Wanita Modern dan Tradisional dalam Novel Belenggu

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatulah Jakarta
Konten dari Pengguna
30 April 2022 19:06
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Nurul Sinta Dewi Mulyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
(Sumber: dokumen milik pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: dokumen milik pribadi)
Novel Belenggu menceritakan cinta segitiga antara Tono, Tini, dan Yah. Namun, pada akhirnya, Tono hidup menyendiri. Tini dan Yah meninggalkan Tono dan menjalani kehidupannya masing-masing. Dua tokoh yang mencintai Tono memiliki gaya hidup yang berbeda. Perbedaan tersebut membuat Tono bingung dengan kehendak hatinya. Tini adalah istri dari Tono yang memiliki gaya hidup yang modern. Sedangkan Yah adalah teman lama Tono yang memiliki gaya hidup yang tradisional.
ADVERTISEMENT
1. Sumartini (Tini)
Tini adalah istri Tono yang memiliki gaya hidup modern. Hal ini dapat dilihat dari kehidupannya sehari-hari. Bahkan, semasa menjadi mahasiswa, Tini suka berpesta dan populer. Begitupun saat menjadi istri Tono, ia sering mengikuti kegiatan sosial sehingga jarang berada di rumah. Hal tersebut berbeda dengan keinginan Tono yang berharap agar Tini tetap di rumah. Tini merasa tidak adil dengan anggapan bahwa seorang istri tidak boleh keluar malam, sedangkan suaminya suka pergi sendirian. Hal ini dapat dilihat dari percakapannya dengan nyonya Rusdio.
Dalam novel ini Tini ditampilkan memiliki pandangan yang berseberangan. Tini, yang mulai berkenalan dengan ide emansipasi, terbelenggu dalam perjuangannya sebagai aktivis sosial yang justru menjauhkannya dari Tono. Menurut Tini, sebagai istri, perempuan juga berhak untuk “menyenangkan pikiran, menggembirakan hati” karena dia “manusia juga yang berkemauan sendiri”. Tini mengibaratkan istri yang hanya tinggal di rumah sebagai “barang simpanan, berbedak dan berpakaian bersih, sekali setahun dijemur diluar”. Tini menolak situasi yang demikian. Dia menegaskan:
ADVERTISEMENT
“Kami lain, kami bimbing nasib kami sendiri, tiada hendak menanti rahmat laki-laki” (hlm. 53).
Keinginan Tono untuk memiliki istri yang tradisional berbalik dengan Tini. Tono memiliki keinginan untuk mempunyai istri yang berwawasan tradisional untuk menjaganya. Istri yang selalu ada di rumah ketika Tono pulang. Hal tersebut menjadi pemicu kerenggangan rumah tangga mereka. Perbedaan tujuan dan pemahaman mereka menjadikan perpecahan yang berujung pada perpisahan.
2. Rohayah (Yah)
Rohayah adalah teman lama Tono dari Sekolah Rakyat. Yah bertemu kembali dengan Tono ketika mengetahui bahwa Tono telah menjadi dokter di Batavia dan dia menggoda dokter itu. Pertemuan tersebut menjadikan Yah dan Tono saling jatuh cinta. Cinta Tono tumbuh pada Yah tak lain karena Yah yang berbeda dengan Tini. Yah memiliki pandangan hidup yang masih tradisional. Salah satunya dapat dilihat dari pekerjaannya sebagai penyanyi keroncong. Sopan santun yang dimiliki Yah juga mencerminkan sifat tradisional. Hal tersebut dapat dilihat ketika menyambut Tono.
ADVERTISEMENT
“Dokter, tiadakah panas hari ini? Bolehkah saya tanggalkan baju tuan dokter?” Dia tiada menunggu jawaban dokter Sukartono, dengan segera ditanggalkannya. Sesudah disangkutkannya baju itu dia kembali, lalu berlutut dihadapan Sukartono, terus ditanggalkannya sepatunya, dipasangkannya sandal yang diambilnya dari bawah kerosi Sukartono.”(hlm. 33)
Sesuai dengan judul novel ini, Tono dibelenggu oleh angan-angannya tentang sosok ideal seorang istri dokter yang mestinya dapat membantu dan mendukung profesi suaminya. Perilaku Yah pada Tono, membuatnya luluh. Tono, yang berharap mendapatkan sosok seorang istri seperti demikian, tak menemukan itu pada Tini. Sebaliknya, pada sosok Rohayah, Tono menemukan pemenuhan atas harapan-harapannya akan seorang istri yang tradisional. Seorang istri yang selalu berada di rumah dan menyambutnya ketika pulang kerja.
ADVERTISEMENT
Dua tokoh perempuan yang memiliki kebudayaan berbeda tersebut, memunculkan situasi yang cukup kompleks. Adanya ide-ide baru seperti emansipasi, yang berkaitan dengan kebebasan dan pembebasan dapat memunculkan situasi yang tidak terduga. Misalnya seperti yang dialami Tini. Ia yang harus menanggung resiko atas pemikirannya itu.