoba yang baru?
“Masih bagus, sih.”

Biasanya kita berhenti di situ. Ngelihat barang yang kita punya, sadar sebenarnya belum perlu diganti… tapi beberapa menit kemudian tetap buka marketplace, tetap scrolling, tetap cari yang baru.
Aneh, ya.
Bukan karena rusak. Bukan juga karena nggak cukup. Tapi rasanya kayak ada dorongan kecil yang bilang, “coba lihat yang lain dulu deh.”
Dan kalau dipikir-pikir, dorongan itu makin sering muncul belakangan ini.
Mungkin karena sekarang kita terlalu sering “lihat yang lain”.
Setiap hari kita kebanjiran hal-hal baru. Dari yang lewat di media sosial sampai yang muncul di iklan. Bukan cuma soal barang tapi juga cara orang hidup, cara mereka berpakaian, tempat yang mereka datangi, hal-hal yang mereka capai.
Semuanya terlihat menarik. Lebih fresh. Lebih “update”.
Pelan-pelan, tanpa sadar, kita mulai membandingkan.
Awalnya ringan. Cuma lihat-lihat. Tapi lama-lama jadi kepikiran juga, “punya kita kok biasa aja, ya?”
Padahal sebelumnya nggak ada masalah.
Yang bikin berubah bukan barangnya. Tapi cara kita melihatnya.
Dulu, satu barang bisa dipakai lama tanpa banyak mikir. Sekarang, belum juga lama, sudah muncul rasa bosan. Bukan karena kualitasnya turun, tapi karena kita sudah terlalu terbiasa.
Dan ketika sesuatu sudah terasa biasa, kita mulai kehilangan rasa “senang”-nya.
Akhirnya kita cari lagi di tempat lain.
Kadang bentuknya kecil—beli hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat, coba sesuatu yang lagi tren, atau sekadar pengen ngerasain “punya yang baru”. Di awal, rasanya enak. Ada sensasi segar, kayak ada yang berubah.
Tapi biasanya nggak lama.
Balik lagi jadi biasa. Dan tanpa sadar, kita mulai cari lagi hal baru berikutnya.
Kalau dipikir, capek juga ya.
Tapi kita jarang benar-benar berhenti buat nanya: sebenarnya kita lagi nyari apa?
Soalnya kadang, ini bukan soal barangnya.
Bisa jadi kita lagi jenuh. Lagi capek. Atau lagi ngerasa hidup jalan di tempat. Terus kita berharap, dengan sesuatu yang baru, perasaan itu ikut berubah.
Padahal nggak selalu begitu.
Hal yang sama juga sering kejadian di hubungan. Di awal, semuanya terasa seru chat panjang, perhatian kecil, hal-hal sederhana yang bikin senyum sendiri. Tapi makin lama, semuanya jadi lebih tenang.
Nggak banyak kejutan. Nggak se-intens dulu.
Dan di situ, ada yang mulai merasa, “kok beda, ya?”
Padahal bukan beda. Cuma sudah masuk fase yang lebih stabil.
Yang awalnya deg-degan, jadi nyaman.
Yang awalnya penuh rasa penasaran, jadi saling ngerti.
Tapi karena kita terbiasa menganggap yang “seru” itu yang baru, akhirnya yang tenang malah terasa kurang.
Padahal belum tentu.
Yang lama sering kali nggak menawarkan sensasi. Tapi dia punya sesuatu yang lain—kedalaman. Ada cerita di situ. Ada proses yang sudah dilewati. Hal-hal yang nggak bisa langsung diganti begitu saja.
Cuma ya itu, kita sering nggak sempat melihatnya.
Kita keburu sibuk cari yang berikutnya.
Bukan berarti kita harus berhenti nyoba hal baru. Nggak juga. Wajar kok kalau sesekali pengen sesuatu yang beda. Itu bagian dari hidup juga.
Tapi mungkin, sesekali kita perlu jujur ke diri sendiri.
Ini benar-benar butuh?
Atau cuma lagi pengen sesuatu yang terasa baru?
Karena kalau nggak sadar, kita bisa terus lari ke hal-hal baru tanpa pernah merasa cukup. Selalu ada yang lebih menarik lagi, lebih baru lagi.
Dan yang lama, pelan-pelan jadi terasa nggak penting—padahal mungkin justru itu yang paling berarti.
Mungkin kita nggak harus selalu memilih antara yang lama atau yang baru.
Kadang, kita cuma perlu berhenti sebentar. Lihat lagi apa yang sudah kita punya. Dan sadar, ternyata nggak semuanya harus diganti.
Nggak semua yang baru lebih baik.
Dan nggak semua yang lama… kehilangan nilainya.
